blog*spot
get rid of this ad
[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]
C
E
R
P
E
N

P
I
L
I
H
A
N

P
R
I
B
A
D
I
B
e
l
u
m

S
e
l
e
s
a
i

L
h
o

i
n
i

!!

MAAF DARURAT
Cerpen-cerpen ini
pernah dimuat
atau juga ikut
lomba/sayembara
(sering kalah aja!)


PERINGATAN
DILARANG
MENJIPLAK /
MEMUAT /
MENYADUR /
MENGGANDAKAN /
MENYIARKAN
TANPA IJIN
DARI PENULIS






















AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka
dan pernah mencicipi bangku
pendidikan Arsitektur di
Universitas Atma Jaya
Yogyagyakarta
[www.calonceritapendekis.
blogspot.com
]


=====================
JALINAN KISAH
=====================

ANTOLOGI PERTAMA
ANTOLOGI KEDUA
ANTOLOGI KETIGA
CERPEN MINI
BEDAH CERPEN
ESAI CERPEN
LOMBA CERPEN


* * * * * * *
ARSIP-ARSIP KASIP
* * * * * * *

=====================
JALINAN KATA
=====================

SAJAK SERIUS
SAJAK SLENGEKAN
SAJAK SAYANG
SAJAK PAMFLET

* * * * * * *

=====================
JALINAN KARYA
=====================

KUMPULAN KARTUN
KUMPULAN ILUSTRASI
GAMBAR OBLONG

* * * * * *

=======================
@2003 onoy budak bangka
[
ID YM : sayawahyono]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Alamat e-mail :
sayawahyono
@yahoo.com

=====================















[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]

===============
:: JALINAN JIWA :: ===============
==> Nanang Suryadi
==> Kunti Hasto Rini
==> Hasan Aspahani
==> Qizink dan Dewi Laras Biru
==> Sihar Ramses Simatupang
==> Meli Indie
==> Ramon Damora
==> Pulung Amoria Kencana
==> Sazano
==> Indah Irianti Putri
==> Arwan dan Yulie
==> SN Mayasari H
==> Dobby dan Wida
==> Cecil Mariani
==> Moyank D.I.
==> Randu Rini
==> Adi Susilo Wibowo
==> Arwan Maulana
==> Idaman Andarmosoko
==> Adhika Ninus Annissa
==> Yulianti
==> wida sireum hideung
==> Bleem (e-nya 2 lho)
==> Edsen Medan
==> Tantry
==> Omprit Abrimanyun
==> Ventri Jatinangor
==> Ida Hongkong
==> ERIA
Masih Kosong, Anda berminat?


=====================
JALINAN LAIN
=====================
CYBERSASTRA
BUMIMANUSIA
SARIKATA
INFO CERPEN KORAN

* * * * * *

Name :
Web URL :
Message :






























| + Tuesday, December 19, 2006 + |

Debu-debu Bangunan
[dimuat di harian BATAM POS, 10 Desember 2006]

Matahari sudah tidak lagi melukisi bayang pepohonan liar memanjang hingga di tengah jalan baypass yang sedang saya lewati menuju proyek. Jalan selebar 8 meter masih tanah merah dengan dua jejak roda-roda yang mengeras. Seringkali sepeda motor, sedan, mobil kapsul berplat merah hingga truk-truk besar berkecepatan lebih dari 60 km/jam lalu-lalang, membuyarkan debu-debu yang lantas membungkus saya dan motor saya. Apa boleh buat. Sebab lokasi proyek berada di pertengahan jalan tersebut yang berjarak kira-kira 3 km dari indekos saya.

Saya ingin segera tiba di proyek, meski motor bebek 2 tak keluaran tahun 1975 saya menggelinding tertatih-tatih. Saya khawatir beberapa tamu dari pemerintah daerah bahkan direktur saya mendadak muncul di lokasi untuk meninjau proyek yang saya awasi sejak empat bulan ini. Jangan sampai orang-orang penting itu datang lebih dulu, lantas melihat saya sedang tidak berada di tempat. Bisa berakibat jera mempercayakan saya sebagai pengawas di proyek berikutnya. Bisa-bisa mempengaruhi perjalanan karier saya di saat usia saya baru kepala dua.

Ini proyek uji coba pertama saya. Selama bekerja di konsultan bangunan itu, saya berurusan dengan administrasi, kurir dokumen perencanaan, dan menagih uang kontrak melulu. Karena kekurangan tenaga pengawas lapangan, akhirnya saya yang ditugaskan.

Setiba saya di jalan masuk proyek, tidak terlihat mobil siapa-siapa. Aman, pikir saya. Kecuali sepeda motor bebek 4 tak baru, entah milik siapa. Kemudian saya parkirkan motor di kolong direksi keet, berdekatan dengan tumpukan semen. Tempat paling teduh sebab pepohonan telah disingkirkan oleh buldoser sewaktu pembersihan lokasi proyek, kendati kalau ada pekerja mengambil semen maka motor saya jadi berbedak debu semen.

Di pinggir halaman bangunan yang permukaan tanahnya masih telanjang dan tidak rata tampak Mandor Suryadi tengah bicara dengan seorang pemuda berjaket kulit. Keduanya berdiri dengan sikap kaku. Siapa pula pemuda itu, pikir saya. Tas saya geletakkan begitu saja di atas jok motor, saya bergegas menuju mereka.

Dari jarak 10 meter terlihat air muka Mandor Suryadi tidak menyuguhkan senyum khasnya. Sementara lawan bicaranya menampilkan kening berkerut dan bibir berkerucut. Saya mempercepat langkah hingga setengah berlari. Matahari menjilati kepala dan jaket saya.
“Ada apa, Bos?” tanya saya setelah berjarak kira-kira dua meter dari keduanya.
“Ini lho, Pak Oji. Mas ini minta aku tunjukkan gambar kerja. Padahal sudah aku bilang, gambar kerjanya dibawa bos pemborong tadi malam. Lagian bangunan kita ini kan tinggal dua puluh lima persen lagi rampung. Mas ini nggak percaya. Disangkanya aku bohong. Mau sumpah pocong, aku nggak takut!” jawabnya sambil menoleh ke arah saya. Posisi badannya tetap menghadap pemuda itu. Kicauan burung-burung liar terdengar sayup-sayup.

Saya percaya Mandor Suryadi tidak bohong karena semalam Mandor Suryadi mengirim SMS ke saya. Isinya, mau pinjam gambar kerja yang ada di tempat saya untuk menempatkan setiap titik kuda-kuda. Soalnya tadi malam bos pemborong berencana datang, mengambil gambar kerja untuk menghitung jumlah kayu gording, kayu usuk, reng, dan genteng. Tapi hari ini saya lupa membawanya gara-gara tergesa-gesa datang setelah rampung mencuci sekeranjang pakaian saya sendiri.

Saya berhenti di antara keduanya. Saya menatap pemuda itu. Kebetulan dia sedang menatap saya. Nyala matanya belum reda. Bibirnya menyeringai.
“Mas siapa dan dari mana?”
“Aku dari LSM. Abang siapa?”
“Aku pengawas pembangunan gedung ini.”
“Ooo… gitu.”
“Ya begitu. Mas dari LSM mana?”
“Abang tahunya LSM mana saja?”
“Lho, Anda ini payah. Ditanya kok malah balik nanya.”
“Pokoknya aku mau lihat gambar kerjanya. Apakah terjadi penyimpangan atau tidak. Titik!” tandasnya lantang sembari mengarahkan telunjuk ke tanah, dan melotot ke arah saya. Kuli-kuli yang sedang bekerja spontan berhenti. Mereka menoleh ke arah kami. Mata mereka mengarah ke kami satu persatu. Beberapa dari mereka segera bekerja lagi.
“Misal penyimpangannya apa, Mas?”
“Misalnya … bangunan mengalami retak-retak setelah beberapa bulan diresmikan. Padahal ini, kan, bangunan milik pemerintah daerah. Dananya dari duit rakyat. Itu pasti dampak penyimpangan ketika tahap pengerjaan.”
“Kenapa retak-retak?” tanya saya lirih sambil memutar kepala dan menyodorkan telinga ke arahnya. Sedangkan kedua tangan saya berada dalam saku depan jaket.
“Ya jelas akibat menyimpang!”
“Mas menguasai masalah mekanika bahan dan mekanika teknik, nggak?”
“Mmmm…” Mulutnya mengatup. Mata pun meredup. Dada mundur sepuluh derajat. “Lhooo… jangan cuma menjawab ‘mmmm’ kayak anak kecil mogok makan begitu dong. Menguasai, nggak? Kalau menguasai, kan kebetulan. Barangkali saja ada kesalahan pemakaian jenis atau ukuran bahan untuk struktur bangunan dalam gambar kerja. Kan bisa saja justru gambarnya yang salah, karena arsitek perencanaan memang bukan ahli struktur.”

Dia diam saja. Matanya mengarah ke mana-mana. Sikap kakinya sudah lentur bahkan bergerak-gerak tak menentu. Sikap berdiri Mandor Suryadi pun berubah. Kedua kakinya berposisi santai. Kedua tangannya bertekuk di dada. Air mukanya pun tidak tegang lagi.
“Kalau nggak menguasai, mending belajar berhitung dulu. Buka buku-buku teknik sipil, dan mulailah menghitung struktur. Kalau sudah yakin bisa, kembalilah ke sini. Pembicaraan kita pasti bakal bermutu. Di kantor kami banyak insinyur sipil. Mau belajar di sana, silakan. Baru kelak Mas datang ke sini lagi.”
“Pokoknya…” Nadanya menanjak.
“Ya pokoknya Anda harus nguasai itung-itungan dulu,” serobot saya dengan nada datar dan mengganti sebutan namanya. Nggak usah pakai “mas-masan” lagi, pikir saya.
Dadanya bergerak. Mulutnya menganga. Tapi kata-katanya tersangkut di leher.
“Oh ya, Anda dulu kuliah di jurusan apa? Sarjana apa?”
“Komunikasi. Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.”
“Oooo… cocok sekali Anda bekerja di LSM. Tapi di sini Anda salah jurusan. Coba dulu Anda kuliah di jurusan teknik sipil, kita bisa berdiskusi di sini. Saling belajar.”
“Emangnya Abang dulu kuliah jurusan apa?”
“Seni Tari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.”
“Lho?”
“Hehehehe… Logikanya dipakai dong, Bung,” kata saya sambil tangan kanan menunjuk-nunjukkan pelipis saya sendiri. Mandor Suryadi tersenyum simpul.
“Sialan.”
Kali ini dia bisa tersenyum. Matahari kian membara di atas kami.

“Sudahlah. Mending Anda pulang dulu.”
“Okelah, Bang. Tapi aku mau ngambil beberapa foto dulu, ya?”
“O, silakan. Asal jangan ngambil sisa genteng atau semen di gudang sana.”
Dia menanggapi dengan senyum lebar seraya merogoh saku jaketnya. Sebuah kamera keluar tapi seutas pita tersangkut di situ. Ada nama sebuah koran lokal.
“Sialan! Anda rupanya wartawan ya!”
“Hehehehe… iya, Bang,” jawabnya dengan cengar-cengir seperti maling kepergok sedang mengangkuti jemuran orang, lantas mengeluarkan kartu persnya.
“Sialan. Mau main tipu-tipuan rupanya. Baru jumpa pertama sudah main tipu.”
“Sorry, Bang.”
“Sorry, sorry, sorry!” sergah saya dengan nada agak tinggi. “Aku kira Anda betul-betul dari LSM seperti dua orang yang kemari dua minggu lalu. Lagaknya ya macam Anda ini. Datang-datang minta diperlihatkan gambar proyek. Soal struktur saja nggak ngerti.”

Dia masih cengar-cengir. Mandor Suryadi ikut cengar-cengir.

“Lain kali hati-hati. Suhu di sini bisa mencapai 40 derajat celsius menjelang tengah hari. Kalau Anda nggak pandai-pandai bawa diri, jangan salahkan kawan-kawan kuli yang akan menjadikan diri Anda sebagai campuran bahan untuk pondasi pagar di ujung sana! Atau dikubur hidup-hidup di lubang bekas galian tambang rakyat di semak belukar itu. Daerah ini masih dikepung hutan belantara. Anda hilang, kawan-kawan koran Anda nggak tahu!”
“Sorry, Bang, sorry.” Wajahnya cengengesan.
“Jangan nipu lagi ya! Aku kenal bos koran Anda. Juga beberapa redakturnya. Aku bisa saja menghubungi bos Anda sekarang juga. Aku akan bilang bahwa anak buahnya di wilayah ini berbuat begini-begitu yang buntut-buntutnya minta duit. Aku bisa tulis surat pembaca dan kusebarkan ke koran-koran lokal. Tamatlah karier kewartawanan Anda!”

Badannya sedikit tersentak lagi ke belakang. Matanya melurus ke arah saya. Mungkin dia berusaha mengamati dan mengingat-ingat sesuatu. Mungkin dia merasa kami pernah bertemu di kantornya. Atau pernah melihat wajah saya muncul di korannya. Tapi mana mungkin. Saya tidak suka diri saya difoto oleh wartawan mana saja. Saya pun tidak pernah tampil di acara-acara besar. Entahlah. Yang jelas, matanya berusaha membedahku.

“Abang ini siapa ya sebenarnya?”
“Nah! Nah! Nah! Ini dia!” jawab saya sambil mengacungkan telunjuk lalu menggoyang-goyangkannya, dan kepala saya mengangguk-angguk. “Ternyata Anda tidak mengenal siapa aku. Gawat Anda ini. Padahal tulisan-tulisanku tentang bangunan dan pembangunan daerah selalu dimuat di koran Anda. Bahkan kantor pusat koran Anda di Pangkalpinang itu, siapa arsiteknya. Rumah bos Anda yang megah di dekat bandara Depati Amir juga. Rumah perempuan simpanannya yang di kawasan wisata Pasir Padi juga.”
“Wah! Wah! Wah! Abang ini ternyata tahu banyak luar-dalam bos kami. Padahal aku sendiri tidak tahu apa-apa. Hebat nian bos kami nyimpan rahasia.”
“Tentu saja, Dul. Anak buahnya hanya mau tahu beres. Apa-apa terjamin.”
Dia tersenyum lebar hingga memamerkan gigi depannya yang tidak lengkap lagi. Mandor Suryadi ikut tersenyum. Barangkali burung punai di persembunyiannya pun tersenyum. Kecuali matahari yang semakin beringas membakar kami.
“Kalau aku butuh gadis penghangat ranjang malamku, bos Anda segera menyediakan. Seketika itu juga! Gadis-gadis dari kantor Anda sendiri. Cantik-cantik, seksi-seksi, dan permainan mereka, waow!” seru saya sambil menyapukan lidah di bibir kering saya, dan mengacungkan jempol. “Hot! Bikin ketagihan!”

Dia tidak menimpali, tapi berpaling sejenak ke arah bangunan yang menunggu pengerjaan struktur atap itu. Lalu menghadap saya lagi, dan menanyakan nama saya.
“Namaku Saroji. Ingat ya. Sa-ro-ji! Bos Anda mengenal nama pendekku, Oji!”
“Oooo… ini rupanya Bang Oji itu! Waduh, baru kali ini aku bisa ketemu langsung dengan penulis yang sangat digandrungi staf-staf wanita di kantor kami, termasuk wanita setengah baya di bagian dapur.”
Sialan, maki saya dalam hati. Maaf-maaf saja. Biar tampang saya serampangan begini, saya masih gampang memilih. Tidak sembarangan!
“Namaku Aleksander, Bang. Cukup panggil Alek. Biar jelek tapi intelek, kata orang,” ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.
Segera saya sambut jabat tangannya. Saya mengerti betapa pentingnya arti persahabatan dengan media massa, khususnya koran lokal. Jika ada wartawan yang dianggap cuma menyebarkan gosip murahan, terutama oleh kalangan selebritis lokal atau public figure, sebenarnya konsekuensi logis bagi ‘korban gosip’. Perilaku yang baik dan bersahabat, mana mungkin menjadi bahan berita gosip buruk. Itu menurut prasangka saya saja.
Beberapa kuli melihat adegan jabat tangan kami. Ada yang tersenyum. Ada yang saling menatap sambil cekikikan. Ada yang sama sekali tidak berekspresi. Yang lainnya tidak peduli, kecuali tetap sibuk melakukan pekerjaan mereka.
“Sorry lagi, Bang. Aku mau motret proyek Abang. Sebentar saja. Dua-tiga jepretan,” sela wartawan itu, lantas tergesa-gesa melangkah ke tempat yang diperkirakannya memiliki sudut pandang yang bagus. Mungkin lumayan jadi berita, kendati gagal mendulang duit.

Mandor Suryadi menatap saya. Kedua tangannya telah dimasukkan ke saku depan celananya. Senyum khas kembali melaburi wajahnya.
“Terima kasih, Pak Oji. Untung ada Bapak. Kalau tidak, kami bakal tambah tekor. Minggu lalu harus bongkar dinding yang kurang rapi. Juga ganti kusen depan yang ukurannya lebih kecil lima centi. Bisa-bisa tadi duit bos kami melayang dua juta.”
“Ya, sama-samalah, Bos. Kita, kan, harus bekerja sama di proyek ini. Saling bantu. Tahu sama tahu. He he he he… Yang penting bagaimana lancarnyalah, Bos.”
Kemudian kami berjalan menuju tempat wartawan yang tengah sibuk mengambil obyek. Jarak antara kami dan wartawan itu sekitar 30 meter. Kami harus tetap mengawasi gerak-geriknya. Jangan sampai justru dia yang melakukan penyimpangan.

Selama perjalanan jarak pendek Mandor Suryadi mengungkapkan bahwasannya semalam bos pemborong tidak jadi datang. Kabarnya, bos pemborong sedang sakit gigi. Mungkin giginya harus dicabut lagi. Mungkin kini giginya menyisakan dua geraham belakang. Jadi, gambar kerja masih di ruang Mandor Suryadi, kesimpulan saya. Berarti sumpah pocong tadi cuma trik tradisional untuk menggertak lawan bicara. Sialan!

“Oh ya, ini untuk Bapak. Sekedar mempererat kerja sama kita,” katanya sembari merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu, lalu menyelipkannya di saku depan celana saya. Ini kali ke-18 saya menerima ‘bonus’ di proyek.
“Terima kasih banyak, Bos.”
“Sama-samalah, Pak Oji. Sama rata, sama rasa. Ha ha ha ha…”
“Ha ha ha ha ha…”

Saya dan Mandor Suryadi terus melangkah menuju wartawan muda yang sedang sibuk memotret. Satu-dua perkutut liar melintas di atas kepala kami. Sesekali angin kencang menerpa, menghamburkan debu-debu dari tanah telanjang di sekeliling kami. Tak pelak kami harus menutup mata dan hidung dengan telapak tangan. Resiko yang sering kami alami.

“Tadi nama Bapak kok berubah jadi Saroji? Seingatku, Bapak bernama Maroji seperti yang pernah kutengok di kartu nama Bapak dulu. Gelar Bapak Sarjana Muda Pariwisata, kan?” bisik Mandor Suryadi manakala kami kian mendekati wartawan itu.
“Sssstt, nama Saroji dan Maroji beda-beda tipis, Bos. Sama-sama Oji,” balas bisik saya. “Aku tahu nama Saroji dari pergunjingan kawan-kawan insinyur di kantor.”***

Kobatin, awal Oktober 2005

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 10:35 AM.


Cinta itu Coitus ?
dimuat di Harian Batam Pos, 13 Agustus 2006

Aku berasal dari sebuah kampung temaram yang sedikit agak tersingkir dari kemeriahan kota yang berkubang sinar pelangi malam hari. Setiap melihat atau mendengar secuil saja hal yang baru bagiku, sontak mataku terbelalak, mulutku menganga. Aku sering digelari kawan-kawan baruku, "Orang udik yang heran melihat peradaban mutakhir". Ada yang menyingkat, "Orang heran". Disusul tawa terpingkal-pingkal. Tentu saja aku hanya bisa merespon dengan pipi sewarna tomat matang. Apa daya, mungkin mereka benar.

Belum sampai lima kali kalender berganti aku berada di daerah yang agak bermandi pelangi elektrik ini. Dibanding kampung asalku, daerah yang baru kutinggali ini lebih sering diocehi orang-orang, klakson, knalpot, mesin kendaraan dan sirine. Bahkan omelan itu berhamburan setiap hari, terlebih saat jarum jam hinggap di angka 7, 8, 11, 1, 2, 7, 8. Pada awal aku tinggal di situ, aku sering terbangun. Dadaku berdetak lebih kencang beberapa detik dari biasa. Tanpa ada apa-apa, alam bawah sadarku merekam ocehan-ocehan itu hingga sekonyong-konyong membuncah pada saat rembulan tiga perempat baya.

Setiap kejadian seperti itu, seketika kantukku melesat tanpa alamat. Kucari di lipatan diktat, kusingkap di balik selimut, kusibak di kelopak mataku, tetap saja kantuk itu sudah tak berbekas. Terpaksa aku seperti kera kehilangan ekor. Efeknya, kawan-kawanku cekikikan di kamar mereka. Cekikikan? Ya, dari sebelah kamar kosku pada suatu malam.

"Makanya, Ji, jadi laki-laki musti punya perempuan. Contohnya kami ini."
"Untuk?"
“Ya untuk kalau tiba-tiba kau terjaga semacam itu?”
“Lantas?”
“Ah, kau ini udik betul, Ji Oji. Memalukan pergaulan. “
"Iya tuh, dasar udik kawanmu! Mana bisa hidup di kawasan berkelimpahan lampu!”
“Sssst.., jangan heran, my sweetheart, si Oji memang orang udik, orang heran!”

Aku tersipu oleh sapuan kata-kata itu. Gadis di sebelah kawanku tersenyum terus. Entah sudah terhitung berapa malam gadis itu mengungsi ke kamar kawanku (Mungkin kamar kos gadis itu tiba-tiba diterjang tanah longsor, angin topan, banjir bandang, badai besar, angin bahorok). Entah sudah terhitung berapa kali pakaian dalamnya dijemur di jemuran kami (Aku yakin itu punya dia, karena warnanya merah muda, berenda-renda dan bordir bergambar Desy bebek sedang tertawa ngakak). Entah sudah atau belum kawanku melapor ibu kos kami yang rumahnya di belakang kos kami. (Apa gunanya melapor?)

“Oji, kau sudah pernah pacaran?”
“Sudah. Tapi pacarku ada di kampung." (Aku memang punya pacar. Sungguh).
“Sudah pernah bercinta?"
“Ya jelas. Kami kan saling mencinta.” (Suaraku mantap!)
“Wah, ini dia! Suit suiiiiiiit!”
“Rupanya boleh juga kawan udik Mas ini. Agak sedikit lumayan modern deh.”
“Bercinta begini? Make love?" Kawanku menyelipkan jempolnya di sela pangkal jari telunjuk dan jari tengah. Aku mengerti apa arti simbol itu sejak dari kampungku.
“Bukan. Orangtuaku bilang, sebelum nikah resmi, begituan itu zinah, zinah itu dosa, dosa bakal dihadiahi belerang membara abadi. Masuk neraka." (Seperti juga kata guru agama dan budi pekerti di sekolah dasarku dulu. Ajaran guruku mirip kata-kata orangtuaku)
"Tertipuuuuuuuu!”
“Idiot sekali!”
“Ru-gi, you know!” (Pacar kawanku ikut-ikutan menimpali sambil tersenyum lagi)
“Betul-betul udik! Heran. Engkau tergolong orang-orang merugi, wahai myfriend.”

Aku tersipu lagi. Aku orang merugi? Apakah akibat orangtuaku dan guru agamaku yang membuat perintah keliru, kadaluarsa, kuno, tidak up to date? Perintah ngawur? Apakah juga suatu perintah moral harus dikeluarkan setelah melalui proses studi lapangan di lingkungan anak-anak muda lainnya? Aku tidak habis mengerti atas perbedaan ini.

“Eh, Oji orang heran. Camkan, baik-baik ya. Jaman kini cinta itu coitus.”
“Coitus? Cinta itu coitus?”
“Iya. Coitus itu cinta. Cinta tanpa coitus, itu bukan cinta. Cuma kawan bersapa.”
“Coitus itu apa?" (Kata coitus tidak pernah ada dalam perbincangan orang-orang kampung kami, tidak diajarkan di sekolah hingga kini aku berkuliah di fakultas Ekonomi)
“Ya seperti ini.” (Pacar kawanku memperlihatkan dua jarinya bertemu ujung membentuk lingkaran lalu jari telunjuk satunya masuk di tengah lingkaran kosong itu. Aku tahu apa arti simbol itu dari kawan-kawan kampungku).
“Kamu tahu artinya? Ihik lho.”

Oh! Aku terperanjat. Setahuku, di kampung kami, para perempuan tidak seenaknya seperti pacar kawanku itu. Tidak senonoh. Saru. Tabu. Porno. Bejat. Cabul. Pokoknya bisa disebut perempuan nakal. Bahkan kakak perempuanku, adik perempuanku, anak tanteku dan keponakan perempuanku tidak satu kali pun kulihat berbuat seperti itu. Apa mungkin keluargaku dan kampungku termasuk salah mengamalkan perintah? Aha! Mudik hari raya nanti aku akan bilang ke keluarga dan orang-orang kampung kami, bahwa ada perintah baru di tempat lain yang sesuai peradaban masa kini. (Mereka pernah bilang aku ini pembaharu).***

bumiimajibabarsari, 6 november 2003

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 9:06 AM.


| + Tuesday, January 04, 2005 + |

DI LANGIT TAMAN ADA PURNAMA
(dimuat di Harian RIAU MANDIRI, 05 Desember 2004)

Sudah tiga malam ini saya melihat Susi sering keluar ruang kerja lemburnya menuju taman mini di halaman samping kantor. Lalu di sana ia mendongakkan kepala, menatap angkasa. Sebentar kemudian ia masuk lagi. Berikutnya ia selalu mencari saya disusul dengan satu pemberitahuan “di langit taman kantor ada purnama”.

“Ah, ayolah, Bang Oji, kita keluar dan lihat langit sana,” rengeknya sambil menarik-narik tangan saya mirip anak kecil minta dibelikan boneka.

“Malam ini bukan jatahnya purnama unjuk kebesaran, Sus,” tolak saya karena saya risih sekali.

“Aaaah, Abang belum lihat tapi sudah berkomentar. Nggak percaya lagi!”

“Susi, Susi… Sekarang tanggal berapa sih, kok kau sangka bulan segede telor ceplok itu adalah purnama?”

Kedua ujung bibir Susi beringsut ke bawah. Selanjutnya gadis lajang berusia dua puluh sembilan tahun yang bertubuh setinggi 145 cm itu bergerak ke ruang kerja rekan-rekan lainnya. Hanya bayangannya yang tercetak pada kaca buram dan kepalanya menyundul di sekat setinggi 140 cm yang dipakai sebagai pembatas antar meja kerja. Di sana pun Susi memberitahukan tentang purnama yang tengah bertengger di atas taman.

“Sus, tugasmu belum selesai, kan? Dari kemarin-kemarin tulisanmu hanya berhenti di paragraf pertama. Kapan kamu akan selesaikan? Ingat, deadline tinggal beberapa hari lagi. Pokoknya, awas lho kalau sampai aku kecipratan warning dari bos!” omel rekan kami yang tengah menanggapi ajakan Susi melihat bulan purnama.

***

Susi sedang meggandrungi purnama. Saking gandrungnya, tugas utamanya dalam menulis sebuah feature tentang pelestarian budaya perzinahan melalui kegiatan lokalisasi malah terkena imbas. Terbengkalai. Baru sebatas kata-kata mentah dari pita kaset reportase. Belum diperiksanya dan diolahnya lagi. Meski ia sering diomeli sekretaris redaksi, tetap saja belum ada kemajuan yang penting dalam tugasnya.

“Iya, pasti akan aku bereskan,” jawabnya selalu begitu bila ditagih oleh sekretaris redaksi. “Masak sih nggak percaya aku?”

Begitulah. Kadang saya jengkel. Kadang juga kasihan jika sempat saya lihat kemurungan membalut mukanya. Tapi sering juga saya tidak habis mengerti, bagaimana bisa akhir-akhir ini ia begitu mabuk kepayang pada purnama hingga kehilangan fokus utamanya dalam tugas keredaksionalan. Fokus hari-harinya hanya seputar purnama serta pesonanya, padahal biasanya purnama selalu terbit sekali dalam sebulan. Setiap bertemu siapa, ia akan menceritakan tentang purnama dan purnama. Kalau tidak begitu, Susi tiba-tiba meninggalkan meja dan tugasnya. Ternyata ia sudah berada di taman samping kantor. Dan seringkali dilakukannya. Kepalanya selalu mendongak. Kadang ia menyanyi lirih. Kadang mengucapkan kalimat yang tidak jelas.

Kami sekantor pun akhirnya tidak peduli. Mau purnama, sabit, gerhana atau bulan ambruk sekalipun, terserah. Bagi kami, tak ada yang penting dari ratu langit kelam itu, termasuk soal air muka Susi yang selalu berubah sejak beberapa hari ini. Pasalnya saat ini kami tengah berusaha merampungkan pekerjaan transkrip reportase. Sudah hampir satu minggu ini kami terpaksa lembur, mengejar deadline transkrip wawancara menjadi tulisan. Majalah dua mingguan kami harus terbit tepat waktu.

***

“Bang, purnama bagus sekali lho.”

“Sus, apa kau nggak bisa lihat betapa repotnya aku sekarang?”

“Alaaaa, Abang. Cuma gitu aja langsung sewot pakai bilang ‘repot’ segala.”

“Masa bodoh ah! Makan gih purnamamu! Habisin gih!”

Akhirnya kata-kata kasar meledak di mulut saya. Tiba-tiba raut wajah istri saya terpampang di benak saya. Astaga! Selama menjadi suami bagi seorang perempuan yang lemah lembut dan sopan santun, saya sudah bersusah payah menahan diri untuk tidak membiarkan kata-kata semacam itu mengotori mulut saya hingga menyiprati orang lain. Saya sempat menyesalinya. Sebab, dengan mengucapkan kata-kata kasar tersebut saya sama saja dengan merusak pesona istri saya. Ooooh! Apa boleh buat.

Saya alihkan pandangan pada monitor komputer saya. Saya baca lagi satu per satu hasil tulisan saya. Saya paksa pikiran saya terfokus pada tugas. Saya biarkan Susi bengong di kursi depan meja kerja saya. Mungkin Susi tersinggung. Masa bodohlah.

Saya memang sengaja tidak peduli pada suasana hati saya maupun hati Susi, sebab saya sendiri tengah berjuang merampungkan penulisan keluhan beberapa tokoh petani menjadi sebuah tulisan utuh. Saya berkonsentrasi penuh untuk segera menyelesaikannya dalam waktu dua jam lagi. Saya tidak ingin ditegur atasan hanya gara-gara menanggapi rengekan Susi sembari melupakan kewajiban saya sendiri. Kalau sampai mempengaruhi kepercayaan atasan terhadap disiplin kerja saya, bisa berakibat status kekaryawanan saya ditinjau ulang (dipecat!). Imbasnya, betapa kasihannya istri dan kedua anak saya di rumah.

***

Menjelang istirahat usai lembur, saya sempat melamun soal kejadian tadi. Kata-kata saya pasti terlalu keras, terlalu kasar, menyinggung perasaan perempuan Susi dan bisa malah membuatnya pahit, anti-saya. Saya sangat bersalah. Namun besok-besoknya, manakala magrib telah lama lewat, Susi masih saja datang ke meja kerja saya.

“Bang, purnama masih berlayar di atas atap kantor kita lho. Alangkah indah, gagah, agung dan… ah, luar biasa. Abang pasti belum lihat yang satu itu, kan?”

“Sebenarnya, apa sih hebatnya bulan yang tengah kelaparan itu, Sus?” selidik saya seusai tugas kelar. Setahu saya, sekarang belum saatnya bulan membusungkan diri.

“Kelaparan?”

“Ya. Kena busung lapar, sampai-sampai besar begitu.”

Susi diam. Kedua ujung bibirnya menyudut ke bawah.

“Ada apa dengan bulan purnama, Sus?” tanya saya lagi. Nada suara saya rendah.

“Aku ingin melihatnya. Melihatnya lagi, lagi dan lagi.”

“Kan kau bisa melihatnya sendiri.”

“Nggak mau ah kalau Abang nggak lihat juga. Abang harus lihat juga.”

Deg! Dia mengajak saya? Saya ini laki-laki dan dia perempuan… sesama pekerja di perusahaan surat kabar ini. Perselingkuhan di balik meja kerja, bukan berita bohong. Kini malah berduaan di taman kantor malam-malam ditemani lampu temaram? Apa kelak tidak malah saya dicurigai, lantas membuat masalah baru? Saya dan istri saya sudah bersusah-payah membangun rumah tangga dengan tanggung jawab, kesadaran, kesetiaan, kerja keras, terlebih kini sudah punya dua anak, bisa gawat gara-gara begini

“Lho, kenapa harus aku juga, Sus? Kan masih ada Rosa, Lia, Dewi, Kirana…”

“Ssstttt,” serobotnya sembari menaruh telunjuk jarinya melintangi bibirnya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri sepertinya khawatir didengarkan orang lain. “Aku mau membuktikan sesuatu pada Abang. Abang percaya, nggak?”

“Soal apa?” tanya saya dengan berbisik pula seraya mimik muka saya tampak serius dan saya kendalikan keinginan tertawa sendiri atas sikap pura-pura saya itu.

“Ya soal purnama itu!”

“Iya, emangnya kenapa purnama?”

“Bang, kalau pas purnama, itu artinya dia sedang horny. Nafsunya sedang gila-gilaan. Dia sangat berhasrat untuk bercinta dengan para wanita malam. Dia pasti semakin terangsang sewaktu melihat aku keluar ruang dengan senyum manisku.”

“Walah!”

Saya kira apa, ternyata hanya soal horny. Kalau sudah begitu, saya memilih diam. Tidak berpanjang lebar menanggapi soal ‘begituan’. Pasalnya, Susi sering lepas kendali bila menyinggung soal berahi. Tentu saja saya waspada, dan khawatir jika ada kejadian-kejadian berikutnya yang menjurus pada aib bagi saya sendiri.

Mendadak kebisuan memenggal pembicaraan kami. Kami berdua salah tingkah. Saya sendiri bingung, bagaimana harus bersikap agar lebih melegakan Susi. Serta-merta suasana diserbu suara lagu lirih dari winamp komputer rekan, suara dua rekan yang tengah berbicara pelan, suara ketikan tuts keyboard komputer.

“Ayolah, Bang, kita lihat lagi purnama itu. Mumpung ada di atas kita.”

“Ya ampun, Sus. Apa kau tidak bisa membedakan purnama atau bukan?”

Susi tidak menyahut. Lagi-lagi kebisuan memenggal pembicaraan kami. Serta-merta suasana kembali diserbu suara lagu lirih dari winamp komputer rekan, suara dua rekan yang tengah berbicara pelan, suara ketikan tuts keyboard komputer.

“Eh, Bang,” tegur Susi tiba-tiba, memecahkan tabir kebisuan. “Masih ingat nggak ceritaku tentang dua cowok itu?”

“Masih. Ada perkembangan menarik? Kau diperebutkan mereka?”

“Bukaaaaan!” serobotnya. Rona mukanya pun berubah drastis. Merah padam seperti tomat matang hampir busuk.

“Lantas, apa? Lagian, cerita kau dulu itu singkat amat!”

Maka Susi berkisah lagi, lebih detail daripada kisah pertamanya beberapa minggu lampau. Kedua cowok itu disebutkannya sebagai A dan B. Si A sangat perhatian. Orangnya penuh perhatian, suka menyapa, dan tutur katanya ramah. Susi bersimpati sekali, tapi tidak berani berharap lebih karena A telah bertunangan. Sedangkan B, selain mirip karakter si A, juga belum punya ‘teman gadis’. Suatu kali B mempertanyakan kenapa Susi begitu perhatian pada B melebihi seorang sahabat biasa. Waktu itu Susi berkelit, bahwa dia memperhatikan B biasa-biasa saja. Akibatnya, B tidak lagi sedekat dulu. Kata Susi, B selalu menghindar.

“Itulah yang selama ini membikin aku bingung, Bang. Abang sih mana bisa mengerti problematika perempuan, apalagi seperti aku ini. Cinta jadi misterius.”

“Lantas, apa hubungan si A dan si B itu dengan bulan purnama, Sus?”

“Ehm,” jawab Susi seraya mengerdipkan mata kirinya, lalu beranjak pergi.

***

Malam yang entah ke-berapa. Lampu temaram taman mini di halaman samping kantor berpendar-pendar. Saya sedang dirundung tugas menyunting tulisan dan berita. Sementara Susi tidak berada di tempatnya. Ia sedang berada di taman taman itu seperti malam-malam lampau. Kali ini ia tengah duduk sendiri di atas sebongkah batu sungai di tepi kolam taman yang luasnya hanya 4m2 dengan kedalaman 75 sentimeter. Baju bagian pundaknya sengaja terbuka, mempertontonkan pundak mungilnya yang berkulit mulus. Kepalanya mendongak ke sudut langit. Matanya menancap pada bulatan besar berwarna keperakan. Ia tersenyum sembari menikmati pesona purnama.

“Pangeran,” bisik Susi. Senyumnya perlahan-lahan merekah seiring berbinar-binarnya bulan besar itu. “Aku tahu Pangeran pasti datang dan akan selalu datang.”

“Susi, kenapa kamu masih terus memperhatikan aku seperti itu?”

Susi diam. Hanya senyumnya terus mengembang. Tatapan matanya terus terpusat pada pemantul cahaya surya itu. Ia tidak sabar lagi untuk memeluk dan mengajak bulan purnama itu bercinta di tepi kolam malam ini.

***

Subuh hari saya beserta rekan-rekan lembur dikejutkan oleh kabar dari satpam kantor, “Baru saja saya temukan tubuh Mbak Susi mengambang kaku di kolam taman.”

*******
bumiimaji, 2003

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 9:03 PM.


| + Friday, December 24, 2004 + |

Gawat !
(dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Sabtu, 11 Desember 2004)

Dadaku belum berhenti berdebar tak teratur. Aliran darahku pun masih bergerak cepat. Nafasku agak terengah-engah. Pikiranku terus terpampang berita di televisi tadi bercampur berita-berita beberapa hari lalu, dan telingaku seakan terngiang-ngiang obrolan politikus di televisi, rekan-rekan di kantor, tetangga, saudara-saudaraku, orang-orang di POM bensin, di mal, berinti: orang itu akhirnya jadi ketua pemuka rakyat, menyusul seorang presiden terpilih yang didukungnya.

Gawat! Setahuku, sewaktu kampanye-kampanye dulu, mereka meneriakkan janji-janji perubahan ini-itu, dan tindak pendisiplinan akan dimulai dari tingkat pimpinan karena pimpinanlah yang paling berpengaruh dalam kinerja instansi. Seperti juga kampanye calon-calon lainnya, mereka mau memberantas korupsi sampai tuntas. Bedanya, mantan lawan-lawannya adalah pemain lama yang sekadar mengobral gombal, sedangkan kedua orang ini pemain baru. Dan, menurut cerita anakku yang kini sudah kuliah dan pernah ikut acara dialog kampanye tim suksesnya di sebuah hotel, “pemain baru” ini pernah sekali membuktikan keseriusannya melawan korupsi, yakni ketika masa kampanye mereka memecat anak buah mereka yang ketahuan (setelah melalui tahap cross check) tidak menyalurkan dana dari seorang donatur kaya. Apakah “pemain baru” ini akan konsisten?

Kutatap samar-samar plafon kamarku sambil memikirkan masa depan karierku sebagai salah satu pimpinan di jajaran dinas pemerintah daerah, keluargaku, anak-anakku, kekayaanku, juga bagaimana nasib “simpananku” yang cantik. Di sebelah rebahku, istriku sudah pulas sejak dua jam lalu. Mungkin malah sudah bermimpi tamasya ke Singapura.

Aku menoleh pada jam dinding di atas meja rias istriku. Pukul 01.27. Lalu kuhitung waktu-waktu, mulai dari masuk kantor sampai adanya pemeriksaan dari tim aparatur pusat sejak pukul 09.00 nanti, dan ternyata kiprahku ter… Gawat!

Mendadak kepalaku terasa seperti ditusuk puluhan tombak. Gawat! Bisa-bisa darah tinggiku kumat! Untung diabetesku tidak ikut-ikutan minta perhatian!

Kuputuskan untuk beranjak, lalu nanti minum obat penenang dan sari mengkudu di ruang makan. Yap! Aku berjalan perlahan keluar kamar. Aku tidak mau istriku terbangun. Sebab, kalau terbangun, dia pasti akan menemaniku begadang, meski kemudian tergolek nyenyak di sofa. Sayangnya, istriku tidak memiliki kecerdasan (apalagi kecerdikan!) berpikir taktis untuk membantu mencari solusi jitu atas masalah kualami. Kalau ditanya soal harga mobil baru, rumah baru, perhiasan, ongkos plesir ke luar negeri, dan lain-lain, ooo… itu hal-hal termudah bagi istriku untuk menjawabnya. Dan selalu tepat-akurat!

Ketika kakiku sudah menginjak karpet “made in Persia” di ruang keluarga yang hanya diterangi lampu dinding yang remang, tiba-tiba telepon berdering. Kriiiing! Segera kuraih, agar tidak membuat seisi rumahku terjaga. Suaraku pun agak lirih.

“Halo, selamat malam…,” kataku sambil menyalakan lampu meja.

“Selamat malam juga, Pak Oji!” sahut suara di ujung kabel yang kukenal.

“Lhoooo, kok belum tidur juga, Pak Miun ini?”

“Nggak bisa tidur nih gara-gara mikirin nasib kita-kita, kawan-kawan kita.”

“Iya, gawat banget!”

Memang gawat. Aku dan Miun sama-sama menduduki jabatan pimpinan alias kepala di instansi kami. Sebagian masyarakat tahu bahwa instansi kami merupakan lahan basah nan subur. Dengan sedikit mengubah kata, angka dan data, pemerintah pusat segera mengucurkan dana. Tidak perlu menunggu sampai dua bulan sejak proposal terkirim. Realisasi proyeknya? Itu gampang diatur. Laporan pertanggungjawaban soal keuangannya? Sepele! Namun, bagaimana kelak jika kereta pemerintahan presiden baru dan ketua pemuka rakyat yang membawa angin perubahan itu sudah menggelinding?

“Tapi aku berdoa, mudah-mudahan pemerintah sekarang itu seperti yang sudah-sudah, Pak.”

“Maksud Pak Miun?”

“Yaaa… omongnya aja besoar saat kampanye. Begitu menduduki kursi empuk, setali tiga uang. Nggak ada buktinya! Dulu, sewaktu gegernya reformasi 1998, orang-orang bermimpi tentang pemberantasan korupsi. Buktinya? Sama sekali nggak menyentuh jajaran penting semacam kita-kita ini! Hehehehe… Masih ingat, kan dulu?”

“Iya. Sampai detik ini kita di daerah masih leluasa dan merdeka bikin perda, bisnis kebijakan, dan sejenisnya, ya, Pak.”

Hatiku agak lega sewaktu teringat pada masa-masa kampanye itu mereka tidak meladeni tantangan sebagian mahasiswa yang kritis untuk melakukan “kontrak politik”. Bahkan, sebagian dari mahasiswa, yang terkenal idealisnya, yang pernah berteriak “anti militerisme” dan sekitarnya, ternyata diantara mereka kemudian ada yang mendukung calon presiden dari militer dan akhirnya si calon menang pemilu presiden. Apalagi orang-orang semacam aku yang sudah memikirkan isi perut, isi otak, isi saku keluargaku, dan lain-lain. Sedikit menyelewengkan kepentingan daerah ke kepentingan keluargaku, kupikir, wajar-wajar saja dalam sistem dan pergaulan lingkup instansi daerah kami.

“Nah itu. Sampai punya… ehm ehm… yang amis-amis tapi manis.”

“Sssst… Hati-hati lho ngomogin si amis-amis manis gitu. Ntar istrimu nguping, berabe kan. Istriku sih sudah dari tadi mimpi shopping ke Paris. Tinggal amis manisnya sekretarisku yang sekarang tiba-tiba hinggap lagi di…”

“Hihihihihiiii… staf-stafku juga ternyata sedap-sedap lho, Pak Oji!”

“Eh, Pak Miun,” selaku karena aku belum bisa bebas berpikir seperti Miun. “Ini berarti kita ibarat sedang berjudi? Apa nanti nggak lebih gawat?”

“Benar! Nasib siapa yang tahu, Pak Oji. Tapi, menurutku, yang terpenting adalah tabungan kita di luar negeri, ratusan ribu dolar Amerika, dan para amis-amis manis simpanan kita tidak tercium oleh publik. Nah, beres!”

Benar juga ya, pikirku. Untung beberapa laporan pertanggungjawaban tentang keuangan atas penggunaan ini-itu sudah beres. Dan seingatku, berkas-berkas yang rawan, sudah ditataulang oleh sekretaris tersayangku. Ah, seperti biasa, sekretaris cantikku itu cepat mengantisipasinya dengan menyulap berita acara serta angka-angka secara meyakinkan, terlebih bila itu menyinggung kepentingan dia dan aku (kami berdua).

Perasaanku berangsur tenang. Pikiranku pun tidak lagi diintimidasi oleh dugaan-dugaan gawat yang belum tentu terjadi, walaupun masih tersisa denyutan tajam. Aku berterima kasih juga pada rekanku itu. Aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkan janji-janji kampanye orang-orang itu.

“Pak Oji, hanya orang tolol dan kurang pengalaman yang mau percaya segala akrobatik politik para pemain lidah dan ludah. Percaya, nggak?”

Aku mengangguk-angguk dan mulai bisa tersenyum lagi. Aku juga bisa menghirup aroma wangi ruang keluarga rumahku. Istriku memang pandai memilih parfum ruangan. Pembantu-pembantuku pun mengerti bahwa kebersihan penting. Terbayang pula wajah jelita sekretarisku sekaligus rencana pergumulan birahi kami selanjutnya di sela makan siang nanti. Selamat tinggal Bapak-bapak gawat, gumamku.

Sambil terus bertelponan dengan Miun, ekor mataku menangkap sinar lain di ruang keluarga yang remang ini. Lantas aku memutar badan, menghadap sumber sinar. Alangkah kagetnya aku ketika kulihat istriku sudah duduk di sana sambil membaca majalah hiburan kesukaannya.

***
Babarsariyogya, Oktober 2004

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 10:01 AM.


Sebuah SMS Mengusung Kisah Usang
(dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Edisi Sabtu, 27 November 2004)

Sebenarnya saya kurang sreg menceritakan hal-hal yang menyinggung cinta begini. Apalagi cinta usang berasa kadaluarsa. Sebab, sebagian Anda pasti pernah mengalami perjalanan cinta yang lebih dahsyat daripada yang saya alami. Dan, barangkali sebagian Anda pun berpendapat, cerita cinta itu cengeng, cuma untuk anak-anak baru pubertas. Tapi, maaf, pada kesempatan ini saya terpaksa bercerita tentang cinta usang dan gejolak perasaan saya yang bermula pada suatu kejadian tatkala jam kerja menjelang istirahat siang.

“Halo, apa kabar? Masih ingat aku? Aku Lia Ayuningtyas. Sorry, aku tau nomor Mas dari seseorang,” pesan singkat dari seseorang masuk HP saya.

Astaga! Saya merasa seperti ditampar oleh Petinju Mike Tyson di terik tengah hari ini. Sontak saya mematung di meja gambar saya dengan tatapan terpaku sepenuhnya pada kalimat-kalimat di layar monitor HP saya. Jantung saya berdetak lebih cepat dan tidak teratur. Dada berdebar-debar. Bulu-bulu tangan berdiri. Pori-pori tangan membengkak. Perasaan dan pikiran saya langsung berpencar ke mana-mana.

Sungguh saya terkejut. Betapa tidak. Lia Ayuningtyas itu mantan kekasih saya. Lebih lima tahun lampau kami berpisah (tepatnya: dipisahkan!). Menurut bisikan seorang kawan saya suatu hari, Lia kini sudah berkeluarga dengan pria dari keluarga kaya-raya, dan mereka telah memiliki dua anak. Mereka tinggal di suatu kota, di sebuah rumah seharga mendekati 1 milyar rupiah. Sebenarnya suaminya juga memiliki rumah lainnya, tetapi rumah itu diberikan kepada orangtua Lia.

SMS itu betul-betul membuat saya knock out sesaat. Kesadaran saya tiba-tiba lenyap. Saya kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Itu baru SMS, belum kalau ditambah dengan MMS yang menampilkan wajahnya sekarang. Belum sempat saya menemukan kata-kata untuk membalas, disusul lagi oleh SMS berikutnya.

“Minggu depan aku mau ke kota Mas. Urusan kantor. 2 hari. Nginap di hotel. Aku juga pengen ketemu Mas. Beberapa menit saja. Boleh? Di kantor Mas?”

Oh! Waduh, bagaimana ini?

Saya akui bahwasannya saya masih (masih sangat!) mencintai dia, walaupun dia sudah mempunyai realitas hidup bersama keluarga barunya. Pasca perpisahan kami hingga kini saya belum sanggup menghapuskan jejak-jejak kebersamaan kami pada lembar-lembar kenangan saya. Dialah cinta pertama saya. Dialah yang mampu mewarnai bidang-bidang relung hati saya. Tetapi, akhirnya saya harus mengunyah empedu perpisahan kami.

Betul bahwa saya dari keluarga kurang beruang. Betul bahwa saya bekerja dengan gaji sekitar satu juta. Tapi perpisahan tersebut, bagi saya, alangkah kejinya! Tahun-tahun kami lewati bersama, suka-duka, senang-sedih, berakhir pada parang perpisahan yang diacungkan oleh ultimatum ibunya yang menghargai suatu hubungan cinta dengan takaran harta. Saya bisa bilang begitu lantaran saya pernah mendengar secuil latar belakang pernikahan orangtuanya pun berdasarkan hal-hal yang bukan cinta. Ibunya terlanjur hamil (dihamili pria bukan ayah Lia), dan keluarganya menyodorkan pada laki-laki yang kemudian adalah ayah Lia. Lia adalah anak selanjutnya.

Sekarang, setelah dia tega mengiris hati saya dengan alasan klasik “tidak direstui” (padahal karena persoalan “jaminan kekayaan!”) dan menikmati susu-madu perkawinan, lantas sekarang hendak menjumpai saya?

Oh, tidak ya! Harkat saya sebagai manusia, laki-laki, seakan langsung dilecehkannya lagi. Luka hati saya seakan ditorehkannya kembali. Kalau dulu dia benar-benar mencintai saya, kan seharusnya dia siap menerima konsekuensi cinta? Lha kenyataannya? Dia pilih pergi dengan kereta kencana pria lain! Terus, kini tiba-tiba muncul dengan ajakan…

Dada saya berdebar kencang. Perpisahan pahit itu kembali membuat perasaan saya perih-pedih. Darah saya mengalir kian cepat, terasa pula mendidih. Dasar perempuan tak punya perasaan, egois dan keturunan pemuja harta! Harga cinta hanya ditakar dengan jumlah harta. Tak pelak emosi saya bergolak, kepala saya terasa hendak meledak

Gawat, pikir saya. Saya coba alihkan pikiran dengan melihat ke arah jendela dekat tempat duduk saya. Di luar tampak taman seukuran 8m x 6m. Ada sebuah pohon mangga yang belum berbuah, kolam ikan warna-warni, air terjun buatan, dan tanaman-tanaman penghias taman eksterior. Seekor kadal sedang berjemur di tepi kolam. Seekor kupu-kupu mungil mencari madu diantara bunga-bunga yang ada. Angin menggoyang-goyangkan dedaun suplir dan juntai tanaman rambat. Sekeping daun mangga kering runtuh.

Mata saya beralih ke meja kecil di samping saya. Saya raih gelas saya yang berisi air putih. Lalu, sembari meneguk minuman, pikiran saya kembali membayangkan sekeping daun kering yang runtuh itu. Daun kering berwarna coklat tua. Daun uzur, tersungkur. Menimpa bumi. Bersatu dengan bumi. Tak lama lagi akan menjadi makanan bagi makhluk lain. Demikian kelak akan disusul daun-daun lainnya.

Mendadak saya berpikir tentang diri saya, tentang hidup yang akan datang, yang bakal baka, abadi-kekal. Sejatinya hidup di dunia: cuma singgah untuk sekadar minum, memberi diri kepada sesama, lantas merenggas lepas menuju Sang Pemberi Nafas.

Debar dada saya berangsur reda. Gejolak perasaan saya mengendur. Betul bahwa saya kecewa dan sakit sekali atas perpisahan semacam itu. Betul bahwa saya merasa harkat-martabat saya dilecehkan oleh mereka sekeluarga. Tapi, bukankah hidup saya sekarang hanya sementara? Ada kesejatian sedang menanti saya. Dan, untuk ke sana, bekal apakah yang saya siapkan? Benci, dengki, dendam, koreng luka hati? Oh… Layakkah kelak saya bawa menghadap Sang Maha Cinta? Entahlah… saya hanya seorang manusia biasa…

Sekarang saya diperhadapkan pada ajakan jumpa dari dia, bagian masa lalu saya. Kalau tidak boleh, apa kira-kira alasan saya yang akurat-relevan. Masak sih saya melarang orang yang ingin menemui saya, padahal Sang Maha Suci saja tidak melarang manusia yang ingin berjumpa dengan-Nya? Apakah saya lebih suci dari Tuhan? (Anda pasti sepakat bahwa saya sama sekali tidak suci) Barangkali dia masih ingat kata-kata saya, bahwa saya bukan tipe pendendam, saya selalu tidak mampu menolaknya dengan apa pun kondisinya, karena saya yang sarat salah ini saja senantiasa memohon Tuhan sudi menerima diri saya.

Maka, saya harus memperbolehkannya. Memperbolehkan terjadinya pertemuan kami? Pertemuan dua mantan sepasang kekasih dalam situasi yang berbeda, dan di kantor tempat saya bekerja? Dia – perempuan – berkunjung ke tempat saya – laki-laki – bekerja? Kok kesannya saya tidak “laki-laki” jika saya dikunjungi oleh dia. Justru seharusnya saya, sebagai laki-laki, yang menemui dia. Jadi, kelak kami akan bertemu lagi di… Di hotel tempat dia menginap? Oh! Lantas bagaimana?

Terus terang, saya memang pernah menyangka sekaligus waspada, bahwa suatu waktu saya pasti bakal menerima sms atau malah dihubunginya, kendati entah dari siapa dia mendapatkan nomor HP saya. Bukankah saya dan dia pernah memiliki hubungan sangat dekat, dan berarti saya mengenal kawannya dan dia pun mengenal kawan saya ? Mungkin suatu waktu dia bertemu dengan kawan saya yang memiliki nomor HP saya. Atau malah nekat bertanya pada adik saya pada suatu perjumpaan di suatu tempat. Tentunya masih banyak kemungkinan lainnya jika mau merunut “dari siapa dia tahu nomor HP saya”.

Namun, kenyataan ternyata bisa lebih menohok daripada sebatas membuat sketsa perkiraan. Buktinya, ketika SMS dari dia benar-benar berkunjung, saya justru sangat terkejut dengan perasaan dan pikiran yang porak-poranda begini. Dan, itu baru SMS! Belum dilengkapi dengan gambar dirinya melalui MMS, suaranya yang kini sekonyong-konyong mengiang kembali dalam telinga perasaan saya, bahkan andai saat ini dia muncul di hadapan saya dengan senyum manis merekah dari bibir merah jambu basahnya yang, bagi saya, paling indah diantara bibir perempuan mana pun.

Dulu saya juga sering bilang, bahwa dialah perempuan paling memikat dalam kehidupan cinta saya. Waktu itu saya tidak sedang merayunya. Saya hanya mau jujur pada diri saya sendiri, terlebih saya mengucapkan itu di saat usia saya sudah tidak lagi remaja dan sampai sekarang saya masih melajang. Bagi saya, selama ini saya belum menemukan perempuan lain yang bisa menandingi keberadaannya dulu dalam hidup saya.

Mungkin Anda berpendapat bahwa saya ini manusia yang terkurung dalam kerangkeng kenangan sambil mengenakan kacamata kuda. Namun ketahuilah dan hargailah, bahwa saya memiliki prinsip mencintai yang berbeda dengan prinsip yang Anda miliki. Begitu pula dalam memandang dan menghargai keberadaan seorang kekasih. Bukan soal kecantikan plus kemolekannya yang memang masih sedikit di bawah Dian Sastro atau Kareena Kapoor. Atau soal yang sekitar aura, fisikal dan finansial. Melainkan, ini soal kecocokan hati yang bertahun-tahun telah diisi oleh keberadaannya, soal kemantapan hati memilih dia sebagai kekasih tanpa perlu kami rusak dengan perbuatan asusila seperti perilaku seksual sebagian pasangan pacaran lainnya, kendati akhirnya saya dan dia berpisah (tepatnya lagi: dipisahkan!) serta kini dia sudah berkeluarga dengan dua putera-puteri. Saya percaya, sebagian Anda mampu memahami maksud saya.

“Hei, Ji! Ngapain kau, kok tiba-tiba bengong kayak kura-kura ketelan kuda?” tegur rekan saya yang duduk di meja seberang.

“Ng… ng… ah, sorry… aku… ada urusan keluarga,” sahut saya seraya mengacungkan HP saya.

“Nenekmu terkunci di kamar mandi lagi?”

“Bu... bukan… ah, sudahlah, ini urusan intern kami. Sorry.”

“Oke, oke. Saya paham. Tapi jangan terlalu lama mengganggu konsentrasimu. Atau kau istirahat dulu, gih sana. Hampir jam makan siang nih. Tujuh menit lagi.”

“Siip! Kau duluan aja.”

Sip apanya! Rekan saya mana tahu kalau ‘gangguan’ ini akan sampai beberapa hari. Terlebih urusan cinta usang saya. Jangankan cinta usang, siapa kekasih saya yang sekarang pun rekan saya itu tidak tahu. Ya jelas tidak tahu, karena saya selalu gagal dalam taraf ‘hubungan lebih dalam’ setelah berkali-kali berada dalam langkah ‘pendekatan’. Namun hari-hari menjelang pertemuan nanti, pikiran dan perasaan saya pasti digelitik gelisah.

Tapi setidaknya, saya bersyukur atas teguran rekan saya tadi. Sebab, teguran itu justru mengembalikan kesadaran saya, realita saya bahwa saat ini saya sedang berada di kantor. Barangkali inilah salah satu fungsi keberadaan seorang rekan atau seseorang di dekat kita, walaupun tanpa menyodorkan nasihat atau ceramah ini-itu. Malah mungkin suatu keadaan yang krusial tidak membuat kita langsung membutuhkan kata-kata indah memabukkan. Cukup sentakan kecil, semisal teguran rekan saya tadi. Itu mungkin lho.

“Ya sudah. Aku ke kantin duluan. Salam untuk keluargamu.”

“Makasih. Eh, kurangi makan pedas, biar nggak bikin masalah di perutmu lagi.”

Rekan saya mengacungkan tinju sembari beranjak meninggalkan kursinya, berbareng tiga rekan lainnya. Berangsur-angsur ruang kerja ini disekap kehampaan. Ketukan-ketukan dan gesekan sepatu mulai lirih, selanjutnya menjelma kehampaan. Tiada suara rekan-rekan. Tiada suara nyanyian lirih rekan perempuan. Tiada makian rekan yang memang mulutnya sudah bolong sana-sini, dan langsung bocor kalau terkena hal-hal yang mengusiknya. Tiada suara kecupan antara jemari dan tuts-tuts keyboard komputer. Yang tertinggal hanya suara-suara dari luar kantor, misalnya klakson kendaraan di jalan atau suara pesawat terbang tengah take off.

Aduh, bagaimana seandainya saat ini dia mendadak datang ke kantor ini dan nyelonong begitu saja ke tempat saya berada… Suasana ruangan kerja saya yang sedang ditinggal oleh rekan-rekan… Ah, entah kenapa dada saya seakan membengkak hendak meledakkan seluruh gemuruh perasaan saya yang betul-betul penuh kerinduan pada dia, pada kemesraan yang pernah ada… Atau, kelak bila berjumpa di hotel tempatnya menginap… Di saat dia sendiri, tanpa membawa keluarga… Suasana yang… Oh, Lia…

Gila! Pikiran dan perasaan macam apa ini yang melanda saya! Saya merasa ingin memaki diri saya habis-habisan.

Tapi, kenapa kalimat SMS-nya tadi seolah menunjukkan dirinya sangat mengharapkan suatu pertemuan dengan saya, meski “beberapa menit saja”? Apakah dia masih merindukan saya? Apakah sekadar ingin berjumpa dan saling merajut tali silaturahmi yang sewajarnya?

Sungguh saya belum mengerti apa motifnya. Sementara dalam sisi lainnya di perasaan dan pikiran saya timbul pertanyaan: apakah lantaran dia pun masih sangat mencintai saya, maka dia ingin mengajak saya kembali merunut, mengusut dan merajut tali kasih yang pernah ada dan telah terputus. Mungkin selama ini dia tidak memperoleh kasih sayang seperti yang pernah saya curahkan sepenuh hati saya padanya dulu, karena memang sayalah (selain ayah, kakak maupun adiknya) laki-laki yang bertahun-tahun pernah dekat dengan hidupnya. Apakah dia ingin mengajak saya mengecap hal-hal yang dulu belum sempat kami…

Astaga! Ini jelas-jelas gila! Sekali lagi: gila! Pikiran dan perasaan macam apa ini yang menghasut kesepian saya! Saya memang tidak mampu melupakan pesona dirinya hingga detik ini. Secantik-cantiknya artis atau ratu kecantikan, dia tetap tercantik bagi saya. Kalau sebagian orang masih leluasa melakukan hubungan gelap secara sembunyi-sembunyi dengan bekas kekasih mereka, apakah lantas saya lumrah-lumrah saja mengikuti arus kerinduan yang mengusung cinta usang? Bagaimana jika suaminya tahu, dan keluarga mereka semua tahu? Lantas, bagaimana pula kalau kelak saya mendapat seorang istri, tapi diam-diam istri saya itu juga masih menjalin hubungan cinta dengan mantan kekasihnya?

Oh, tidak! Ini tidak boleh terjadi! Bukankah apa yang saya tabur, niscaya suatu saat nanti akan saya tuai?

“Hayooo, ngalamun ya!” bentak rekan saya, yang entah memakai ilmu peredam sepatu apa sampai saya tidak mendengarnya masuk ruangan.

“Sialan, bikin kaget aja. Kok cepet amat?”

“Aku mau ngambil obat sakit perutku di laci. Kebanyakan makan sambel, Ji!”

Selanjutnya saya tidak lagi menghiraukan rekan saya yang sibuk mencari obat sakit perutnya, karena saya merasa harus membalas SMS mantan kekasih saya. Tapi, apa ya yang sepatutnya saya tuliskan untuk dia, serta tanggapan saya atas ajakan pertemuannya? Bagaimana kelak jika kami betul-betul bertemu? Apakah saya sanggup untuk tidak… Saya bingung.

*******

Bumiimaji, Oktober 2004

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 9:54 AM.


| + Monday, September 20, 2004 + |

Layang-layang, Pelangi, dan Bidadari
(dimuat di Harian SINAR HARAPAN, Sabtu, 18 September 2004)

Sayup-sayup semarak suara kotek ayam di belakang rumah menyambut terbukanya kelopak mata Oji. Serta-merta matahari kuning menyapa bola matanya melalui celah jendela kaca di dekat ranjangnya. Oji langsung beranjak turun dari ranjang kayunya. Pikirannya sedang disuguhi oleh banyak layang-layang yang mengapung di angkasa. Dibiarkannya selimut tergeletak di kasur. Selembar sarung bantal teronggok di pojok, terlepas dari bantalnya. Sudut seprei keluar dari tindihan kasur.

“Hei, Oji, mau ke mana?” tegur ibunya yang sedang menggoreng tahu ketika Oji berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi yang berdekatan dengan dapur. “Masih pagi. Jangan main dulu, biarpun libur panjang. Nanti Ibu lapor ayah lho!”

Aaaah, gerutu batin Oji. Ia memperlambat langkahnya lantaran kecewa. Keinginannya bergabung bersama kawan-kawan main di kampungnya untuk bermain layang-layang pun pupus selagi masa liburan panjang baru mulai hari ini dikecapnya. Padahal kemarin atau hari pertama liburan seusai pembagian raport, kawan-kawannya sudah bebas bermain. Ia kecewa, kenapa orangtuanya tidak seperti orangtua kawan-kawannya yang membebaskan kawan-kawannya bermain.

“Tempat tidur sudah kamu beresi, belum, Ji? Masak tiap pagi harus Ibu peringatkan? Kamu sudah naik kelas V, bukan bayi lagi. Nanti kalo ayah tiba-tiba memeriksa kamarmu dan tempat tidur masih semrawut, baru tahu rasa kena jewer lagi! Juga meja belajarmu, harus dirapikan. Jangan berantakan begitu. Buku pelajaran kelas IV simpan di rak di gudang. Buku-buku komik kembalikan di tempatnya. Mana buku komik punyamu, mana punya kakakmu, mana punya adikmu. Mainan-mainanmu kumpulkan dan masukkan lagi di dos. Jangan sampai berceceran tidak karuan. Kalo nanti ayahmu pulang kerja, melihat barang-barang itu belum kamu bereskan, awas, bisa-bisa kamu...”

“Iya, Bu, sebentar. Oji mau pipis dulu,” sahutnya cepat. Ia kuatir ayahnya mendengar dan kemudian benar-benar menjewernya karena mengetahui Oji akan segera bermain dengan kawan-kawannya. Masih sangat membekas hukuman cetot ayahnya di pahanya beberapa hari silam sewaktu ayahnya mengetahui (setelah dilapori oleh kakaknya) Oji baru pulang dari berenang di sungai bersama kawan-kawannya. Ia sering tidak percaya kalau ayah atau ibunya mengatakan bahwa di sungai banyak ular, ada buaya, ada lumpur yang mematikan, ada banjir bandang, dan lain-lain. Setahunya, berenang di sungai bersama kawan-kawan sungguh mengasyikkan. Buaya, ular besar, lumpur maut, banir bandang dan lain-itu tak pernah dijumpainya. Tapi keasyikan itu harus dibayar dengan hukuman cetot di pahanya. Untung saja tidak dibarengi dengan tempelengan. Biasanya ayahnya lebih dulu melayangkan telapak tangan ke kepala Oji (Oji merasakan seperti terkena benturan keras dari papan setebal tiga sentimeter).

“Selesai membereskan tempat tidur, kamu jangan main dulu. Singkong untuk makan ayam belum diparut. Cucian-cucian yang belum kering di ember, kamu jemur lagi. Oh iya, lantai belum disapu. Bibimu repot sendirian di dapur. Kakakmu tadi pagi sekali sudah berangkat, bertamasya perpisahan dengan kawan-kawan sekelasnya ke pantai Sanlochu. Ibu mau ngantar adikmu ke rumah sakit. Gara-gara kemarin kamu ajak main hujan-hujanan, semalaman dia demam.”

Cihui! Mudah-mudahan habis beres-beres ranjang ibu belum pulang, pikir Oji.

***

Langit lapang, cakrawala cemerlang. Tak ternoda secuil pun oleh bongkahan mendung. Matahari belum meninggi. Burung tiyung bersiul di antara dedaunan pohon rambai. Sebagian anak-anak laki-laki di kampungnya Oji berkumpul di halaman belakang rumah Nek Jarmi yang dipayungi oleh beberapa pohon cempedak, melinjo, jambu bol, jengkol dan petai. Oji pun berada di sana, bergabung dengan kegiatan kawan-kawannya dalam rangka musim layang-layang. Ia sedang menumbuk pecahan bola lampu di dalam kaleng susu atas suruhan seorang kawannya yang tengah mempersiapkan tungku dari batu bata. Ancaman ibunya tadi pagi sudah hilang dari ingatannya semenjak ayahnya berangkat ke kantor, ibu dan adiknya pergi ke rumah sakit, dan tempat tidur sudah dirapikannya.

Cuaca cerah hari ini tampaknya akan memberi kesempatan pada mereka untuk bisa bermain layang-layang sepuas hati. Sekelompok anak-anak sedang meraut bambu-bambu agak kering yang baru saja mereka ambil di kebun Uwak Dul. Beberapa potong yang sudah jadi dengan ukuran panjang-tipis umumnya layang-layang, mereka timbang. Setelah seimbang, mereka ikat. Pada ujung-ujung kerangka bambu mereka satukan dengan seutas benang jahit. Kemudian mereka tempelkan pada selembar kertas minyak.

Sementara sekelompok anak lainnya, termasuk Oji, sedang membuat membuat benang gelasan Beberapa anak memasak ramuan di atas tungku batu bata. Ramuan yang terdiri dari tepung kanji, serbuk beling bola lampu, dan air secukupnya itu tampak mendidih. Satu anak terus mengaduk ramuan dalam kaleng susu itu. Satunya lagi bersiap memasukkan segelondong benang. Di dekat mereka, dua anak sedang memasang campuran benang dan ramuan itu pada batang-batang sekitarnya. Keduanya berjalan di batang-batang yang telah mereka pilih untuk merentangkan benang-benang yang telah bercampur ramuan agar segera kering ditiup angin dan disinari matahari. Di bawah beberapa pohon lainnya tiga gelondong benang sudah kering, siap digulung dan digunakan.

“Eh, lihat sana!” seru Oji seraya menunjuk ke arah sudut langit.

Serentak mereka menoleh ke arah telunjuk Oji. Beberapa layang-layang sudah berkibar di langit. Tidak seperti hari pertama kemarin, yang pada pagi sampai tengah hari mendung menggulung langit dan hujan menghalangi-halangi penerbangan layang-layang, hingga langit dan angin menyisakan ruang selama empat jam sebelum bulatan matahari memerah.

“Anak-anak kampung Gelap sudah nantang!”

“Wah, layang-layang sialan itu mengolokku! Kemarin sore dua layang-layangku ditebasnya. Sialan! Awas ya!”

“Sabar aja, Wan. Orang sabar disayang Tuhan. Sebentar lagi gantian dia merana.”

“Rasakan kelak benang gelas kita!”

“Anak-anak kampung sebelah pasti kalah saing?”

“O ho, tentu dong, Ji. Kita membuat gelasan sendiri. Benang gelas bikinan pabrik seperti punya kita dan mereka kemarin, mana kuat. Aku tadi sudah nyoba. Benang gelasku kemarin kugesek dengan benang gelas bikinan kita yang sudah kering di sana itu. Belum berapa gesekan, benang gelas pabrik itu putus.”

“Iya, Ji. Benang gelas bikinan sendiri itu lebih tajam daripada yang dijual di toko. Kelak kamu lihat sendiri buktinya.”

***

Selama beberapa hari ini kebun Ko Ahi yang dipadati alang-alang dan sedikit pohon jeruk yang tak sudi lagi berbuah menjadi arena adu layang-layang mereka – anak-anak kampungnya Oji dan anak-anak kampung tetangga ada kelompok yang berlaga, dan ada pula yang bersiap-siap mengejar layang-layang yang putus, terutama layang-layang dari membeli di toko. Jika pagi tidak dihukum hujan, mereka akan berlaga hingga lepas tengah hari. Oji pun sering hadir di sana, kendati hampir setiap pulang dari sana ia disambut tempelengan atau jeweran ayahnya.

Namun Oji tidak ikut berlaga, walaupun sejak awal musim ia telah membeli satu buah layang-layang di toko Akin. Layang-layang itu baginya berharga, sebab ia tidak mudah meminta duit kepada orangtuanya untuk sebuah barang mainan yang akan menggiringnya keluar rumah. Apalagi kalau mainan itu tidak kembali ke rumah bersamanya. Ia akan dimarahi habis-habisan, dianggap membuang-buang uang.

Dan, jika ada layang-layang kalah aduan, terlebih layang-layang bagus dari toko seharga ratusan rupiah, spontan anak-anak segera berlari sekuat tenaga sambil membawa patahan pohon panjang dengan sisa-sisa cabang di ujungnya, dan berebutan seolah berebut harta jatuh dari langit. Mereka menerobos semak-semak tanpa alas kaki. Beling, paku bekas, besi karat, tunggul ataupun duri sudah tak lagi dihiraukan.

Tetapi Oji tidak ikut mengejar layang-layang putus itu. Ia hanya menyaksikan. Sebab, pertama, ia selalu kalah berlari. Sebab berikutnya, resiko terkena beling, jatuh, kena tunggul atau terpelecok benda lainnya. Ia takut mengalami kecelakaan kecil lantas disusul hukuman perih dari ayahnya. Sebab lainnya, ia pernah dicurangi oleh seorang kawannya ketika ia hampir berhasil meraih sebuah layang-layang putus yang benangnya tersangkut pada kayu Oji. Mereka sempat adu mulut sebentar sebelum kemudian kakak kawannya datang untuk membantu mengeroyok Oji. Disamping itu ia takut berkelahi. Karena, kalau sampai diketahui ayahnya, ia pasti mendapat hukuman. Dan, jika menang pun, perkelahian akan berbuntut panjang. Bukan saja beberapa kawannya suka main keroyok, melainkan pula perkelahian akan berlanjut pada hari berikutnya. Akhirnya Oji membiarkan layang-layang itu direbut kawannya.

***

Lepas tengah hari setelah hujan reda. Angin tetap mengalir. Meskipun sekarang masih pertengahan musim kemarau, di daerah tinggal Oji atau juga satu pulau hujan selalu turun tiap minggu. Minimal seminggu dua kali. Cuaca selalu tidak jelas. Namun saat hujan reda, anak-anak kampung tidak terlihat di kebun Ko Ahi. Mungkin mereka tengah bersiap-siap. Atau barangkali sedang asyik bermain kapal-kapalan di selokan depan rumah seorang kawannya yang hanya mengalir sesudah hujan.

Oji sendirian di kebun itu. Ia ingin menerbangkan layang-layangnya. Tak lupa layang-layangnya diberinya ekor pada bagian sisi-sisi dan bawahnya, yang berarti bukan untuk aduan. Ia mulai mengulur benang untuk membiarkan layang-layangnya terbawa arus angin, lalu menarik-narik benangnya agar tekanan arus angin kian menaikkan layang-layangnya. Layang-layangnya menanjak ke angkasa yang berlatar sebuah pelangi.

Semula Oji hanya menikmati layang-layangnya sendirian merenangi angkasa. Ekor warna-warni melambai-lambai dan meliuk-liuk berlatar pelangi. Ia senang sekali melihat perpaduan warna itu. Namun sesuatu mulai mengusik pandangannya. Pelangi di balik layang-layangnya tampak lebih indah daripada yang pernah dilihatnya selama ini. Warna-warnanya tegas. Batas tepi lengkungnya jelas. Wujudnya tampak sangat lembut.

Lambat-laun obyek penglihatan Oji bergeser. Keindahan tarian layang-layangnya ternyata kalah indah dibanding pelangi yang melatarbelakangi layang-layangnya. Dekorasi alam itu merampas konsentrasinya. Sungguh menakjubkan. Oji terkesima. Dibiarkannya layang-layangnya menari-nari di angkasa tanpa tarik-ulur jemarinya.

Menit-menit berlalu. Beberapa burung liar sesekali melintasi angkasa. Oji terus terpana. Sesuatu pun terjadi. Sesuatu muncul dari dekorasi langit itu. Sesuatu itu bergerak perlahan. Oji tak berkedip. Sesuatu itu kian mewujud. Perlahan tapi pasti, hingga mata Oji menangkap sosok mirip perempuan. Rambutnya lurus sepanjang atas pinggang. Gaunnya berwarna putih, halus dan lentur seakan dari bahan sutera pilihan. Sesekali angin mengibaskan rambut dan gaunnya. Sosok itu semakin jelas wujudnya, dan tampak tengah menyusuri pelangi seolah berjalan di sebuah jembatan. Barangkali memang jembatan.

Mungkin itu bidadari seperti kata orang-orang, gumamnya.

Astaga! Oji tersentak ketika sosok itu berhenti, lalu melambai ke arahnya seakan sedang menyapanya. Hatinya sangat bersukacita mendapat sapaan semacam itu. Di luar kesadarannya ia membalas lambaian itu. Rupa sosok itu pun sudah nyata. Perempuan seusia kakak sulung kawannya dengan tatapan bersahabat dan berhiaskan senyuman ramah. Dirasakannya tatapan itu istimewa. Tidak seperti ibunya yang suka mengomel, kakaknya yang suka mengadu, ayahnya yang laksana malaikat maut, kawan-kawan sekolahnya yang suka mengejeknya, dan kawan-kawan kampungnya yang suka bertindak kasar padanya tapi berlindung di balik badan tegap kakak mereka.

Sosok yang disebutnya “bidadari” itu melambai lagi, dibarengi tatapan mata yang seakan mengajaknya bersalaman.

“Hei, bolehkah aku ke sana?”

Bidadari itu mengangguk tanpa menyudahi senyuman.

***

Tiga hari ini, entah kenapa, hujan turun berturut-turut dari pagi hingga lepas tengah hari. Oji merasa lebih senang begitu, karena ia bisa enak tidur siang, lalu bertemu lagi dengan sahabat barunya dan tidak terganggu oleh kawan-kawannya yang lebih suka bermain layang-layang di saat cuaca benar-benar cerah semenjak pagi hari.

Selepas siang layar langit kembali terang. Beberapa bongkahan awan kelabu tertinggal. Ibu, kakak dan adiknya masih menikmati sedapnya tidur siang. Ayahnya belum pulang dari tempat kerja. Oji terjaga dari tidur siangnya. Dalam pikirannya kini muncul pelangi dan sosok bidadari. Ia ingin ke kebun Ko Ahi dan berjumpa lagi dengan bidadari itu. Ia lupa pada ancaman ibunya, pengaduan kakaknya dan keterampilan tangan ayahnya. Ingatannya pada pelangi dan bidadari itu bagaikan sedang memanggilnya. Juga kerinduan telah tumbuh. Rindu pada persahabatan, keramahan, dan kelembutan.

Oji mengambil layang-layang yang disimpannya di bawah kasur. Kemudian ia keluar kamar dan tetap berjingkat-jingkat melintasi kamar-kamar. Ia kuatir kepergok akan keluar rumah; bisa gagal rencananya. Keinginannya sudah membulat.

Plak!

Tiba-tiba suara daun pintu menampar dinding ruang keluar karena ditendang angin. Jantung Oji terasa copot. Waduh, jangan-jangan ibu bangun, pikirnya. Tapi keinginannya membengkak. Jika tiba-tiba dihadang, niscaya dadanya meledak dan mengeluarkan segala isi batinnya yang penuh kecewa, duka, dan luka.

Setelah ia berhasil tiba di teras depan, secepatnya ia berlari ke samping rumah yang hanya berpagar tanaman daun mangkok-mangkok. Ia berlari kencang, melompati pagar tanaman, masuk ke tanah tetangga, dan seterusnya hingga ke kebun Ko Ahi.Di kebun milik juragan tahu itu Oji berdiri sembari mendongak. Angin cukup kencang dan arahnya tetap. Seekor burung elang menggerayangi angkasa. Pelangi sudah terbentang. Bidadari itu sedang menunggunya. Oji tidak sabar lagi. Segera dinaikkannya layang-layangnya. Ia berlari-lari melawan arah angin untuk mengangkasakan layang-layangnya. Pergerakan angin memudahkan usahanya. Layang-layangnya semakin naik. Terus, terus dan semakin tinggi.

Pada ketinggian layang-layang sepanjang benang seutuhnya hingga tinggal simpul ikatan pada kaleng, Oji menoleh ke kanan-kiri. Dicarinya pepohonan kecil di dekatnya untuk menggantinya memegang kaleng benang layang-layang. Sebatang kedebik telah menanti. Oji berjalan cepat ke arahnya. Rantingnya langsung dipatahkannya, kemudian kaleng benang layang-layang diselipkannya di situ.

Layang-layang terus berkibar di langit akibat tiupan angin yang agak kencang. Benang menjulur tegang. Kini saatnya, gumam Oji. Ia mengambil ancang-ancang. Lantas, ia mulai naik ke benang. Perlahan tapi pasti dan penuh keyakinan diri ia meniti benang mnuju ke langit bak seorang akrobatik. Bidadari itu tersenyum seakan sedang memberi semangat padanya. Hati Oji kian mantap. Ia ingin lekas sampai di jembatan warna-warni itu, dan tinggal bersama bidadari di langit sana.

*******

Bumiimaji, 2000/2004

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 6:44 AM.


| + Wednesday, June 02, 2004 + |

Cinta Itu Milik Sahabatku 1)

(Cerpen ini dimuat di Majalah Kumpulan Cerpen CINTA, edisi 13, tahun 2004)

Landung Membaca Kayam 2) di Lembaga Indonesia Perancis, Sagan, Yogyakarta. Itulah acara kali pertama aku bersua gadis bernama Rosa. Tentu saja sangat bersejarah bagiku. Tentu saja sangat mengkristal dalam jiwaku. Tentu saja membuat aku tak bisa melupakan suatu pentas sastra dan bayangan diri Rosa. Tentu saja mengingatkanku pada… ah, entahlah. Tentu saja aku agak malu bila mengingatnya.

Ya, aku ingat sekali, ketika jam tujuh malam Oji – kawanku dari kampus lain yang kukenal di sebuah acara bedah buku antologi – menjemputku di kosku setelah aku dan dia berjanji akan berangkat bersama ke acara itu.

“Noy, kita ke kosnya kawanku dulu,” katanya sewaktu motor kami keluar dari pintu gerbang kosku menuju arah jalan raya Babarsari.

“Oke deh. Di mana, Ji?”

“Di Tamansiswa.”

Ooo.. pantesan Oji tidak berbelok menuju jalan tepi Selokan Mataram, pikirku. Biasanya dia memilih lewat jalan tepi Selokan Mataram yang merupakan sebuah jalan pintas yang dapat menuju Gejayan, belok kanan ke jalan Colombo, lalu belok kiri ke jalan Profesor Yohanes, dan akhirnya berhenti sejenak untuk menyeberang ke arah jalan Sagan yang berada di sebelah kanan jalan.

Dan kini harus ke Tamansiswa dulu? Mak, jauhnya! Dari Babarsari ke Tamansiswa dan akan menuju Sagan. Sebuah perjalanan yang, menurutku, tidak cukup ditempuh selama 10 menit berkendaraan sepeda motor dengan menyelinap ke jalan-jalan pintas di Kota Pelajar ini. Kalau ngebut, jelas aku tidak terlalu suka. Selama di dalam kota ini aku lebih suka berkendaraan sepeda motor dengan kecepatan yang tidak melebihi angka 60 km/jam.

Aku memang tidak suka ngebut. Oji tahu itu. Pertama, aku harus menjaga diriku sendiri untuk menunaikan pendidikan sesuai dengan mandat dari kedua orangtuaku, bukannya menggerogoti ekonomi keluarga gara-gara kecelakaan parah dan masuk rumah sakit. Kedua, aku tidak punya sepeda motor. Gaji orangtuaku yang hanya sebagai guru di suatu SMP Negeri, tentu tidak akan sampai 3 juta rupiah per bulan. Belum kebutuhan keluarga kami. Adikku ada dua orang. Kalau suatu waktu aku pinjam kendaraan dan kemudian terjadi kecelakaan yang meremukkan motor pinjaman itu?

Alasan ketigaku, waktu-waktu setelah kecelakaan, opname dan masa pemulihan niscaya menyita waktu kuliah. Keempat, bagaimana kalau aku mengalami kerusakan badan atau cacat tetap? Alamak! Tapi, meski kini Oji harus menjemput kawannya itu, aku cukup merasa aman. Oji pun sudah memberi tahuku bahwa ia tidak pernah menggenjot motornya dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam. Mungkin mahasiswa perantauan dari luar Jawa ini sudah terimbas slogan Jawa, “alon-alon waton kelakon” atau artinya “pelan-pelan, yang penting sampai di tujuan”.

“Dia naik motor sendiri, Ji?”

“Ya.”

Seorang gadis tidak bolehlah kubiarkan naik sepeda motornya sendiri ketika malam begini apabila dua lelaki bergoncengan mendampinginya. Itu prinsipku dalam bergaul dan memperlakukan perempuan. Bukannya tidak memerdekakan perempuan menjadi sosok mandiri, melainkan keluargaku dan kawan-kawanku lainnya selalu mementingkan perlindungan sebaik-baiknya untuk kaum perempuan.

Akan tetapi, mendadak penyakit usangku kembali kambuh; aku gugup. Ya, aku tidak sanggup menjalankan prinsip itu manakala aku berjumpa langsung dengan gadis bernama Rosa atau lengkapnya Angelina Rosani. Betapa tidak. Mahasiswi fakultas Ekonomi semester III itu cantik betul. Tubuh setinggi sedang-sedang saja. Tidak gemuk, tidak ceking. Kulitnya kuning langsat dan rambutnya lurus melintasi bahu. Tapi, gerakan gadis ini cuwek dan lincah sekali. Tatapan matanya lepas. Langkahnya tidak melenggak-lenggok kayak perempuan berkebaya. Apalagi Rosa cuma memakai kaos oblong hitam polos, celana jins biru kusam, dan sepasang sandal jepit bertali oranye.

Kuurungkan saja niat baikku untuk menggoncengnya. Akhirnya gadis itu sendiri mengemudikan motornya. Oji pun cuwek di atas motor GL-100, lantaran Oji berprinsip membebaskan perempuan dari semangat “pahlawan kesiangan”-nya kaum pria. Oji memang tidak sepakat jika perempuan selalu digonceng, dibantu atau dimanjakan. Sebab, menurutnya, sama dengan menganggap mereka makhluk lemah.

***

Landung Membaca Kayam di Lembaga Indonesia Perancis, Sagan, Yogyakarta. Pukul 20.15 WIB. Kami bertiga menonton dengan konsentrasi masing-masing sembari duduk bersila di hamparan karpet seperti penonton lainnya. Oji lebih suka duduk dengan sudut pandangnya sendiri. Awalnya kami berjejer tiga. Namun selanjutnya Oji sudah pindah agak ke depan. Mungkin karena Oji betul-betul ingin menikmati Landung Membaca Kayam. Sedangkan aku tetap bersandingan dengan Rosa.

“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap memaksaku untuk percaya itu?”
“Ya, tentu saja, Kekasih.”


Begitu kudengar Landung Simatupang membaca secuplik cerpen Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan karya mendiang Umar Kayam. (Tapi waktu itu Umar Kayam masih hidup. Beliau sendiri hadir menyaksikan cerpennya dibacakan oleh Landung Simatupang. Beliau duduk di kursi, di dekat pintu masuk, di antara penonton yang duduk di hamparan karpet.)

Aku masih di tempatku, di sebelah Rosa. Sebentar kulirik sikap Rosa. Kelihatannya dia sangat menikmati Landung Membaca Kayam. Tiba-tiba Rosa membalas lirikanku. Bola matanya bergulir di ujung mata indahnya

Alamak!

“Kamu punya permen, Ros?” pintaku pelan untuk membungkus kegugupanku.

“Ada,” jawabnya pelan sambil merogoh sakunya. “Nih.”

Permen Mentos. Ehm. Asyik juga.

“Trims.”

Rosa tersenyum manis. Manis melebihi permen pemberiannya. Manis sekali senyum Rosa. Aku tak menduganya. Terlebih suasana agak remang-remang karena lampu dipusatkan pada posisi panggung mini Landung Membaca Kayam. Tapi aku tak mau kehilangan pesona Landung Membaca Kayam.

Sepulang dari acara Landung Membaca Kayam, aku beranikan diri menggonceng Rosa. Aku merasa diriku bertanggung jawab untuk menggoncengnya, terlebih malam kian larut pada jam sepuluh lewat. Ternyata Rosa bersedia kugonceng. Kuharap Oji juga bisa mengerti kenapa aku mengambil alih kemudi motor Rosa.

***

Landung Membaca Kayam telah sekian hari berlalu. Aku gelisah sendiri di kosku. Kawan-kawan kosku sibuk dengan acara mereka masing-masing. Mungkin menggarap tugas kelompok. Atau, mungkin bermain sepakbola di lapangan dekat kosku. Mendadak sekelebat rindu menyelinap dalam hatiku. Rindu pada Rosa. Astaga!

Ya, betul-betul astaga betul! Kenapa bisa begini? Padahal, sepulang dari acara baca cerpen itu Oji telah memberi lampu merah bahwa gadis itu sudah punya pacar. Lantas? Aku hanya rindu kok, bukan ingin memacarinya. Hanya rindu. Rindu saja. Tidak lebih. Sungguh. Sungguh? Iya!

Sore itu, dengan sebuah motor hasil pinjaman milik kawan kosku yang sedang asyik bermain sepakbola di lapangan bekas petak sawah dekat kosku, aku langsung menggelinding ke kos Rosa di daerah Tamansiswa. Mumpung bukan Sabtu sore, aku punya alasan main ke rumah Rosa. Sebab, kalau Sabtu sore, jelas-jelas merupakan suatu kecenderungan! Rawan prasangka. Aku harus bisa mengelak dari sangkaan sensitif itu. Aku cuma ingin ketemu Rosa dan memandangnya. Ehm.

Sesampainya aku di indekosnya Rosa, seorang kawan kosnya menyambutku.

“Wah, Rosa sudah pindah kos, Mas.”

“Kapan? Di mana?”

“Dua hari kemarin. Kata teman-teman sih begitu. Mendadak sih. Entah pindah ke daerah mana. Soale, aku sendiri baru saja datang dari udik nih. Minggu tenang, libur satu minggu.”

Oh!

Tiba-tiba seorang kawannya lewat.

“Eh, Lyd, kamu tahu Rosa pindah ke mana?” tanya gadis yang barusan ngobrol denganku. “Lydia nih Mas yang ada di kos.”

“Ada apa, Sri?”

“Ini, Lyd, mas ini nyari Rosa.”

“Ooo…”

Aku mengangguk.

“Waaah, Rosa pindah entah ke mana, Mas. Sama pacarnya, kayaknya. Rosa, kan, sudah telat…” ujar Lydia sembari tangannya membuat garis cembung di perutnya lalu tangannya ditekuk dengan menegakkan jari telunjuk dan tengahnya.

Hamil dua bulan? Oh!

“Siapa nama pacarnya, Sri?”

“Mas Oji.”

Mas Oji? Oji? O-ji?

“Ya, begitu, Mas.”

Oh! Oji dan Rosaaaaaaah….

Setelah berpamitan aku mengajak motor pinjamanku itu ke sebuah toko buku yang selalu memberi diskon. Sejujurnya aku jelas kecewa. Tapi biarlah pesona buku-buku nantinya lebih memukauku daripada mengingat si cantik Rosa yang sebentar lagi menjadi istri Oji. Lamat-lamat suara Landung Membaca Kayam kembali mengiang di ingatanku, “Kau lambat hari ini, Charlie3).”

*******

babarsariyogya, desember 2001

Keterangan:
1) cerpen ini semula berjudul “Lambat”, namun kemudian diganti “Cinta Itu Milik Sahabatku” oleh Majalah Kumpulan Cerpen CINTA.
2) Acara pembacaan beberapa cerpen karya Umar Kayam yang dilakukan oleh Landung Simatupang dan diselenggarakan oleh Lembaga Indonesia-Perancis Yogyakarta pada 1-3 November 2001.
3) cuplikan dialog cerpen “Chief Sitting Bull” karya Umar Kayam.

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 2:17 PM.


Di bawah Bayang-Bayang Bulan

(Cerpen ini dimuat di Harian PETA NEWS, edisi Minggu, 23 Mei 2004)

Langit lapang membentang kelambu kelam. Gemintang saling mengerdip. Bulan, sang induk malam, bertengger di singgasana malam. Matanya berbinar menatap kelelapan bumi. Jemarinya bergelora merambah setiap sudut. Sang induk malam itu sedang bergairah memperkosa apa pun yang dijamahnya atau yang dikangkanginya.

Dan malam itu, ada panggilan bertalu-talu, menggema, membahana. Kata-kata diulang-ulang dengan suara gregorian dan irama naik-turun layaknya pemujaan dan sebuah persiapan upacara mempersiapkan persembahan. Suara-suara itu kian membinarkan mata rembulan, meski tanpa pujian para srigala.

Rerimbunan pohon di tepi jalan raya lintas kota itu adalah pengecualian bagi geliat liar sang induk malam. Rerimbunan pohon itu telah menghadang laju kerakusannya. Rerimbunan pohon laksana pagar betis berlaksa-laksa prajurit. Mereka sangat kokoh, tegar dan bersatu-padu menjagai jalan raya lintas kota itu.

“Berilah aku kesempatan untuk bisa meraba jalan itu,” pinta sang bulan.

“Tidak!” jawab pepohonan tegas.

“Ayolah. Bukankah saban malam aku mencumbui bumi?”

“Tidak boleh!”

“Ah, jangan begitu dong. Masak sih kalian lupa siapa aku ini?”

“Justru kau sendiri yang harus menyadari siapa dirimu dan siapa diri kami.”

“Sudahlah, nggak usah ribut soal siapa diri kita, supaya kita tak lupa diri atau bangga diri yang sebetulnya nggak perlu.”

“Kau tadi yang mulai! Pokoknya, tidak bisa! Kami bukan budakmu!”

Bulan tahu bahwa sesungguhnya pepohonan itu memang bukan budak miliknya. Manusialah yang menempatkan barisan pohon itu berdiri kokoh di pinggiran jalan ketika pepohonan itu masih sangat muda. Manusia merawat dan menyiraminya. Manusia menyiangi dedaunan yang tua. Manusia memenggal cabang-cabang yang menyeruak sembarangan.

Manusialah yang menghendaki mereka berjaga-jaga di sekitar jalan itu. Manusia menghendaki mereka bisa memayungi manusia dari cabikan-cabikan mentari tengah hari. Manusia menghendaki mereka bisa meredam keberingasan kendaraan. Manusia menghendaki mereka bisa memenggal kebisingan dan menghasilkan udara bersih untuk dihirup manusia. Paru-paru suatu daerah, begitulah. Manusia menghendaki mereka menyumbangkan daun basah untuk makanan ternak, daun kering untuk makanan tanaman dan dahan sisa untuk memasak makanan manusia. Manusia menghendaki mereka menjadi persinggahan unggas liar yang lepas berkicau riang gembira atau berloncatan di antara ranting-ranting. Manusia menghendaki mereka dapat memberi tumpangan bagi keluarga unggas itu. Dan, manusia menghendaki mereka bisa menjadi bagian dari ornamen situs bersejarah, kendati sekadar seutas jalan sepanjang kenangan dalam senandung manusia.

Sedangkan sang bulan? Siapa yang menempatkan dia berkacak pinggang di angkasa kelam itu? Siapa yang langsung menitahinya untuk menguasai malam? Bahkan, benarkah bulan itu diberi mandat menduduki tahta malam selama berabad-abad?

“Kau teramat angkuh, Nenek tua bangka!” bentak pepohonan. “Mentang-mentang berada di atas, kau merasa dirimu di atas segalanya. Kau selalu mendikte malam beserta alam di mana pun. Kau selalu lapar-haus akan puja-puji. Kau selalu menuntut puja-puji manusia, baik dalam kata, irama, lagu maupun tarian. Kau begitu sombong. Kau selalu memamerkan diri, apalagi tatkala engkau sedang berahi. Matamu melotot, terbakar api gairahmu ketika menikmati kegiatan malam. Kau pun telah merasuki orang-orang untuk melakukan kejahatan. Kejahatan malam!”

“Ah, sudahlah, nggak usahlah kalian memojokkan aku pada keburukanku.”

“Tidak! Sekarang kami akan mengupas selubung kekejian dirimu!”

Sang induk malam tampak tersipu-sipu. Memalukan! Betapa tidak. Saat itu pula para makhluk malam sedang menontonnya, lantaran dia berada di atas panggung malam. Tubuhnya gembrot di antara kemalasan kunang-kunang angkasa yang kehabisan minyak. Ia sendiri tak mengerti, kenapa tiba-tiba hasratnya begitu kuat untuk menyentuh jalan itu. Mungkin lantaran mantera-mantera sekerumunan manusia bertabur aroma kemenyan dan kembang-kembang.

“Kau menyita jatah istirahat manusia. Kau merusak tatanan kerja manusia. Kau kejam, Bulan busuk!” sergah pepohonan.

Barangkali benar begitu. Bulan telah merasuki manusia. Ia membuat manusia menjadi gila kerja. Ia menghasut manusia untuk mengkhianati matahari. Ia menyihir mata manusia menggerayangi gelap hingga menguliti gulita. Ia menggelayuti tubuh lelah manusia yang seharusnya terbaring damai dalam kelegaan guna merajut kesegaran baru Di saat siang manusia tidur pulas, tapi giliran waktu malam manusia kerja keras. Lembur tak terukur. Manusia membuka mata ketika gelap, dan menutup mata ketika terang.

Wajah bulan lamat-lamat pucat. Matanya sayu, layu. Ia memelas, berharap pepohonan itu tidak terus-terusan mengeroyok dan menyerbunya dengan sejuta hinaan. Ia mengerti bahwa dirinya adalah seperti apa yang dibongkar oleh pepohonan itu.

Ia pun sadar diri bahwa dirinya sebatang kara di kebisuan samudera malam. Semenjak ia berusaha mematangkan sebutir khuldi untuk mengelabui sepasang moyang manusia, sang surya pun tak sudi lagi bersanding dengannya. Sang surya yang semarak itu selalu menghindar di saat bulan mencuat malu-malu bak perawan dari dusun terpencil. Bahkan, ketika fajar merekah di ufuk timur, sang surya itu pun selalu acuh tak acuh mengusirnya dari kemanjaannya yang tak puas menciumi bumi semalam suntuk.

“Sudah dong, janganlah kalian bersepakat membuat semesta alam raya berpesta menertawai aku. Kasihanilah aku. Berilah aku kesempatan untuk menyentuh jalan legam di bawah sana,” rengeknya sambil mengusap-usap dedaunan, dedahanan dan bebatangan.

“Tidak, wahai Ratu malam tanpa mahkota!” serempak pepohonan menolaknya. Pepohonan kian merapatkan barisan.

***

Bulan berjuang keras menerobos benteng pepohonan. Jalan raya lintas kota yang dipagari oleh barisan pepohonan itu sebetulnya belum selesai diperbaiki. Tampak peralatan pemulusan jalan ditinggalkan teronggok di pinggir jalan. Tak khawatir kalau-kalau dicuri atau dirusak tangan-tangan jahil. Para pekerja perbaikan jalan itu seakan tak peduli dengan barang-barang itu. Padahal harganya tidaklah murah. Pembeliannya pun masih mengemis-ngemis bantuan utang luar negeri.

Sementara suasana jalan itu benar-benar gelap-gulita. Sedikit kendaraan lalu-lalang. Lampu penerang sepanjang jalan raya itu sudah lama tidak berfungsi, lantaran sering dijadikan sasaran uji kejituan oleh anak-anak kecil yang sering bermain ketapel. Dan, penerang alami yang angkuh di langit itu tengah bersusah-payah membujuk barisan pepohonan yang sangat disiplin dalam tugas.

Jalan raya lintas kota itu belum seutuhnya siap mengemban tugas mulianya. Ada bekas lubang yang masih dibiarkan separuh menganga. Ya, menganga, bagaikan mulut maut yang suatu waktu siap menelan nyawa orang-orang yang menyenggolnya. Seharusnya ditimbun. Seharusnya. Tapi entah kenapa dibiarkan, seolah sengaja.

Sebuah sepeda motor mendekati daerah tersebut, sebab itulah jalan satu-satunya yang menghubungkan antara daerah tinggalnya dengan kota. Pengendaranya adalah sepasang suami-istri yang telah berusia setengah baya. Kedua pasutri pulang dari resepsi pernikahan sanak-saudara di kota.

Malam tenggelam dalam kelam paling dalam. Jalanan didekap kegelapan tak berujung. Pandangan uzur keduanya pun telah kendur. Tidak bisa melihat keadaan jalan secara jelas. Lantas, pada saat kendaraan mereka melaju cukup kencang untuk mengejar waktu yang berpacu, pada saat kendaraan mereka mengoyak kerubutan kelam, roda menggelinding cepat ke arah lubang yang menganga tadi. Memang menganganya tidak terlalu dalam. Tapi, lebih dari cukup untuk menjungkirbalikkan kendaraan roda dua.

Roda kendaraan telah menyerempet bibir lobang. Sang pengemudi terkejut. Sang pengemudi tak mampu berkelit. Kendaraan jadi goyah. Akhirnya, kedua pasutri itu jatuh. Pastilah keduanya terluka parah tak terkira. Pastilah patah-patah dan pecah-pecah.

Namun tak usai sampai patah-patah dan pecah-pecah. Malangnya lagi, dari arah belakang meluncurlah bis antarkota yang melaju kencang. Menghantam, … Akhirnya ….

***

Teriakan puluhan penduduk kampung memenggal kegiatan bulan yang masih saja memohon-mohon pada pepohonan. Jeritan penumpang bis yang ketakutan pun semakin merobek selaput sunyi. Teriakan berbaur jeritan mereka sampai menggugah kelicikan bulan. Dan, sewaktu api yang melumat tubuh bis itu telah menyemburat ke udara, tercenganglah pepohonan dan sang induk malam.

“Tepat sekali doa-doa itu!” seru batin sang induk malam teringat sesuatu. Hasratnya yang menggebu tadi lantaran pawai mantera roh-roh di sekitar jalan itu beberapa magrib lalu sewaktu mereka mengadakan pemujaan pada bulan. Mantera mereka menyebut-nyebut anggur dan madu. Mantera mereka menggemakan pesta pora. Mantera mereka mengungkapkan kesetiaan dan ketaatan mereka kepada sang induk malam, junjungan mereka. Mantera mereka adalah nyanyian maut kesukaannya. Para pemuja rembulan bersuka ria tak terkira.

Tinggal menerobos kekuatan pepohonan itu, batin bulan.

Oleh karena itu, kali ini ia semakin bersemangat hendak menerobos benteng-benteng tepi jalan yang rimbun itu. Ia makin bergelora. Ia menggali lagi akalnya untuk segera bisa mengangkat kelicikan, lalu bersiap-siap menyelinap diantara kempitan dedahanan, dedaunan serta bebatangan. Ia sudah dilanda dahaga itu.

Entah dari mana, tiba-tiba angin berhembus. Lambat-laun menerpa dan menggoyang. Pepohonan jadi sempoyongan. Dedahanan goyah. Dedaunan panik.

“Berjaga-jaga!” peringatan dedaunan.

“Eratkan ikatan kalian!” komando pokok pohon.

“Ya, ya! Tapi kami kekuatan kami terbatas!” sahut dedahanan.

Mereka bersusah payah mempertahankan rangkulan dedahanan mereka. Sayang sekali rangkulan mereka terlepas. Dedaunan tercerai-berai. Alhasil, bulan memanfaatkan peluang ini.

“Aku berhasil! Aku berhasil! Aku berhasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil!” teriak lantang sang bulan mencekam malam setelah ia meraupi dirinya dengan darah beserta serpihan kemalangan pasutri itu. Ia tertawa terbahak-bahak di singgasananya. Ia mabuk tak terkata. Sebab, tadi-tadinya ia tak mengerti kenapa harus merengek-rengek.

Sementara keping demi keping daun berguguran di sekeliling pepohonan yang bungkam dalam duka sekaligus penyesalan paling dalam. Orang-orang masih melantunkan lagu pujian bagi sang ratu malam yang tengah berenang riang di genangan darah pasutri itu.

*******
babarsarijokja, 2002-2003

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 2:13 PM.


| + Sunday, April 18, 2004 + |

Surat Cintamu

Matahari jingga memiring di langit barat kampung kita saat aku turun dari angkutan antarkota yang tepat berhenti di depan rumah kami. Ragaku lelah, jiwaku lega. Ragaku lelah, karena…

Oh iya, maaf, Sayangku, aku belum memberi kabar padamu, bahwa selama nyaris satu bulan ini aku tidak pulang, karena aku bergabung dalam proyek pembangunan hotel burung walet di pesisir selatan bagian barat pulau kita yang jarak tempuhnya sekitar lima-enam jam dari kampung kita. Mungkin kamu tahu, angkutan ke sana hanya terdapat pada jam-jam tertentu. Sekitar jam 11.00 dan jam 14.00. Padahal aku harus mulai bekerja dari jam 08.00 sampai jam 16.00 sejak hari Senin hingga Sabtu. Kalau aku pulang setiap hari Sabtu siang, berarti dalam satu bulan upahku terpotong sekitar empat kali.

Jiwaku lega bahkan menjadi bahagia ketika kudapati dua surat darimu telah menungguku di rak kecil di sebelah almariku. Surat-surat cintamu selalu menyenangkan hatiku dan dirimu selalu kurindu. Saat ini kubaca seraya membayangkan dirimu, Sayangku. Meskipun tidak lebih dari dua lembar, aku lebih suka membaca surat-surat bertulis asli dari liukan jemarimu daripada berlembar-lembar kamu tuliskan isi hatimu dengan mesin ketik atau memakai komputer yang sungguh-sungguh telah menggantikan hasil seni murni alami dan bahasa hatimu.

Aku kuno dan kampungan, ya?

Jelas begitu, Sayang. Aku kan masih tinggal di kampung kita yang telah kamu tinggalkan, merantau ke Kota Mahasiswa selama beberapa tahun ini demi menyelesaikan pendidikanmu di sebuah universitas. Soal ongkos, bukan masalah berat bagi orangtuamu yang mempunyai jabatan penting di kecamatan, juga memiliki kebun sahang berhektar-hektar, dan enam toko kelontong yang selalu ramai pembeli. Apalagi kamu dulu berada pada ranking tiga besar setiap menerima rapot. Sedangkan aku?

Aku hanya lulusan SMP yang harus kembali ke kebun sahang milik ayahku yang luasnya tidak sampai satu hektar itu. Bibit sahang ditanam tidak tiba-tiba berbuah. Ada rentang waktu bertumbuh dan entah kapan berbuah. Usai tanam bibit dan pasang kayu junjung, aku pun boleh pergi, bergabung dengan kawan-kawanku di proyek apa pun.

Sebagai anak laki-laki, kendati bukan anak sulung, aku tetap harus bekerja. Keluarga punya kebutuhan pokok juga. Beras, gula, minyak tanah, dan lain-lain. Kami tidak punya sawah, dan kondisi tanah kampung kita yang kuning dan keras, tidak cocok untuk tanam padi. Sistem irigasi pun tak ada. Beras pasti didatangkan dari pulau lain. Selain itu, minyak tanah hari ini bisa ada, besok tiada, lalu muncul lagi dengan harga yang bertambah sekian ratus rupiah bahkan bisa ribu rupiah. Ditambah lagi harus antri di rumah balai kampung setiap dua bulan sekali dengan jatah 20 liter per keluarga.

Ya, beginilah nasibku, Sayang. Tapi aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa, karena keberadaan dirimu selama ini lebih dari cukup bagiku untuk bersyukur dan memaafkan apa dan siapa pun yang telah andil dalam nasibku. Dan suratmu ini sangat menghibur diriku yang tengah lelah raga, kendati aku belum sempat membalasnya.

Manakala membaca suratmu, aku sering membayangkan alangkah tekunnya kamu melakukannya. Menulis, membaca ulang, mencoreti yang tidak pas di hati, memperbaiki, mengambil lembaran baru, menulis ulang, membacanya lagi dengan mencermati setiap kalimat, membuang lembaran yang keliru, meneliti lagi, menulis ulang, membuang lembar yang keliru lagi, membaca kembali, dan seterusnya hingga betul-betul siap masuk amplop. Huruf-huruf cantik memang sudah mengalir lancar dari jemari lentikmu. Tetapi kata-kata yang padat-akurat tentu tidak sembarangan bagimu yang berpendidikan tinggi.

Kok Abang tahu? Barangkali begitu tanyamu.

Jujur saja, aku pernah diam-diam mengendap di dekat jendela kamarmu waktu kamu sedang asyik menulis surat balasan untukku. Waktu itu sekitar pukul dua siang. Mungkin seusai kamu makan sepulang sekolah. Kebetulan aku baru pulang dari kebun sambil memanggul pacul, melintasi jalan samping rumahmu yang sering kupakai untuk jalan pintas dan memang pekarangan rumahmu selalu terbuka untuk siapa saja, termasuk aku yang bertetangga tepat di samping rumahmu. Begitu aku melihat kamu sedang asyik di meja belajarmu, aku menoleh ke samping dan ke belakang. Setelah itu aku mendekati rumahmu, dan mengintipmu. Rupanya kamu sedang menulis surat.

Kuintip dirimu yang tengah asyik menulis. Kadang berhenti sejenak, dan kamu bersenandung. Lagu cinta. Tiba-tiba tersenyum. Lalu matamu menatap langit-langit kamar. Sesekali aku menoleh ke samping dan ke belakang. Aku kuatir kalau kepergok dan digebuki orang sekampung. Aku hanya ingin melihatmu menulis sebuah surat cinta secara nyata, bukan untuk hal tak senonoh. Akhirnya, sebelum kamu memasukkannya dalam amplop, aku bergegas mundur dan berjalan santai sembari bersiul.

“Bang Oji,” sapamu dari jendela.

Seketika kupasang muka karet. Pura-pura kaget. Sebenarnya aku gugup!

Badanmu menekuk, lehermu menjulur, dan kepalamu keluar jendela untuk memastikan ada siapa lagi selain aku. Setelah keadaan aman, kamu segera menyodorkan surat itu. Surat super kilat! Kamu tersenyum tanpa bicara apa-apa. Senyummu sangat menyejukkan penatku setelah membabati ilalang yang merajalela di kebun kami.

“Makasih ya.”

Kamu hanya mengangguk dan tersenyum lagi. Bibirmu yang berwarna merah muda itu mirip lumeran es tung-tung di belahan roti tawar. Mmm…

Kamu memang teliti pada huruf, kata dan kalimatmu, disamping tulisanmu sangat indah. Ya, sangat indah, dibanding beberapa tulisan perempuan yang selama ini aku lirik dari buku-buku atau tulisan pendek pada daftar belanja orang-orang di pasar. Bahkan, tulisan adik perempuanku pun kalah jauh dari tulisanmu, apalagi tulisanku yang sangat tidak didukung oleh suasana barak-barak darurat para kuli. Tapi aku terhibur atas permaklumanmu pada model tulisanku yang mirip anak SD sedang belajar menulis abjad dan huruf latin. Jemariku tidak akrab dengan pena dan kertas. Berbeda dari jemarimu yang lincah berdansa dengan pena di atas pentas kertas hingga menghasilkan huruf , kata dan kalimat yang terjalin menjadi tulisan yang kurindukan.

Kubayangkan pula ketika kamu melipatnya secara teliti dan hati-hati seolah lembaran kertas itu terbuat dari lepengan emas. Selalu dengan lipatan simetris dan rapi. Tidak ada lipatan aneh-aneh. Tapi, ketika lembar surat telah terlipat, aku yakin, kamu tidak akan terburu-buru menyelipkannya ke dalam amplop. Kamu akan mengambilnya dan membacanya kembali.

Berikutnya, amplop. Kamu tentu sudah menyiapkannya. Warna biru muda. Polos. Tanpa kembang atau gambar hati. Selalu begitu sejak surat cinta pertama kuterima darimu. Kamu pasti punya alasan tersendiri, kenapa senantiasa begitu, bahkan mungkin sebagian dari prinsipmu mencinta. Begitukah?

Lalu, apabila lembar surat sudah terlipat, masuk amplop, dan terekat, kamu akan pergi ke kantor pos atau hanya mencemplungkan dalam bis surat yang terlebih dahulu amplopnya sudah kamu beri perangko. Kalau di daerah kita, kantor pos hanya ada di kecamatan yang berjarak lima kilometer dari kampung kita. Bagaimana dengan kantor pos di daerah perantauanmu kini, Sayang? Dekatkah jarak pondokanmu dengan kantor pos? Atau sama, lima kilometer juga? Transportasinya bagaimana? Seandainya hujan berhari-hari, apakah kamu akan berjuang mengantarkannya ke kantor pos demi aku? Tentang kantor pos ini, kamu belum satu kali pun menyinggungnya.

Mungkin saat ini kamu bertanya, “Untuk apa semua rincian ini?”

Sayangku, seberapa rinci aku membayangkan jerih-payahmu menulis hingga mengirimkan surat itu padaku, tentu saja aku wajib menghargainya. Perbedaan kondisi dan situasi kita sekarang justru membuatku lebih serius lagi dalam menghargai cintamu.

Jujur saja, aku sering bertanya pada diriku sendiri, kenapa cintamu tetap menggebu? Bukankah di sekitarmu bertaburan mahasiswa yang lebih segala-galanya dibanding aku? Gadis secantik dan sepandai kamu pasti mudah mendapat kekasih yang sepadan. Setiap aku membantu mamamu merawat taman, beliau sering cerita bahwa hasil ujianmu selalu bagus, punya banyak kawan, aktif mengikuti organisasi ini-itu…

Sayangku, apakah kamu pengagung cinta pertama itu? Apakah, menurutmu, cinta orang-orang kota sudah terpolusi oleh materi atau birahi? Apakah para mahasiswa itu pernah menunjukkan perilaku yang mengecewakanmu? Apakah kamu sama sekali tidak percaya pada cinta di kota besar yang kini akrab dengan budaya selingkuh itu? Jawablah, Sayangku. Jujurlah.

*******
bumiimaji, ujunghidung 2003

[cerpen dimuat di harian BATAM POS, edisi Minggu, 18 April 2004]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:28 AM.


Maling Itu Boleh ?

Aku berasal dari sebuah kampung di pinggir suatu kota yang tak pernah disambangi salju satu kali pun. Kampungku pun tak pernah dilanda banjir satu kali pun. Yang selalu ada ialah kemarau di hati kami. Serius. Kalau kau hendak menanyakan apa nama kampungku, mudah. Asli! Kalau kau baca ceritaku ini, kau bisa tahu di mana kampungku.

Dibanding kawan-kawanku, aku sebenarnya tidak tertarik bermain keluar-masuk kebun milik entah siapa. Ayahku yang guru sekolah menengah dan ibuku yang guru sekolah dasar swasta pun tak pernah seenaknya keluar-masuk kebun orang di sekitar rumah kami. Kalau pun terpaksa lewat sebuah jalan kecil yang membelah ilalang, ayah-ibuku selalu akan beramah tamah dengan ke rumah si pemilik kebun yang tidak jauh dari kebun itu. Paling tidak, ayah-ibuku akan bilang, “Permisi. Maaf, numpang lewat.”

Kawan-kawanku tidak begitu. Tapi aku coba ikut kawan-kawan kampung. Aku juga belum mengerti apa itu solidaritas dan kompromi. Istilah entah apakah. Ya apa boleh buat. Aku dan kawan-kawanku langsung saja lewat. Aku dan kawan-kawanku tidak peduli kebun punya siapa, siapa pemiliknya, di mana pemiliknya. Kalau ada pemiliknya pun, kawan-kawan tidak hirau. Anggap saja ada patung di kebun untuk menakuti-nakuti anak-anak kampung. Apalagi kalau si pemilik kebun sudah menaikkan tangan yang berujung parang. (Kami selalu menganggap si pemilik kebun itu adalah orang jahat, kejam, tak punya rasa persahabatan dengan kami. Bila orang itu marah, kami akan mengadu ke orangtua. Aku?)

Dan, kami akan datang lagi di hari lain. Kami tidak peduli matahari sudah di mana. Kami hanya peduli pada sebatang pohon jambu air yang buahnya sedang lebat dan putih-putih pulen. Putih-putih yang menyeruak di antara hijau-hijau. Kali ini kami mau menyenangkan hasrat tualang kecil kami, anak laki-laki. Ini laki-laki! Suara kami bergetar.

“Ayo ke kebun Pak Oji si sipit.”

“Ayo.”

Aku pun ikut karena kawan-kawanku tidak ada yang di rumah. Kawan sebayaku tidak ada selain mereka. Kami berjalan seperti berbaris membelah hamparan ilalang. Ada bekas belahan. Belahan yang dihasilkan oleh jejak-jejak kaki beberapa tetua di kampung kami yang membunuhi anak-anak ilalang. Kami ikut melakukannya hampir setiap hari setelah seragam putih-merah kami tanggalkan ke dalam tas atau kami lipat di buku catatan.

Sebatang pohon jambu air sudah menanti. Benar, buahnya lebat. Putih-putih pulen. Rupanya kawan-kawanku tidak bohong (Kawan-kawan selalu bilang “sumpah demi Tuhan” sambil menyodorkan tangan dengan jemari mekar. Bohong itu dosa. Aku pasti percaya). Mata kawan-kawanku berbinar-binar. Aku ngiler. Kepala kami berputar ke segala penjuru kebun. Awas kalau ada lelaki yang mengangkat tangan berujung parang!

Aman. Kami bagi tugas. Sebagian memanjat. Sebagian lagi memunguti tuaian. Adil. Kerja sama siap dijalankan. “Ssst… Jangan bising.” “Sssst…” “Ya, jangan berisik.” Biar si pria bertangan parang tidak mendengar kemudian kemari. Baiklah. Kami sepakat. “Sssst…”

Hup! Beberapa kawan langsung memeluk batang pohon, perlahan naik. Aku dan sisanya sebentar mendongak, sebentar menyapu pandang ke segala penjuru demi bahaya tangan terangkat berujung parang. Berdebar-debar. Senang, khawatir.

Senang dan khawatir terus berjoged duet. Kawan yang di atas menjatuhkan buah. Kami yang di bawah menadah, memunguti, mendongak, menoleh kanan-kiri. “Ssst… yang sebelah sini, banyak.” “Sssst, jangan berisik!” “Iyaaa… Bukan aku!” Kawan yang di atas mengisi kantong sambil mengunyah. Kami yang di bawah juga begitu. Kantong baju dan celana terisi penuh. Mulut kami pun mengunyah tiada henti. Sepasang mata sipit pria yang bertangan parang menyelinap dari balik batang jering ke sela-sela kantong kami.

Kawan yang di atas turun kembali. Kami yang di bawah menanti. Sesudah semua turun, kami pun berlari melewati belahan ilalang yang anak-anaknya mati. “Sssst… Kalau Pak Oji itu mengejar, kita lempari batu ya.” “Iyaaa…” Sepasang mata sipit mengekori kaki kami. Di teras rumah kawanku kami berhenti. Nafas-nafas kami mendaki-menuruni. Ada lega di hati. Aku khawatir jika tiba-tiba ayah-ibuku menemukan aku di rumah itu, sebab aku pasti didera ayahku atau dicambuk ibuku jika ketahuan mengambil tanpa minta ijin.

Di rumah itu ibu kawanku dan kakak kawanku melihat di kantong kami penuh jambu. Kakak kawanku bilang, “Sini bagi.” Maka kami pun berbagi. Kami beri. Kami tidak mau disebut pelit. Kami suka dibilang baik hati. Di dapur kawanku menggerus garam-cabe. Kami menikmati sedapnya jambu air putih pulen. Basah-basah manis pedas asin. Air mata menetes. Ingus meleleh. Bibir-bibir membasah, memerah. Tapi betapa sedap. Sebentar rasa itu telah mengolesi mulut tanpa ada lagi jambunya.

“Besok kita cari lagi.”

“Cari atau curi?”

“Cari. Kalau curi itu maling.”

“O, begitu. Yang kita makan?”

“Jambu air. Tidak masalah.”

O, tidak masalah.

Rupanya ada peraturan lain di luar rumahku. Aku patuh, sebab aku khawatir mereka menjauhiku karena aku membawa peraturan ayah-ibuku. Ada maling yang diperbolehkan?

Maling itu boleh, kalau memang terjepit. Maling itu boleh asalkan memang untuk dimakan. Kalau lapar, kita boleh maling. Itu tidak berdosa. Yang berdosa itu kalau kita maling untuk kita jual. Maling untuk mendapat untung, itu baru dosa namanya.”

Itu kata mereka. Bukan kataku. Sungguh. Asli. Sumpah! Ayah-ibuku pun tak pernah bilang begitu. Aku baru merogoh tas kecil ibuku dan kepergok ayahku, aku sudah kena jewer dan tempeleng. Ayah-ibuku bilang, “Jangan mencuri, mencuri itu dosa.” Ini perintah. Tapi, apakah sebenarnya maling itu boleh? Maling itu boleh? Bolehkah?

Ayah-ibuku payah! Bikin perintah tidak seperti orang lain! Mengekang kebebasan!

“Besok kita cari lagi ya setelah pulang sekolah.”

Kalau aku tidak mau, mereka tidak mau lagi main dengan aku. Kalau mau, kan tinggal bagaimana caranya agar tidak ketahuan si pemilik jambu dan tidak kepergok ayah-ibuku.

Tiga perempat hari kawan-kawanku bermain lagi di kebun itu sambil membawa kantong plastik asoy. Aku tidak ikut, karena ayah-ibuku sudah pulang. Aku harus bermain atau baca-baca komik dulu di rumah sampai ayah-ibuku terlelap dam istirahat siang. Cepatlah tidur, Yah, Bu. Istirahatlah. Ayah, Ibu kan lelah. Ketika kuintip mata-mata beliau terpejam, kakiku pun meloncat seperti kancil lepas kandang. Tra la la tri li li…

Di halaman rumah kawanku kulihat dua sepeda mini tergeletak. Mungkin mereka ada. Lantas kucari mereka. “Wah, lumayan banyak ya. Coba ditimbang.” Nah, itu suara mereka. Sambil duduk di lantai dapur, mereka menaruh kantong asoy di atas timbangan kecil yang biasa untuk menimbang telur, bawang, cabe, gula. Ibunya sedang memarut kelapa di dekat mereka.

“Banyak begini kok dibiarkan saja sampai merah legam rontok banyak.”

“Matanya terlalu sipit sih, jadi sulit melihat yang begini ini.”

“Eh, kira-kira ada berapa kilo?”

“Berapa kilo… Mmm… Satu, dua, tiga… Lima kilo lebih dikit. Anggap lima kilo.”

“Lima kilo? Lima kilo dikali… Bu, satu kilonya di toko Bi Suri berapa harganya?”

“Enam ratus. Kalian mau jual pada Bi Suri? Mudah-mudahan Bi Suri mau beli lebih enam ratus rupiah per kilo.”

“Kata ibuku, harganya enam ratus. Nah, berarti lima dikali enam ratus. Coba hitung.”

“Li-ma di-ka-li e-nam ra-tus sa-ma deeeeeeee-ngan…”

“Lima dikali enam ratus, berapa? Bodoh! Menghitung segitu saja nggak bisa.”

“Sebentar. Sabar. Orang sabar itu disayangi Tuhan. Li-ma ka-li e-nam sa-ma de-ngan ti-ga pu-luh. Tambah dua nol lagi di belakang nol. Ja-di… nol nol nol. Tiga ribu.”

“Tiga ribu rupiah! Cihuuuuuuuy! Bakal dapet tiga ribu…”

Aku melongok. Mereka mau menawarkan apa. O, belinju.

Kawan-kawan membereskan kembali perkakas itu. Selesai. Lalu bergegas ke arah dua sepeda yang tergeletak tadi. ”Kalian tunggu di sini dulu, kami mau ke toko Bi Suri.” Aku dan dua kawanku mengangguk. Kami tidak ikut karena jumlah sepeda kurang.

“Besok kita nggak usah cari jambu. Kita cari rambutan di kebun Apin si mata sipit.”

“Iya, bener. Rambutan gajah di sana sudah berbuah, masak-masak.”

Apa aku harus mengikuti ajakan kawan-kawanku? Kali ini aku tidak bisa mengikuti ajakan kawan-kawanku. Aku pilih pulang ke rumah dengan alasan apa saja. Sebab, dua hari lalu aku diajak ibuku membeli rambutan milik Apin langsung di kebun Apin yang bakal menjadi tempat kejadian perkara itu. Sebagai guru dan tinggal di kampung, ibu dan ayahku sangat dikenal, sehingga ketika membeli itu aku malah disuruh memanjat sendiri, makan sepuasku, dan pulang membawa rambutan yang dibeli ibuku dengan jumlah yang tidak sebanding dengan beberapa lembar ribuan.

Sampai ketika aku sudah memakai seragam putih-abu-abu, aku masih bermain dengan kawan-kawanku, walaupun sudah tidak lagi mengikuti kebiasaan mereka. Karena aku sendiri sibuk dengan kegiatan di sekolah. Latihan voly dua kali seminggu, sepakbola dua kali seminggu, mengurusi majalah sekolah, ada pelajaran tambahan, praktikum, dan lain-lain. Belum lagi ikut bimbingan seni rupa, belajar di bengkel sastra, atau plesir.

Sementara sebagian kawanku sudah bisa membawa pulang besi-besi rongsokan, perlengkapan kamar mandi semisal kran model mutakhir, keramik asli buatan Tiongkok, cermin rias besar, pompa air Sanyo, tegel, kaca nako, pakaian setengah basah, sepatu, sandal, genteng, ember, kompor gas, gelondongan kabel telpon dan entah apa lagi yang mereka temukan entah di mana. “Daripada teronggok bengong, ambil saja,” alasan mereka selalu begitu.

Orangtua mereka sendiri tak pernah menanyakan benda-benda itu milik siapa, ambil dari mana, bagaimana cara mengambilnya, atau asal-muasal apa pun. Yang bertanya justru bapak-bapak polisi yang mengangkuti beberapa kawanku ketika digrebek saat mereka mengambil lempengan besi dan peralatan-peralatan mesin di bengkel kapal keruk. Di kantor bapak-bapak itu beberapa kawanku menginap dengan muka bengap dan bibir bengkak. Entah sampai berapa hari di kampung kami tidak akan terlihat kawan-kawanku yang biasa bersenda gurau sambil mengepulkan asap rokok dari hasil mengambil tanpa ijin saat sang penjual rokok lengah karena sibuk melayani pembeli lainnya.

*******
bumiimaji, november 2003

[cerpen ini dimuat di harian BANGKA POS, 28 Maret 2004]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:21 AM.