blog*spot
get rid of this ad
[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]
C
E
R
P
E
N

P
I
L
I
H
A
N

P
R
I
B
A
D
I
B
e
l
u
m

S
e
l
e
s
a
i

L
h
o

i
n
i

!!

MAAF DARURAT
Cerpen-cerpen ini
pernah dimuat
atau juga ikut
lomba/sayembara
(sering kalah aja!)


PERINGATAN
DILARANG
MENJIPLAK /
MEMUAT /
MENYADUR /
MENGGANDAKAN /
MENYIARKAN
TANPA IJIN
DARI PENULIS






















AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka
dan pernah mencicipi bangku
pendidikan Arsitektur di
Universitas Atma Jaya
Yogyagyakarta
[www.calonceritapendekis.
blogspot.com
]


=====================
JALINAN KISAH
=====================

ANTOLOGI PERTAMA
ANTOLOGI KEDUA
ANTOLOGI KETIGA
CERPEN MINI
BEDAH CERPEN
ESAI CERPEN
LOMBA CERPEN


* * * * * * *
ARSIP-ARSIP KASIP
* * * * * * *

=====================
JALINAN KATA
=====================

SAJAK SERIUS
SAJAK SLENGEKAN
SAJAK SAYANG
SAJAK PAMFLET

* * * * * * *

=====================
JALINAN KARYA
=====================

KUMPULAN KARTUN
KUMPULAN ILUSTRASI
GAMBAR OBLONG

* * * * * *

=======================
@2003 onoy budak bangka
[
ID YM : sayawahyono]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Alamat e-mail :
sayawahyono
@yahoo.com

=====================















[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]

===============
:: JALINAN JIWA :: ===============
==> Nanang Suryadi
==> Kunti Hasto Rini
==> Hasan Aspahani
==> Qizink dan Dewi Laras Biru
==> Sihar Ramses Simatupang
==> Meli Indie
==> Ramon Damora
==> Pulung Amoria Kencana
==> Sazano
==> Indah Irianti Putri
==> Arwan dan Yulie
==> SN Mayasari H
==> Dobby dan Wida
==> Cecil Mariani
==> Moyank D.I.
==> Randu Rini
==> Adi Susilo Wibowo
==> Arwan Maulana
==> Idaman Andarmosoko
==> Adhika Ninus Annissa
==> Yulianti
==> wida sireum hideung
==> Bleem (e-nya 2 lho)
==> Edsen Medan
==> Tantry
==> Omprit Abrimanyun
==> Ventri Jatinangor
==> Ida Hongkong
==> ERIA
Masih Kosong, Anda berminat?


=====================
JALINAN LAIN
=====================
CYBERSASTRA
BUMIMANUSIA
SARIKATA
INFO CERPEN KORAN

* * * * * *

Name :
Web URL :
Message :






























| + Sunday, August 24, 2003 + |

PANGGILAN

Lelana ing langit biru
Semi mamring, nglangut, samun
Jembar bawera tanpa wates
Bebasan godong garing
… 1)

Aku terjaga. Kukucek-kucek mataku. Aku tidak sedang bermimpi. Nyanyian beraliran rap dengan melafalkan geguritan begitu rapat mencumbui lubang telingaku. Suaranya begitu enteng menyelusuri saraf-saraf dengarku sampai ke lipatan otak dan membuka file-file memoriku seolah-olah tengah mengundang kedatanganku. Aku hafal suara pelantunnya. Aku sudah intim dengan jenis vokalnya. Vokal milik seorang gadis. Ya. Langen Kirana! Aku tahu Langen Kirana sedang melantunkannya. Mungkin saat ini dia sedang mandi. Atau, sedang berdandan. Mungkin malah sedang berberes-beres…

Berberes-beres? Kamu mau pergi, Kirana? Astaga! Aku ingat. Kamu pernah bilang padaku bahwa kamu akan pentas musik posmo hari ini. Ya, begitu. Betul!

Tapi, di mana aku kini berada? Suasananya tidak seperti di kamarku. Suhu ruang asing ini panas, dinding putih polos, satu unit komputer terbungkus plastik, lemari kayu cukup besar, gudang mungil berisi kardus, koper dan sebuah lampu petromak, dan suara musik senam pagi. Jelas ini bukan suasana kamarku, rumahku.

Aku memang tidak tengah bermimpi. Apalagi ketika kurasa badanku pegal-pegal dan sakit di sepanjang punggung. Aku tadi tidur di ranjang kayu berkasur kapuk mati. Ini kasur atau tumpukan papan lapuk, kerasnya minta ampun. Lalu … Kreok! Kretek! Krek! Aku menggeliat sedikit saja, ranjang kayu ini langsung bersuara.

Kulirik arlojiku. Pukul 11. 45 WIB. Ya, aku baru ingat. Saat ini aku berada di rumah kawanku, di kamar tamu. Tadi pukul 06.00 aku tiba di rumahnya. Sebulan silam aku sudah berjanji padanya bahwa aku akan berkunjung. Kunjunganku kali ini adalah bagian dari petualangan jarak jauhku, menyusuri kota-kota selama cuti. Kebiasaanku memang begitu. Di samping tamasya, juga untuk menambah wawasan terkini.

Jrek jrek nong
Jrek jrek gung
Blakdug blaknong
Blakdug blakgung
… 2)

Tunggu sebentar, Kirana. Mainkan dulu musikmu, isilah waktu. Sekarang aku harus mandi lagi dan menaburi diri dengan wewangian sebelum menjumpaimu.

***




Kupacu motor laki bermesin dua tak-ku. 50 km/jam… 80 km/jam… 100 km/jam… 110 km/jam… Motorku meraung-raung di kolong-kolong jalan layang. Aku seperti kesetanan merobek keramaian jalan. Para pengendara di sekitarku tidak sedikit pun melirikku. Mereka memang tidak peduli. Kalau pun ada yang melirikku, paling-paling lantaran posisi motorku yang nyaris menyenggol mobil mewah mereka.

Kirana, Kirana… Umpama kamu melihat kencangnya laju motorku, kamu pasti akan menutup matamu sampai aku berdiri tanpa motor ini lagi di depanmu. Padahal aku sudah biasa begini, Kirana. Kalau aku keluar kotaku, entah ke Pasir Putih atau Selekta, pastilah motorku akan melaju kencang. Tapi kali ini memang lain, Kirana, terlebih aku telah memacu motorku ini hingga ke kotamu, Jakarta ini. Kamu harus terbiasa dengan kebut-kebutanku. Sebab kelak aku akan mengajakmu berwisata di pesisir utara-selatan Jawa, atau sekitar puncak Bogor, Lembang, Kopeng, Kaliurang, Tawangmangu, Tengger, Bromo dan lain-lain, pasti aku akan memacu motorku sekencang ini.

Motorku menuju persimpangan. Dari jauh kulihat traffic light menyala warna merah. Sialan! Betul-betul sialan! Kecepatan motorku dari 115 km/jam lambat-laun menjadi 50 km/jam, 25 km/jam dan akhirnya 0 km/jam. Serta-merta pengemis, pengamen dan penjual koran menyerbu. Seorang pengemis cilik dengan muka memelas datang menghampiri motorku. Aku bergeming. Kutengok di pinggir persimpangan itu, ada sekelompok anak kecil berpakaian lusuh sedang bermain. Wajah mereka sama sekali tidak tergores kejamnya tekanan ekonomi dan tuntutan perut.

Sewu dalane pati
Sewu dalane rejeki
Manungsa mung sadrema nglakoni
Jagat iki pancen kebak pitakon
… 3)

Mentari tengah hari begitu bengis menikam kulit tatkala terus terngiang suara Kirana melagukan geguritannya. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri secara lebih leluasa. Aku waspada, kalau-kalau muncul kelompok penjahat dan langsung merampas motor kebanggaanku. Bisa-bisa aku menangis darah jika perampok keji itu merampas motorku ini, karena aku membeli motorku ini betul-betul murni dari tetesan peluh selama sekian tahun aku bekerja keras sebagai apa saja asalkan halal.

Aku tahu, dan bukan sesuatu yang heboh lagi bahwasanya penjahat di Ibukota ini sering nekat. Contohnya kelompok Kapak Merah. Mereka berani menodong di persimpangan jalan dengan bersenjatakan kapak merah, lalu minta handphone – untung aku belum punya - dari pengemudi mobil pribadi yang tampak borjuis. Begitulah singkatnya. Kalau tidak nekat, bakal rugi jadi penjahat. Seperti di kampungku dulu, kawan-kawan mencuri rambutan secara berombongan dan membawa karung.

Sialan, lampu merahnya menyala lama sekali! Cakar-cakar matahari begitu liar membobol jaketku, ditambah uap aspal kerontang mengipas-ngipas suasana. Bangsat, kota ini panasnya minta ampun! Gara-gara gedung-gedung kaca yang pongah, oksidasi melebihi ambang batas, pemanasan global dan segala kebiadaban lainnya! Sialan, bisa matang aku kalau begini terus!

Aduh, sampai kapan nyala merah ini berakhir… Belum lagi di depan sana akan ada traffic light-traffic light lainnya. Aku benar-benar bisa telat nih! Bagaimana kalau tiba-tiba hujan dan ada banjir menghadang?

Kulirik angkasa. Langit cerah. Mustahil tiba-tiba hujan deras dan banjir bandang. Ya, ya, ya… aku mengerti jika mendung berbondong-bondong dan bergelagat hendak memberondong Ibukota ini dengan hujannya. Artinya, banjir pasti sudah nongkrong. Banjir di kota yang dihuni oleh banyak kaum intelektual ini seharusnya bikin malu. Sudah jelas hampir setiap tahun kota ini diintimidasi banjir bahkan tahun 2002 kemarin nyaris menenggelamkannya, kok ya bisa terus banjir.

Kirana, hari ini hambatanku bukanlah soal banjir. Jadi kumohon, tambahkan sekilan lagi kesabaranmu. Sekilan saja untuk menahan langkahmu sebelum aku tiba di rumahmu. Aku ingin mengantarmu ke pentas musikalisasi geguritanmu, juga menikmati aksi panggungmu, menyaksikan caramu menyihir penonton dengan …

Kamu memang cantik, Kirana. Percayalah padaku, kamu cantik sekali. Sebab aku sudah menjelajahi kota-kota bahkan kampung-kampung, belum pernah kutemukan cewek-cewek mana pun yang pesonanya menandingi dirimu. Hidung mancung, mata bulat membinar, bibir merah basah merekah, dagu oval, rambut hitam panjang bergelombang, bentuk tubuh mirip gitar akustik di ruang kerjaku, dan tinggi badanmu sepantar denganku. Apalagi olah vokalmu yang dahsyat, dibarengi olah muka yang memikat serta olah gerak tubuh yang bersemangat.

Aduhai, Kirana… Para penonton pasti tersihir! Mereka pasti terpukau seutuhnya. Terlebih kepiawaianmu menghidupkan keakraban bersama para penonton. Ah, mereka pasti ingin menyentuhmu, Kirana. Aku yakin sekali. Untung kamu bukan penyanyi dangdut pinggiran yang hanya suka dan sanggup membakar berahi seperti beberapa penyanyi dangdut di sebuah taman hiburan rakyat. Bukan! Betapa tidak, Kirana! Beberapa penyanyi dangdut bergoyang dengan cara memutar-mutar pinggul perlahan… perlahan… ngebor perlahan… ah… ah… ah… erotis sekali mirip film porno yang pernah kutonton bersama kawan sekolahku. Ya ampun, otak kotor menerorku!

Tapi sungguh, brengsek sekali penontonmu itu kalau sampai mereka nekat menjamahmu, menjamah bagian… Aaaaaah, tidak! Itu tidak boleh terjadi padamu, Kirana! Kamu bukan penari yang menjajakan diri dengan membiarkan orang-orang menyelipkan uang kertas di sela-sela auratmu, apalagi striptease. Kamu adalah Langen Kirana yang sadar adat dan tata susila. Aku tahu itu, Kirana.

Kirana, Kirana, kuharap kamu tidak pernah memakai busana yang serba minim, ketat dan robek sana-sini. Kuharap kamu tahu bagaimana seharusnya berbusana. Kamu ingat petuah lama ”citra diri ada di busana”? Ya, kamu pasti ingat itu. Jangan sampai para lelaki buas itu menjamah dan meremas dirimu hanya gara-gara mereka tergoda oleh busanamu yang merangsang. Aku bisa panas hati, Kirana… terbakar dan hangus.

Oh, Kirana, aku memang harus segera sampai di rumahmu, lalu kita berangkat berdua. Aku juga harus selalu berada di dekat panggung itu, Kirana, untuk turut berjaga-jaga atas aksi asusila penontonmu. Aku tidak sudi kebobrokan para pria jalang sekaligus jangkrik tengik itu menjarah keelokanmu.

Eh, tapi kalau yang menjamahmu itu seorang pejabat besar, public figure, dan kemudian dipampang lebar-lebar di koran? Please, Kirana, jangan sudi membiarkan tubuhmu dipeluk semena-mena begitu. Apa kata orang, Kirana. Apa kata dunia, Kirana. Kontroversi bakal bermunculan. Gosip-gosip selain itu. Dan lain-lain, Kirana. Ingat pesan ibumu. Ingat tata krama pergaulan, Kirana… Bayangkan cikal-bakal aib yang…

Kulirik lagi arlojiku. Waduh, aku harus cepat! Kirana, tunggu sebentar! Sebentar lagi! Tunggu sebentar lagi, aku pasti tiba di hadapanmu, Kirana! Ah, tembang geguritanmu masih terus memanggilku. Aku tahu apa maksudmu. Aku tahu, Kirana, aku tahu. Tapi traffic light sialan ini tidak mau tahu.

Aku berusaha melupakan waktu dengan cara melihat sebelah kanan-kiriku. Beberapa motor bertengger di sekitarku, sama-sama terjebak traffic light ini. Mereka bergoncengan. Laki-laki dan perempuan. Perempuan yang duduk di jok belakang tidak memakai helm. Rambut lurus nan panjangnya menggerayangi punggungnya.

Astagfirullah! Dada si perempuan menempel sangat lekat pada bidang punggung si pria yang menyetir motor. Keduanya enjoy sekali dengan kegiatan tempel-menempel seronok begitu. Keduanya tidak hirau siapa-siapa bahkan seolah tengah memanas-manasi perasaanku.

Aku menoleh ke arah lain saja, lantaran pemandangan semacam itu justru mengiris perasaanku. Sebab yang berikutnya terbayang dalam benakku adalah kemesraanmu bergoncengan dengan bekas pacarmu sewaktu masih kuliah dulu. Dadamu menempel erat pada punggung bekas pacarmu. Aku ingin memaki bekas pacarmu itu. Jelas aku cemburu banget, Kirana.

Kubuang pandanganku ke samping kanan agar kecemburuanku enyah. Sebuah mobil sedan hitam metalik tampak tengah menunggu lampu hijau menyala juga. Kaca jendela kelamnya terbuka. Sopirnya seorang cewek berkacamata hitam. Kutengok di sebelah dan di belakangnya, aku tidak menemukan siapa-siapa. Dia sendirian saja rupanya. Dia pasti tidak sadar aku amati, karena aku juga memakai kacamata hitam.

Aku menoleh lagi ke arah traffic light. Sialan, masih merah! Kulanjutkan memandangi cewek bersedan yang kutaksir usianya sekitar 20-22 tahun. Rambut hitam legamnya lurus melewati bahu. Hidungnya mancung sekali. Pipinya mulus. Bibirnya merah muda merekah. Dagunya ramping. Dengan berkaos hitam you can see, tampaklah pangkal lengannya yang berkulit mulus-kencang dan berwarna kuning cerah. Wah, dia cantik sekali! Bahkan, melebihi kecantikan Langen Kirana!

Kecantikan cewek di mobil sedan mewah itu sungguh… Aaah! Rasa-rasanya aku ingin turun dari motorku, lalu mencabik-cabik wajahnya, tubuhnya dan mobilnya habis-habisan. Pasalnya, dia seakan sengaja merusak fokusku pada Kirana. Tidak! Kecantikan cewek satu ini dan mobil sedannya tidak boleh melampaui kecantikan dan kemewahan Kirana! Eh, tunggu dulu. Apa betul mobil sedannya itu dibelinya dari hasil kerja keras dan halal? Bapaknya konglomerat hitam, koruptor, oknum, banyak utang, ataukah cewek ini perek atau malah istri simpanan pejabat bejat?

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit! Din! Din!

Bebunyi klakson kendaraan-kendaraan di belakangku membubarkan lamunanku. Rupanya lampu hijau telah menyala. Aku segera tancap gas. 0 km/jam langsung melesat ke 70 km/jam sampai lewat 100 km/jam. Cepatlah, Motorku! Kita harus segera sampai di rumah Kirana sebelum mentari tengah hari menjemputnya. Aku ingin menggonceng Langen Kirana-ku, kemudian kupamerkan kepada mereka sebagai semacam peringatan serius supaya para lelaki jalang tidak coba-coba mengganggu Langen Kirana-ku.

Ayolah, motorku, mengertilah. Awas kalau tiba-tiba kamu rewel di tengah perjalanan dengan acara mogok segala. Minuman kesukaannmu kubeli full tank dan selalu begitu, karena mesin dua langkah sekelas dirimu memang rakus. Tapi kini, demi cintaku pada Langen Kirana, aku rela penuhi itu. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Ah, motorku, kamu tidak akan pernah tahu soal cinta sejati dan harga BBM!

*******
babarsariyogya, januari 2003

Catatan:
1) Mengelana di langit biru. Tumbuh mengambang, termenung, samar. Luas lapang tanpa batas. Bahasanya daun kering…Cuplikan geguritan ”Lelana” karya Thanding Sari.
2) Suara instrumen, cuplikan dari geguritan ”Nonton Wayang” karya Thanding Sari.
3) Seribu jalannya mati. Seribu jalannya rejeki. Manusia hanya sekadar melakoni. Dunia ini memang banyak pertanyaan… Dari geguritan ”Sanjange Simbah” karya Thanding Sari.

[cerpen ini dimuat di harian Sinar Harapan, edisi Sabtu, 23 Agustus 2003]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 11:51 PM.


SEEKOR ANJING MENELAN BOM*

Seekor anjing setinggi sekitar 75 cm berdiri tegap di tengah pintu utama restoran mewah itu. Ia menatap satu per satu orang-orang di dalam restoran mewah. Hidungnya kembang-kempis. Jalan nafasnya patah-patah. Lidahnya menjulur-julur. Air liurnya menetes-netes, memantulkan sinar pelangi elektrik dari mana-mana. Bulu-bulunya basah dan ditempeli lumpur. Tidak jelas lagi apakah anjing itu berbulu warna hitam, coklat atau jingga merata. Kuping, mata dan kakinya kudisan seperti kena kutuk kusta.

Orang-orang di dalam restoran itu memandang ke arahnya. Mereka melongo.

“Anjing siapa sih?”

“Entah.”

Anjing itu mengibaskan titik-titik air yang terjebak di sela-sela bulunya. Selesai. Lalu ia menjulur-julurkan lidahnya lagi. Air liurnya menetes-netes terus. Nafasnya terengah-engah. Sesekali lidahnya keluar menyapu moncongnya yang sedikit berbusa di sela-sela. Lalu menjulur lagi.

“Dia mencari seseorang.”

“Mungkin dia mengenal seseorang di sini.”

“Lebih baik tadi kau tidak ikut ke sini.”

“Sialan.”

Perlahan-lahan bau anjing itu merangsek ke dalam ruangan, menggapai hidung orang-orang. Serta-merta mereka menutup hidung masing-masing. Bau menjijikkan. Beberapa perempuan malah muntah. Seorang pelayan segera menutup pintu restoran.

“Oh iya, aku ingat! Anjing tadi… anjing itulah…”

“Benarkah?”

“Ya! Aku ingat ciri-ciri moncongnya!”

***

Subuh telah tertinggal di lantai kamar mandi. Surya timur belum juga bangun dari dekapan selimut kaki langit timur, hanya tangannya masih mengulet manja. Jalan-jalan telah digerayangi kendaraan dengan kecepatan paling kencang yang bisa dilakukan mereka. Di trotoar orang-orang berpakaian rapi, juga ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru tampak berjalan tergesa-gesa. Alunan nafas mereka menderu. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah memburu matahari. Mereka seolah dikejar-kejar matahari. Mereka seolah tidak peduli matahari.

Seekor anjing berjalan perlahan di antara kaki-kaki mereka. Matanya sayu. Dilihatnya orang-orang. Diendusnya aroma tubuh mereka. Ia seolah mencari seseorang. Mungkin sedang mencari perlindungan. Atau, mungkin… Ia tidak menemukan siapa yang dibutuhkannya. Kemudian melangkah lagi.

Ia berhenti di kaki tiang trafficlight, memiringkan bagian belakang badannya, terus mengangkat sebelah kaki belakangnya. Cuuuuuuur. Ia kencing di situ. Sementara ada sepasang mata mengamati anjing itu. Seekor anjing dengan ciri yang pernah didengarnya dari orang lain. Sepasang mata ini yakin bahwa itulah anjing tersebut.

“Awas, ada anjing berbahaya!” teriaknya spontan sembari menunjuk anjing itu.

Semula orang-orang tidak menggubrisnya. Tetapi sewaktu anjing itu menatap garang ke arah mereka dan dengan taring yang menyeruak di celah moncongnya, baru kemudian mereka sadar. Anjing bertubuh cukup besar itu siap mengejar.

“Aaaaaaaaaaaa!”

“Waaaaaaa!”

“Toloooong! Aduh aduh… ada anjing gila! Mati aku!”

“Toloooong! Anakku, anakku… Tolong anakku!”

“Anjing lu! Kagak punya mata ya? Liat-liat dong kalo lari!”

Sontak suasana berubah. Para pejalan kaki kalangkabut. Para pengendara sepeda motor langsung ngebut. Mereka lari tunggang-langgang, meninggalkan apa saja. Anak-anak kecil menangis ribut. Ada yang terjerembab. Ada yang bertabrakan. Pedagang kaki lima meninggalkan gerobak mereka. Beberapa orang malah menjarah makanan yang tak bertuan di gerobak dorong kaki lima. Pertokoan di sekitarnya segera tutup.

Debu-debu beterbangan. Suara klakson, cacimaki dan teriakan bercampuraduk. Orang-orang di dalam mobil dan angkutan kota segera menoleh ke arah pergerakan massa yang panik. Kendaraan roda dua dan roda empat terjebak. Perempatan jalan berubah kacaubalau. Empat polisi lalulintas terkejut, tidak siap dengan keributan mendadak itu. Tapi anjing itu sudah berlalu dari tempat itu. Lenyap seperti angin.

“Hei, Bung! Jangan main-main! Kau lihat sendiri kan akibatnya?”

“Sungguh, Om, ada anjing berbahaya. Itu, di sana! Barusan mengencingi kaki tiang trafficlight!” sahutnya sambil terus berlari kencang.

“Kau tahu dari mana?”

“Dari mereka yang pernah makan di restoran itu. Ciri-cirinya ya begitu itu!”

“Waaaaaaa!”

Teriakan tadi menyebabkan pergerakan pejalan kaki dan kendaraan roda dua makin kencang. Panik, takut, khawatir, jijik dan lain-lain menulari sekitarnya. Jumlah polisi lalulintas yang minim terpaksa meninggalkan pos penjagaan, lalu turun ke jalan.

“Mungkin ini politik bisnis yang kotor.”

“Betul, Om, anjing itu kotor sekali, kata mereka.”

“Bukan itu. Ini sebuah permainan bikinan pesaing restoran itu.”

“Permainan? Silakan saja kalau Om mau bermain-main dengan anjing itu.”

“Busyet lu!”

***

Di halte bis dan stasiun kereta penuh orang-orang orang-orang berpakaian rapi, ada yang berdasi, remaja berseragam putih-biru menanti-nanti. Sebentar-sebentar menengok jam. Mendesah. Dada berdetak lebih cepat. Sebagian dahi terbit kerut. Mereka seolah menunggu matahari melintas. Mereka seolah tidak menginginkan matahari muncul sebelum mereka meninggalkan halte dan stasiun itu.

Tulalit! Ning! Tulalit! Nong! Suara handphone. Seseorang meraihnya dari kalungnya. Ngobrol sebentar, kemudian dahinya berkerut. Matanya segera menyapu sekitar. Nafasnya mengalir cepat. Detak jantungnya pun terimbas. Tak ayal suara seseorang itu terpatah-patah. Kemudian dia berhenti berkomunikasi.

“Kamu tadi lihat di sekitar sini ada anjing, nggak?”

“Anjing? Anjing penguasa atau anjing konglomerat maksudmu? Preman?”

“Hush! Bukan. Anjing ya anjing!”

“Enggak lihat tuh. Emangnya kenapa?”

“Anjing itu… Kata kawanku, seekor anjing gawat telah berkeliaran!”

“Haaaaah!!”

Halte bis dan juga stasiun kereta api tiba-tiba gempar. Para calon penumpang kocar-kacir, dan segera menghentikan apa saja; entah bis apa saja, metromini apa saja maupun kereta apa saja. Pedagang kaki lima tidak peduli dengan dagangan mereka; mau dijarah, ditendang atau pun dibiarkan, asalkan segera menyelamatkan diri. Semua orang tidak mau mengalami masalah terburuk sepanjang hidup mereka.

“Hoi, Mas, Mbak! Awas, ada anjing berbahaya! Menyingkirlah segeraaaaaa!”

Laki-laki itu segera menoleh ke sumber suara. Lalu kembali menghadap istrinya yang sama-sama berdiri di ujung stasiun. Kemudian laki-laki itu menarik tangan istrinya beserta beberapa tas besar mereka.

“Ayo lekas minggat! Ada anjing berbahaya.”

“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.

“Ada anjing berbahaya! Kita harus segera pergi dari sini.”

“Anjing gila, maksud Mas?”

“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”

“Lha iya. Mungkin anjing gila.”

“Entahlah. Aku cuma dengar ‘awas, ada anjing berbahaya’. Itu saja.”

“Sudah, sudah! Aku bisa gila betul kalau bicara begini dengan Mas! Eh, tapi kita mau pergi ke mana lagi, lha wong kita baru pertama kali ini datang ke sini.”

“Walahiyung! Modar aku!”

***

Bulan menyapa ketakutan mendadak kota itu sejak kemunculan anjing itu. Tidak ada para pejalan kaki, kaki lima, pengemudi kendaraan roda dua dan roda tiga. Hanya mobil yang berani melintas. Itu pun dengan kecepatan tidak seperti biasa. Mereka tidak mau mengambil resiko terburuk dalam hidup, karena anjing itu munculnya mendadak

Selain itu, sejak kemunculan anjing yang serba mendadak dan sukar ditemukan jejak tegasnya itu setiap rumah memasang pagar besi setinggi-tingginya, dan selalu tertutup rapat. Untuk rumah-rumah tanpa halaman, tentu saja pemasangan pagar adalah pengecualian. Tak pelak usaha perakitan pagar besi dirundung untung berlipat-lipat, sehingga mulai merebak usaha sejenis di mana-mana.

Tak lupa pula pemerintah setempat mengerahkan pasukan pemburu anjing dan petugas penjinak anjing. Pasukan khusus itu disebar ke segala penjuru kota bersama anjing-anjing pelacak. Di samping itu wajah kota mulai disemarakkan oleh gambar tempel dan pamflet tertulis “Awas, Ada Anjing Berbahaya!”, lengkap dengan profil anjing itu. Beberapa media massa pun turut mempublikasikan peringatan serupa.

Pengerahan pasukan penjinak anjing itu pun berdampak serius bagi ketentraman hidup anjing-anjing di kota itu. Terjadilah pembantaian terhadap anjing-anjing yang tak berdosa. Setiap anjing yang kedapatan liar di jalanan; entah memang anjing liar maupun anjing milik siapa, langsung ditembak tanpa ampun. Tidak ada interogasi macam-macam. Akibatnya, setiap hari selalu terpampang mayat anjing bergelimpangan di jalan, halaman rumah, emperan pertokoan, taman kota, halte, terminal, stasiun, pasar ikan atau area-area publik lainnya. Tak ayal para pemilik anjing atau penyayang anjing segera mengurung anjing mereka di dalam rumah.

Sementara anjing yang paling dicari-cari itu terkadang bermalas-malasan di bawah tumpukan kardus mi instan. Kepalanya digeletakkan begitu saja di potongan sampul majalah bergambar perempuan nyaris bugil. Mukanya murung. Dipandanginya trotoar yang lengang tersiram lampu mercuri. Ia hanya bisa mendengar lolongan histeris anjing-anjing di dalam rumah-rumah orang. Terkadang ia mengungsi entah ke mana.

***

Di sebuah laboratorium, mata para peneliti yang tengah mengamati contoh air liur, kencing dan tinja anjing itu mendadak terbelalak. Dari ketiga contoh hasil ekresi anjing itu mereka menemukan suatu zat aditif yang sama, yakni mengandung bahan radioaktif yang biasa dipakai untuk bahan peledak. Seketika itu juga mereka melaporkan penemuan darurat itu ke bagian pertahanan dan keamanan kota.

Entah siapa dan bagaimana bisa, berita tersebut langsung bocor di media massa. Maka tersiarlah kabar di mana-mana, baik lewat media tersebut maupun sudah dalam format pamflet atau spanduk lebar mengangkangi jalan-jalan. Mal, swalayan, shopping center, pertokoan, perkantoran, sarana-sarana pendidikan, rumah ibadah, halte, terminal, stasiun, kafe, discotique, nite club, karaoke, panti pijat, lokalisasi dan tempat-tempat apa saja otomatis sepi. Suasana kota betul-betul mencekam. Betapa tidak. Seekor anjing telah menelan bom yang masih sangat aktif dan setiap detik bisa meledak. Kekuatan ledakannya diperkirakan mencapai radius 1 km dengan meninggalkan sebuah lubang berdiameter seratus meter dan kedalam beberapa belas meter.

“Anjing milik siapa sih sebenarnya?”

“Mungkin milik teroris untuk meninggalkan jejak.”

“Teroris memakai anjing?”

“Nggak apa-apa, kan. Yang penting kan misi tercapai.”

“Eh, jangan-jangan anjing itu milik aparat. Entah sengaja atau tidak anjing itu menelan bom. Tapi entahlah, karena anjing itu belum tertangkap, belum diinterogasi.”

“Jangan-jangan, anjing itu milik seorang elit politik yang sedang bermasalah. Barangkali ada motif kepentingan tertentu. Apalagi sudah ada isu kampanye.”

“Ah, aku nggak tahu ah. Mending mikir, kapan kita bisa kerja lagi.”

Sejalan dengan kalimat tersebut, anjing yang telah diidentifikasi ‘menelan bom’ itu tenang melintas di ujung gang dekat mereka nongkrong. Sontak mereka melotot, memastikan apakah itu anjing yang meresahkan kota. Setelah yakin, mereka langsung bergerak. Seorang lainnya segera melaporkan berita tersebut ke aparat terdekat.

“Itu dia! Itu dia!”

“Kejar!”

Anjing itu mendengar teriakan mereka. Ia langsung lari sekencang-kencangnya, berbelok ke lorong-lorong, lalu menghilang dalam gorong-gorong.

“Kejar? Apa kita mau mati konyol?”

“Iya ya, kalau tiba-tiba bom di perutnya meledak, tamatlah riwayat kita.”

“Aku masih doyan hidup. Mending kabur dari kota sialan ini!”

***

Kereta Senja Ekonomi meninggalkan stasiun kota. Kali ini gerbong betul-betul sarat muatan. Orang-orang berjubel seperti hendak mudik lebaran atau masa berlibur sekolah menjelang tahun ajaran baru, bahkan tidak sedikit yang nekat duduk di atap gerbong, walau sudah ditambah beberapa gerbong. Mereka ingin pulang dulu sebelum anjing yang menelan bom itu tertangkap. Sebab, selama anjing itu masih berkeliaran, muncul tiba-tiba dan sukar dideteksi, nyawa mereka jelas terancam setiap saat.

“Keparat betul anjing itu. Masak belum apa-apa kita sudah pulang lagi. Masak orang kalah ama anjing. Apa kelak kata tetangga kita. Dasar anjing siluman!”

“Apa?” tanya istrinya sambil mencopot earphone radio 2 band-nya.

“Ah, barang utangan itu terus saja kamu dengarkan! Ini soal anjing bangsat itu!”

“Iya, Mas, barang utangan ini gimana ngelunasinnya. Belum utang lainnya.”

“Anjing betul anjing itu! Nggak bisa lihat orang mau sukses!”

Istrinya tidak menanggapi. Ia agak risih dengan umpatan-umpatan yang selalu begitu ringan melayang dari mulut suaminya. Untuk mengalihkan gerutuan suaminya, ia menekuk tubuhnya ke kolong tempat duduk mereka, pura-pura mencari sesuatu.

“Maaaaaaaas…. Asssss……..!” Mukanya pucat.

*******
babarsariyogya, 2003

*) terilham dari sajak "Narasi Anjing yang Menelan Bom" karya Nanang Suryadi, 2002

[cerpen ini ikut menang di Lomba Menulis Cerpen Hadiah Tepak Dewan Kesenian Kabupaten Bengkalis Riau, 2003, dan berita hasil lombanya dipublikasikan oleh Riau Pos, 18 Agustus 2003]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:13 AM.


OLEH-OLEH DARI KAMPUNG

“Kok kini kamu nggak berminat lagi pada politik, Noy?” tanya Oji suatu hari.

“Bosan, Ji. Bikin pengen muntah saja! Politik sudah banyak peminat, penikmat, pengamat dan pengkhianatnya,” jawabku santai. “Itu-itu melulu. Omong kosong doang.”

Aku mengerti, pertanyaan yang dilontarkan kawanku itu merupakan pertanyaan murni. Murni dari keheranannya atas sikapku sekarang. Bukan mempertanyakan, menggugat atau memprotes perubahan sikapku akhir-akhir ini.

“Aku memilih untuk realistis, Ji, bekerja demi masa depan anak-anakku.”

“Itu pun salah satu sikap politik, Bung!”

Mau dianggap semacam “sikap politik” atau apa kek, terserah. Yang jelas, bagiku, politik tidak lebih dari panggung sandiwara. Para politikus itu hanya memerankan tokoh sesaat demi kepentingan sesaat. Lantas berubah lagi menjadi tokoh lain dalam episode-episode dan tema-tama lainnya, tergantung siapa sutradaranya. Mudah mencampakkan atau menggandeng, menjadi kawan atau lawan. Bongkar-pasang dan gonta-ganti rekanan. Yang penting, kesempatan dan kepentingan, serta aman di masa tua.

***

Oji memang tahu masa mudaku dulu. Aku selalu bangga mengenakan kaos bertuliskan “Di sini Bebas Ngompol (Ngomong Politik)”, “Jangan Takut Bicara Politik” dan “Sak Beja-Bejane Uwong Urip, Luwih Beja Uwong Edan Ning Kuasa”, di saat rezim otoriter mencengkramkan kuku-kuku tajamnya pada setiap sendi kehidupan sosial masyarakat yang seolah memproklamirkan “Politik adalah Panglima”.

Memang, semasa muda, semasa mahasiswa, aku paling getol berceloteh soal politik, meski aku bukan mahasiswa fakultas ilmu politik. Aku sendiri sudah berlangganan koran dan majalah sosial terkemuka di saat kawan-kawan kos lebih tertarik pada pacaran, keluyuran di mal, diskotik, bilyar, nonton vcd serta judi kecil-kecilan di salah satu kamar kos kawanku.

Tak jarang aku tiba-tiba berkomentar mirip komentator di televisi. Bagiku, menjadi komentator politik, tidak usah susah-susah bersekolah di jurusan politik atau berkecimpung langsung sebagai praktisi politik. Bahkan tidak usah susah-susah sekolah di jurusan komentator.

Waktu itu politik merupakan topik yang agak tabu, lebih tabu daripada bacaan cabul serta gambar porno yang bertebaran di kalangan orang muda. Ketika era internet melanda pergaulan masyarakat, mahasiswa-mahasiswa mencari informasi-informasi yang tidak termuat di media massa umum. Semakin kuat tindakan represif penguasa, semakin kuat naluri keingintahuan mahasiswa.

Aku pun tidak mau ketinggalan informasi. Kawan-kawanku selalu datang dengan membawa beberapa fotokopian berita-berita “tak tersensor”. Majalah Independen menjadi salah satu sumber obrolan kami. Namun aksi sempat surut ketika terjadi kasus pembredelan media massa yang dicap PKI, dan mahasiswa mengadakan aksi tiarap.

Menjelang reformasi, kepada kawan-kawanku kukatakan, “Maaf, aku mendahului kalian menyambut reformasi. Inilah reformasi sesungguhnya bagiku, Kawan-kawan.”

Reformasi versiku adalah segera menikah, setelah lulus dan menunggu panggilan kerja. Aku menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak peduli soal politik. Aku tidak menuduhnya buta politik. Dan salah satu sebab kenapa aku menikahinya adalah karena aku tidak mau membiarkan hiruk-pikuk perpolitikan itu hanya akan menggerogoti usiaku.

***

Bersamaan dengan masa bulan maduku, saat itu pula gerakan mahasiswa bangkit lagi. Tindakan aparat lebih ngeri lagi. Aparat yang berjubah zirah, berhelm, bersenjata dan berperisai itu garang sekali mengganyang para mahasiswa yang mengadakan unjuk rasa seraya membakar ban-ban bekas di jalanan. Ngeri aku melihat itu semua. Bahkan pernah suatu malam terjadi “jam malam” dan malam terkelam tanpa lampu. Aku pun harus mematikan lampu vespaku agar tidak tiba-tiba disergap orang-orang misterius.

Aku ingat sekali. Jalan Gejayan gelap gulita. Lampu-lampu jalan bertumbangan. Batu-batu dan kayu bertebaran. Kaca jendela bekas gedung Bank Harapan Sentosa hancur lebur. Itulah malam paling mencekam yang mengotori bulan maduku.

Aku menganggapnya sebagai sebuah teror sesungguhnya. Subyeknya murni diperankan aparat dan rakyat. Obyek pelengkap penderitanya adalah para korban, entah seberapa jauh keterlibatan korban tersebut. Semalam suntuk pasukan pengendali kerusuhan menyisiri rumah-rumah penduduk dan kos-kosan mahasiswa di sepanjang jalan Gejayan. Beberapa mahasiswa ditangkap, digebuk dan diculik. Bayang-bayang ketakutan, kengerian, kebringasan, kebencian melanda setiap sudut jalan. Moses Gatotkaca gugur.

Waktu itu dari kampung Sri Pemandang Pucuk ayahku mengirim pesan, menyuruh aku dan istriku pulang saja ke Bangka. Kata ayahku, setiap hari emakku gelisah memikirkan nasib aku dan istriku. Daripada ada apa-apa di Jogja, mending pulang saja ke kampung halaman dan memulai kehidupan baru. Namun aku tetap bertahan.

Sampai ketika reformasi ramai digaungkan, berita dan ulasan politik semakin banyak peminatnya. Menu lezat harian sebagian orang. Bahkan mereka kecanduan seperti halnya kecanduan narkotika. Barangkali politik sudah menjadi semacam pil ektasi, yang dapat membuat pemakainya senang sepanjang waktu sampai-sampai lupa waktu.

***

Keluargaku terbangun atas kesadaran aku dan istriku. Tidak terbangun atas kepentingan-kepentingan sepihak. Dua pribadi, yaitu aku dan istriku, sepakat bersatu dalam satu tujuan utama sebagaimana sebuah keluarga. Anak-anak yang kumiliki bukanlah supaya mereka bisa menafkahi keluarga ibarat pepatah jawa “kebo nyusu gudel” alias “induk kerbau menyusu pada anaknya”. Kalau aku punya utang, aku dan istriku harus mencari tambahan penghasilan untuk melunasinya, bukannya mewariskan utang pada anak-anakku. Jika anak-anakku kelak memang mampu, tetap saja aku dan istriku malu kalau anak-anakku yang harus membayar utang keluarga di masa lalu.

Media langganan kami sekeluarga pun sudah naik harga, menyusul kenaikan harga tarif listrik, telepon dan bahan bakar minyak. Belum lagi biaya harian rumah tangga, seperti pangan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Kenaikan rupiah atau penurunan nilai tukar uang Amerika ternyata tidak kemudian menurunkan harga-harga yang sudah telanjur naik itu. Yang namanya keuntungan atau laba, siapa pun tergiur dan memakai berjuta alasan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan keuntungan. Apalagi kondisi gaji yang tak jua dientaskan.

Seringkali aku menggerutu pada koran langgananku itu. Isinya berita politik melulu. Isinya kerusuhan melulu. Isinya teori nihil melulu. Isinya omong kosong belaka. Aku membayar uang langganan bukan untuk menikmati simpang siur siaran politik atau juga berita-berita yang menakutkan keluargaku. Politik tidak menyajikan kemajuan apa pun terhadap kesejahteraan keluargaku. Menambah wawasan sosial-politik tidaklah menambah pendapatan keluargaku. Banyak mengerti perkembangan politik, tidak lantas banyak meringankan beban biaya penghidupan keluargaku.

Aku ingat, dulu betapa jengkelnya orangtuaku melihat aku ikut-ikutan anti monopoli partai besar jaman itu, sampai-sampai emakku bilang, “Kita selama ini makan dari partai pemerintah, bukan dari partai lainnya.”

Tak pelak nyaliku ciut mirip kura-kura manyun kehilangan rumahnya. Emakku lebih berpikir kenyataan tentang rumah tangga beserta kebutuhan harian keluarga, daripada membentuk oposisi di rumah.

Tak pelak politik menjadi topik yang paling menjijikkan bagiku. Bukan sebatas tayangan harian media kaca di rumahku, baik dari berita maupun dialog-dialognya. Kebetulan anak-anakku lahir saban tahun, sehingga aku ada kesibukan di rumah. Setiap hari selalu kupasang lagu anak-anak. Televisi jarang kunyalakan. Istriku senang sekali.

***

Di lingkungan tinggal kami, saban malam “politikus-politikus” muda mengudarakan obrolan politik. Pemuda-pemuda itu asyik-masyuk berembuk soal politik, bahkan seolah melebihi pakar politik. Minat mereka sangat menggebu-gebu pada politik beserta isu-isunya. Reformasi memungkinkan politik tak lagi tabu.

Ah, mungkin mereka cikal-bakal politikus besar, kendati kesempatan belum sempat mengundang mereka tampil. Mungkin obrolan politik sekadar obat begadang setelah seharian suntuk didera pekerjaan mereka. Maklum, mereka cuma pekerja kasar dengan gaji yang selalu disertai bonus muka kecut bos mereka. Mungkin persaingan mereka dalam pengetahuan umum. Mungkin mengasah kepekaan setelah membaca, mendengar atau melihat sajian berita, entah dari mana mereka memperoleh sumbernya.

Kulihat sisi baiknya pembicaraan tersebut lebih menyita waktu dan pikiran mereka, daripada terlibat kegiatan merusak akhlak, merusak fasilitas umum dan tindakan kriminal malam. Di samping itu, acara kumpul-kumpul itu pun bersamaan dengan aneka kegiatan pemuda. Dari olahraga, kesenian, budaya, membuat spanduk, bagi-bagi kerjaan maupun sekadar meramaikan obrolan, semuanya bercampur aduk dengan politik. Terlebih sejak daerah kami dibanjiri pendatang, yakni mahasiswa yang kos.

Kawan-kawan kantor pun terus saja bicara tentang politik, melebihi pekerjaan rutin mereka. Setiap sebentar membaca judul berita halaman muka koran, segera mereka berkomentar. Pekerjaan belum juga selesai, pembicaraan mereka sudah sampai mengenai rumah para politikus.

Kupikir, mungkin mereka salah bidang pekerjaan. Mungkin mereka kecewa karena tidak kesampaian menjadi politikus. Mungkin untuk gengsi antarpegawai. Mungkin sekadar selingan, mencari hiburan, yang bagi mereka politik itu seringkali menyuguhkan kelucuan-kelucuan dan dihiasi kening-kening berkerut untuk mempertahankan argumentasi mereka.

Makanya, aku bosan bicara atau sekadar mendengar obrolan seputar hiruk-pikuk politik. Sekarang ini perhatian, tugas dan tanggung jawabku sebagai kepala keluarga, warga biasa dan pegawai kantor tidak boleh diserongkan pada urusan politik milik orang-orang. Mengurusi rumah dan pekerjaanku saja aku sudah kelabakan, apalagi perpolitikan Bangsa ini selalu berubah-ubah serta belum berhasil menemukan formasinya.

***

Suatu hari Minggu siang sepulangnya kami sekeluarga dari kebaktian di gereja, Makcikku (adiknya emakku) dan kedua anaknya berkunjung ke rumah kami. Beliau datang dari kampung pelosok Bangka, bersama tetangga beserta tiga anaknya pun ikut, karena ingin menikmati kehidupan ini, bahwa memang dunia ini tidak seluas kampung halaman mereka belaka. Rencananya mereka akan tinggal beberapa hari di rumah kami.

Tak lupa Makcikku membawa oleh-oleh dari kampung, oleh-oleh khas Bangka, yang membuat hatiku terseret ke suasana kampung halaman yang sedap. Sahang sekarung kecil, sisa tuai bulan lalu. Lempuk cempedak, manisan rukem, asinan klubi, asinan jambu bandar, keranji, kemunting, sambel binjai, juga ada selai nanas. Sedap tentunya. Ya, suasana kampung yang hanya menyuguhkan pola pikir sederhana, tidak susah-susah berpikir urusan selain makan dan pergaulan sekampung.

Makcikku berkisah pula tentang kemajuan kampung semenjak harga-harga sahang melambung dan kebun-kebun kelapa sawit dibuka. Dibarengi pula dengan pelebaran jalan, penambahan angkutan umum lintas kecamatan dan pembangunan rumah-rumah baru bagi pekerja perkebunan kelapa sawit.

Kata Makcikku, para pemuda di sekitar kebun sudah tersalurkan. Tidak ada pemuda menganggur. Aku jadi malu, sebab jauh berbeda dengan di daerah kami. Di daerah kami, bukan kampung tapi kota pun bukan, sebagian besar pemudanya memilih menganggur seraya terus menghidupkan sejuta khayalan setinggi-tingginya kendati pendidikan mereka lebih tinggi dibanding pemuda-pemuda kampung Makcikku.

Kata Makcikku lagi, di kampungnya saban awal bulan selalu ada keramaian, seperti pasar malam, pentas kesenian rakyat, teater dan pagelaran musik. Tokoh masyarakat kampung mengundang beberapa seniman daerah lainnya. Kalau soal hiburan berteknologi mutakhir, mereka tidak mau ketinggalan. Hampir setiap rumah memiliki televisi, perangkat parabola, vcd player dan playstation.

“Eh, mana tadi anak-anak itu?” celetuk tetangga Makcikku.

“Main di luar dengan anak kami. Paling-paling mereka main game internet di depan itu,” sahut istriku sambil menunjuk ke arah jendela depan.

“Main gem? Wah, anakku pilih nggak makan sehari kalau sudah main gem,” serobot Makcikku.

“Sama dengan anakku!” sela tetangga Makcikku pula. “Kalau sudah ketemu gem, bisa-bisa nggak belajar dia. Maunya main geeeeeeeeem terus.”

“Aku sih curiga. Ini mungkin salah satu akal-akalannya politik warisan orde lalu. Anak-anak sengaja dijejalkan dengan permainan-permainan modern. Lihat aja. Buku-buku bermutu dilarang beredar dan media massa kritis diberangus. Tapi kalau permainan ketangkasan macam itu, justru tumbuh subur berhamburan semacam jamur di musim hujan. Apa lagi kalau bukan untuk membodohi generasi muda.”

Akal-akalannya politik warisan orde lalu? Untuk membodohi generasi muda? Aku menoleh ke arah istriku. Kebetulan istriku pun menoleh ke arahku. Aku dan istriku saling berpandangan. Air mukaku kubikin agak runyam, sebagai isyarat bahwa aku agak risih pada bincang-bincang seputar politik. Istriku mengangkat bahunya. Apa boleh buat. Aku dan istriku kembali diam dan melongo mendengar diskusi mereka.

“Iya, benar. Persewaan playstation di kampung kita selalu dipadati oleh anak-anak setiap jam-jam pulang sekolah. Berjam-jam duduk bermain gem, boros waktu. Malas bikin PR. Belajar jarang. Dalam otak hanya ada gem-gem aja!”

“Nggak kayak jaman kita dulu, ya,” kata Makcikku. “Jaman kita dulu anak-anak sudah dibiasakan membuat apa-apa. Menjahit, pelihara kembang, berkebun, bikin kerajinan, membantu ibu di dapur. Para cowoknya juga rajin. Bikin mainan sendiri, melukis, main bola, berkebun. Pokoknya, nggak ada yang duduk sembari menghadap kotak kaca dengan hati penuh kepenasaran yang cuma memboroskan hari.”

“Makanya, akal-akalannya orang-orang tua yang berambisi mempertahankan status mereka sekaligus merusak daya nalar generasi muda bahkan anak-anak. Dasar politikus, banyak tikus!” tandas tetangga Makcikku itu.

“Bagaimana kalau kita, para ibu-ibu, turun ke jalan? Kita gugat kebijakan birokrasi yang telah turut membidani kelahiran ‘generasi terhilang’ yang tengah marak ini. Sepakat? Sepakat?” tawar Makcikku pada tetangganya, lalu menoleh ke arah istriku.

Mendadak aku merasa kepalaku bagai ditinju ribuan palu, dan perutku terasa tidak nyaman. Ada yang tidak beres dalam perutku. Aku dan istriku saling melirik. Kuisyaratkan bahwa aku pening mendengar soal itu, dan aku mau ke belakang dulu. Entah istriku mengerti atau tidak pada bahasa isyaratku, aku bangkit dari kursiku.

“Makcik terus saja dulu, ya,” selaku.

“Lho, mau ke mana?”

“Ke belakang sebentar. Sebentar saja,” jawabku seraya segera kutinggalkan perbincangan seru mereka. Aku sudah tak tahan lagi.

Di kamar mandi aku muntah sepuas-puasnya sembari terbayang raut muka Oji.

*******

Jogjakarta, 2000-Mei 2002

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 17 Agustus 2003]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:10 AM.


PANASNYA PAGI

“Dasar bajingan!”

“Bunuh saja!”

Buk! Tok! Plak!

“Kalau mati?”

“Bagus mati wae1)!”

“Eh, kalo mati, siapa yang bakal nyembahyangi?”

“Masa bodoh! Bantai aja dulu!”

“Tolooooong! Ampuuun, Mas!”

“Ampun matamu, ‘Su 2)!”

Lalu pletak! Plak! Buk!

Walah! Pagi-pagi begini sudah pada ribut-ribut, pakai caci maki lagi, gerutuku. Orang tengah nyenyak-nyenyaknya menikmati puncak suasana pagi, diganggu.

Aku segera bangun, telanjur digugah oleh ribut-ribut di luar sana. Kukucek-kucek mataku, agar beloboknya gugur. Lalu aku bergegas keluar kamar. Serta-merta sinar surya pagi menyambutku dan juga menerobos pintu kamarku yang terkuak.

Di luar sana, di jalan depan kosku agak ke perempatan, suasana tampak ramai sekali. Caci maki berhamburan. Orang-orang berdatangan. Orang-orang bergerombol. Orang-orang berdesakan. Mereka mengerumuni sesuatu yang beraroma kekerasan. Beberapa kendaraan berhenti. Beberapa anjing ada di sekitarnya. Anak-anak yang mau berangkat sekolah pun malah berhenti sejenak. Semua menonton adegan kekerasan di pagi yang sejuk itu seolah menonton film laga atau tarung bebas di televisi.

“Iiih, kasihan ya,” bisik seorang gadis di luar arena kerumunan.

“Ho’oh. Padahal sudah minta ampun segala lho,” sahut kawannya.

Lima pemuda begitu beringas. Di antaranya ada yang membawa kayu. Ada pula yang sedang menendang badan bahkan kepala seseorang. Ada yang menghantamnya dengan benda tumpul sekeras tenaga. Yang lain bersiap-siap memukul lagi. Mereka bergairah sekali seolah berolah raga pagi. Caci maki pun terus terlontar liar.

Aku merangsek ke kerumunan orang-orang. Maka kutengok seseorang itu. Laki-laki muda. Tubuhnya terkapar dengan darah menodai pakaian dan kepalanya.

Seseorang di antara para penganiaya datang mendekati tubuh terkapar itu. Dia jongkok, lalu menjambak rambutnya. “Dasar bajingan! Nyolong barang milik kawan sendiri. Dasar maling, tetap aja maling! Asu tenan 3)!” makinya.

Lalu, buk! Muka maling itu dibenturkan ke jalan aspal. Darah meleleh lagi.

“Eh, asu ndak suka nyolong.”

“Lha yang ini asu edan 4)! Bajingan tenan!”

Aku yang telah trenyuh sejak kata-kata umpatan menggugah sisa tidurku dan ditambah caci maki itu, kini hatiku semakin remuk menyaksikan penghakiman jalanan mereka. Street justice ala pinggiran kota. Manusia sudah tidak berharga. Mirip tikus pasar yang kedapatan mencuri seekor ikan teri. Entah kesalahan, entah kebodohan, kenapa menjadikan dirinya sendiri sebagai maling. Pelecehan terhadap martabat sendiri, bukan cuma karena kekerasan orang lain. Walhasil, dia babak belur.

Pasti dia ini malingnya, tebakku. Pasti dia yang telah memancing kekerasan di kesejukan fajar. Pasti dia yang telah menyajikan sarapan pagi mengenaskan ini. Tapi, dia maling apa sehingga harus remuk-redam begitu. Mungkin maling duit, arloji, telepon seluler, jemuran, sepeda motor, tip dek bersusun tujuh, tipi, komputer atau kulkas.

“Maling apa dia, Ji?”


“Maling sandal, Naf. Pagi-pagi datang ke kos, pura-pura cari siapa.”

“Ya cari sandal itu!”

“Ndak tahunya, eeee nyolong sandal barunya Doddy!”

Aku tahu, maling itu memang pernah main ke indekosan kawanku. Pasalnya, dia masih satu kampus dengan kawanku, meski sebenarnya mereka berkawan jauh. Malam sebelumnya dia sudah berkunjung ke situ, diajak oleh kawannya yang lain. Si pengajak itulah yang justru satu kelas dengan salah seorang yang indekos di situ. Perkawanan berlanjut alami. Lazimnya orang muda berkumpul dan bersosialisasi, tidak akan disertai benih-benih kecurigaan. Apa yang patut dicurigai. Lagi pula, mana mungkin awal sebuah perkawanan akan segera diisi dengan prasangka-prasangka negatif. Tapi yang jelas, peristiwa tersebut terjadi juga. Penganiayaan.

Cuma gara-gara sandal? Aku geleng-geleng kepala. Bagaimana dia nekat melukar kemanusiaannya yang beradab menjadi maling, cuma gara-gara sandal? Alangkah rendahnya dia memandang hakekat manusia, sebuah ciptaan paling mulia di dunia. Ah, sayang sekali!

Itulah, hanya gara-gara sepasang sandal baru bermerek terkenal, trendi dan mahal. Hanya gara-gara benda yang setiap hari muncul di televisi dan terpajang di etalase toko sepatu. Sepasang sandal ternyata telah mempesona bahkan membius maling itu. Sepasang sandal bagus telah meremukkan muka dan tubuh mahasiswa maling itu.

Dan saat surya berseri-seri melambai di ufuk timur sana kekerasan telah nyata memulai hari dan menyambar pikiran segar manusia. Tentu saja manusia-manusia itu adalah para pelajar belia yang masih asyik menonton. Mereka pasti sudah merekam tontonan kekerasan yang hidup, tontonan bukan rekayasa siapa itu.

Caci maki. Pukulan bertalu-talu. Anggota tubuh terbentur benda keras. Jerit minta ampun. Air kencing. Darah. Aaaah… Aku tidak sanggup membayangkan apa saja isi kesadisan dalam otak segar para pelajar yang jelas-jelas menyaksikan setiap detail kekerasan yang dipraktikkan oleh beberapa mahasiswa tadi.

Aku tidak tahan lagi. Batinku terlalu lembut untuk mencerna kekerasan nan sadis itu. Aku membalikkan badanku, hendak meninggalkan mereka. Kuayunkan kakiku.

“Lho, Naf! Munaf! Mau kemana? Pesta belum bubar. Masih ada finalnya nih!”

“Final? Final apaan, Ji?” tanyaku sembari menoleh ke belakang, ke arah Oji.

“Kita ‘kan belum membakarnya. Doddy baru nyari bensin atau minyak tanah.”

“Jangan!” potongku. “Nanti perkaranya tambah parah!”

“Ya, jangan! Jangan khilaf begitu!” timpal seorang pria, entah siapa. “Hanya Allah yang berhak atas nyawa maling itu. Kalau kamu nekat melenyapkan nyawanya, niscaya kamu digugat di pengadilan akhirat!”

Oji tidak menggubris. Kawan-kawannya juga tidak peduli. Hati nurani entah telah kemana. Pikiran dan perasaanya entah kemana. Sedangkan aku semakin ngeri membayangkan jika mereka betul-betul jadi membakar maling malang itu hidup-hidup. Padahal orang itu hanya mencuri sandal. Berapa sih harganya sandal? Anggaplah sekitar dua ratus ribu. Cuma dua ratus ribu rupiah ia harus mengalami pengadilan begitu hingga harus ditebus dengan nyawa jika dibakar? Wah, bagaimana dengan yang sudah mencuri uang rakyat atau uang negara dengan jumlah ratusan juta sampai trilyunan rupiah? Ah…

Sang surya cemerlang menggelinjang di ufuk timur. Aku betul-betul tidak sanggup kalau harus menyaksikan suatu pembakaran tubuh secara hidup-hidup begitu. Kuputuskan segera pulang ke kosku. Terserah apa tanggapan kawan-kawanku itu. Mereka mau bilang aku seperti apa, aku tidak peduli. Selain itu, aku merasa tubuhku disergap gerah teramat sangat. Aku ingin mandi. Aku ingin menghapus serpihan-serpihan kesadisan dengan guyuran air dan tersapu sabun mandi. Aku tidak mau peristiwa itu menyelinap lewat pori-pori dan inderaku lantas menyatu dalam diriku.

“Mmm… ada apa, to, Mas?” tanya pacarku yang tengah mematut diri di depan cermin kamarku ketika aku sampai di kamar kosku. Tubuhnya berbalut handukku. Aroma sabun menyeruak dari tubuhnya dan menebar harum pada kamarku.

“Maling ketangkap basah.”

“Tadi Mas ndak cuci muka dulu?” tanyanya seraya menoleh ke arahku.

“Nggak. Males sih. Masih pagi juga. Lagian, mukaku masih tetap tampak lebih klimis kok, dibanding muka maling malang itu.”

Pacarku menggerakkan kepalanya dan mencibirkan bibir ranumnya padaku.

“Jadi, pesta kekerasannya rampung, Mas?”

“Belum. Oji dan Doddy mau membakarnya! Gila, nggak?!”

“Lho, itu ‘kan pembunuhan? Edan tenan! Ndak berperikemanusiaan banget.”

“Terserahlah. Urusan mereka. Biar mereka tanggung sendiri dosa mereka.”

“Mending Mas mandi dulu, mumpung belum siang banget.”

“Bener! Mending aku mandi. Terus, kita ehem lagi. ‘Kan asyik pas dingin-dinginnya pagi begini, sekaligus untuk sarapan dan olahraga pagi, Sayang,” kataku sembari mencium rambut lurusnya yang lentur nan harum semerbak lantaran ia habis keramas juga.

“Aaaa, Mas Munaf ini… Masih mambu 5), udah asal sosor aja!”

“Tapi suka, kan?”

Pacarku melotot. Sedangkan semangatku kembali bangkit membara melihat pacarku baru usai mandi dan harum begitu. Tadi, sewaktu aku keluar dan menyaksikan adegan kekerasan kawan-kawan, kulihat ia masih tergolek dengan busana minim di kasur busaku yang bersprei semrawut. Sudah dua malam rekan mahasiswiku ini menginap di kosku. Sebelum-sebelumnya ia sering juga menginap di kosku, apalagi kalau pulang kuliah atau juga usai kegiatan senat di kampus. Kosku memang bebas, karena induk semang tinggal agak jauh dari kosku dan tidak ada yang dipercaya menjaga kedisiplinan dan perilaku kos. Sesama penghuni kos pun tahu sama tahu dan tidak suka usil pada urusan orang.

Selanjutnya aku betul-betul sudah tidak peduli dengan nasib naas maling itu dan pembakaran semena-mena yang bakal dilakukan oleh kawan-kawanku di luar sana. Karena aku dan pacarku sudah lupa diri bahwasannya kami tengah berada dalam gelora api neraka perzinahan di sejuknya pagi.



*******

babarsariyogya, september 2002

Keterangan:
1) wae = saja
2) Su berasal dari kata “asu” = anjing
3) Asu tenan = Anjing betul
4) Asu edan = Anjing sinting
5) Mambu = bau.

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 3 Agustus 2003]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:06 AM.