blog*spot
get rid of this ad
[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]
C
E
R
P
E
N

P
I
L
I
H
A
N

P
R
I
B
A
D
I
B
e
l
u
m

S
e
l
e
s
a
i

L
h
o

i
n
i

!!

MAAF DARURAT
Cerpen-cerpen ini
pernah dimuat
atau juga ikut
lomba/sayembara
(sering kalah aja!)


PERINGATAN
DILARANG
MENJIPLAK /
MEMUAT /
MENYADUR /
MENGGANDAKAN /
MENYIARKAN
TANPA IJIN
DARI PENULIS






















AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka
dan pernah mencicipi bangku
pendidikan Arsitektur di
Universitas Atma Jaya
Yogyagyakarta
[www.calonceritapendekis.
blogspot.com
]


=====================
JALINAN KISAH
=====================

ANTOLOGI PERTAMA
ANTOLOGI KEDUA
ANTOLOGI KETIGA
CERPEN MINI
BEDAH CERPEN
ESAI CERPEN
LOMBA CERPEN


* * * * * * *
ARSIP-ARSIP KASIP
* * * * * * *

=====================
JALINAN KATA
=====================

SAJAK SERIUS
SAJAK SLENGEKAN
SAJAK SAYANG
SAJAK PAMFLET

* * * * * * *

=====================
JALINAN KARYA
=====================

KUMPULAN KARTUN
KUMPULAN ILUSTRASI
GAMBAR OBLONG

* * * * * *

=======================
@2003 onoy budak bangka
[
ID YM : sayawahyono]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Alamat e-mail :
sayawahyono
@yahoo.com

=====================















[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]

===============
:: JALINAN JIWA :: ===============
==> Nanang Suryadi
==> Kunti Hasto Rini
==> Hasan Aspahani
==> Qizink dan Dewi Laras Biru
==> Sihar Ramses Simatupang
==> Meli Indie
==> Ramon Damora
==> Pulung Amoria Kencana
==> Sazano
==> Indah Irianti Putri
==> Arwan dan Yulie
==> SN Mayasari H
==> Dobby dan Wida
==> Cecil Mariani
==> Moyank D.I.
==> Randu Rini
==> Adi Susilo Wibowo
==> Arwan Maulana
==> Idaman Andarmosoko
==> Adhika Ninus Annissa
==> Yulianti
==> wida sireum hideung
==> Bleem (e-nya 2 lho)
==> Edsen Medan
==> Tantry
==> Omprit Abrimanyun
==> Ventri Jatinangor
==> Ida Hongkong
==> ERIA
Masih Kosong, Anda berminat?


=====================
JALINAN LAIN
=====================
CYBERSASTRA
BUMIMANUSIA
SARIKATA
INFO CERPEN KORAN

* * * * * *

Name :
Web URL :
Message :






























| + Monday, September 22, 2003 + |

AKU MAU MEMANAH MATAHARI


Jangkrik meradang pilu, memanggil hujan agar sudi sirami rumahnya yang telah gersang. Oji menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di sebelah jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia hanya memakai celana pendek dan kaos singlet kumal. Matanya menatap kalender bergambar panorama air terjun yang menempel di dinding papan rumahnya. Sudah beberapa purnama hujan belum sudi mengguyur kampungnya.

Sampai kapan keadaan akan begini terus, pikir Oji.

Ia ingat, tadi sore, sewaktu ia hendak memeriksa pintu kandang ayam – saat ayam-ayam ayahnya pulang kandang, pandangannya sempat terjatuh pada beberapa batang jambu biji di halaman belakang rumahnya. Batangnya kering menyamping di atas tanah kerontang. Di bawah batang ada dua ekor ayam kampung yang kelelahan. Bola mata mereka kuyu, tubuh pun layu. Bulu-bulu mereka berlabur debu.

Kemudian mata Oji hinggap pada seonggok kaleng kering yang sering dipakai untuk menampung air minum ayam-ayam kampung ayahnya. Di dekat kaleng itu ada sebatang kran air yang bersumber dari pipa PDAM. Kata emaknya, sekadar untuk persediaan kalau perigi betul-betul kering sama sekali. Lantas dihampirinya kran itu, langsung diputarnya. Cuuuuur! Airnya muncrat. Namun cuma sesaat. Yang berikutnya keluar hanya angin beserta suara desisan-desisan.

Sialan, dari kemarin begini terus! Perusahaan Daerah Angin Melulu!

Sore itu kejengkelannya berlipat. Sewaktu hendak mandi, dilihatnya bak mandi kosong melompong. Dilongoknya isi perigi. Air perigi sudah dangkal sekali, tidak terjangkau lagi oleh ujung pipa pompa air. Sedangkan mereka sudah lama tidak memasang timba. Kalau pun terpaksa memakai timba, justru keadaan air akan keruh.

Dibukanya kran cadangan – kran yang dihubungkan dari pipa yang bersumber dari PDAM. Cuuuuuuuuuuur! Air tersembur. Ditunggunya terus, karena ia curiga, jangan-jangan setelah ini yang keluar cuma angin melulu lagi. Ternyata tidak. Air terus mengucur deras, mengisi bak mandi. Oji tersenyum. Wah, ini baru PDAM, Perusahaan Daerah Air Mandi!

Akan tetapi air mukanya mendadak berubah dan matanya terbelalak ketika dilihatnya keadaan air yang mengucur itu. Airnya berwarna coklat dengan bintik-bintik pekat. Alhasil, bak mandi mereka hanya menjadi penampungan air keruh.

Ini malah seperti air kencing! Super sialan sekali!

Tak henti-hentinya Oji memaki. Betapa tidak. Orangtuanya sudah berlangganan air di PDAM, rutin membayar, tidak pernah terlambat karena petugas selalu datang setiap tanggal tagihan. Namun yang diperoleh justru air tak layak disebut “Air Minum” dan “Air Mandi”, plus semerbak aroma kaporit. Sempat kepikiran mandi di sungai. Tetapi, sejak maraknya proyek tambang inkonvensional beberapa tahun ini, kondisi air di kampungnya sudah tidak sejernih dulu. Warna airnya kini sama seperti kopi susu. Akibatnya, sore itu Oji urung mandi.

Bulan singgah di atap rumah. Obat nyamuk bakar mengalirkan asap di bawah tempat duduk Oji. Air muka Oji begitu kusut. Dahinya berkerut. Gondoknya membengkak. Kedongkolannya pada PDAM terus menggelora. Sembari memandang langit lapang penuh bintang, dibayangkannya orang-orang yang bekerja di perusahaan air sana hanya memakan gaji buta, tunjangan, bonus beserta pesangon pensiun tanpa pernah bersungguh hati memikirkan hasil kerja yang sangat jauh dari lumayan. Selain itu ia pun teringat pada koran paginya yang memajang foto kekeringan di kantong-kantong air buatan di beberapa tempat.

Ah, sungguh-sungguh super sialan! Gara-gara kekeringan! Gara-gara alam! Sialan! Matahari bikin sial! Tidak tahu diri, rakus, menghisapi isi perigi, sungai, kolong, sumber-sumber air sampai badannya bulat buncit begitu! Sulur-sulurmu sungguh sialan, matahari!

***

Ayahnya sudah berangkat ke pasar bersama emaknya untuk membeli ubi – untuk makanan ayam setelah dicampur dedak. Kakak sulungnya sedang sibuk sekali di kantor. Sementara kedua adiknya sedang asyik membuat akuarium – rencananya untuk ikan louhan, Oji bergegas keluar rumah melalui pintu belakang sambil membawa parang.

“Hei, Ji, mau kemana, kok bawa parang? Kok nggak kerja?” tegur Onoy ketika mereka berpapasan di antara rerindangan pelepah pepohonan salak liar.

“Eh, Noy, lagi ngapain? Kok kau nggak kerja hari ini?”

“Mobil kami masuk bengkel. Lagian masa libur begini penumpang sepi. Mending aku nyari tabun guci untuk makanan anjing kami, biar makin garang. Kau mau ngapain?”

“Aku belum dapat panggilan kerjaan nih, Noy. Penganggur intelek. Terlalu banyak sarjana ekonomi di sini. Eh, sssst…,” kata Oji sembari memasang telunjuk di bibirnya. Lalu ia mendekati Onoy seraya kepalanya sebentar-sebentar menatap atas di sela-sela rerindangan pelepah pepohonan salak liar. “Kau jangan bilang ke siapa-siapa, ya. Janji?”

“Oke deh. Swear!”

“Aku mau nyari bambu di pinggir sungai sana. Aku mau bikin panah besar.”

“Panah besar? Untuk apa?” tanya Onoy lirih, mulutnya didekatkan ke kuping Oji.

“Aku mau memanah matahari,” jawab Oji sambil menunjuk ke atas.

“Kenapa?”

“Walaaaah! Masak sih kau nggak nyimak. Matahari sialan itulah yang selama ini telah menghabiskan air di kampung kita. Perigi-perigi, sungai-sungai, kolong-kolong serta sumber-sumber air lainnya hanya menyisakan bongkahan-bongkahan tanah liat! Awan gemawan pun tak luput dari penghisapannya. Coba kau lihat langit sana.”

“Lho wajar. Sekarang kan memang musim kemarau, masa-masa matahari kehausan. Musim kemarau itu berkisar antara bulan April sampai Oktober. Sekarang bulan apa, Ji?”

“Juni.”

“Nah!”

“Emangnya kalau kemarau, berarti tidak ada hujan?”

“Mmm… belum tentu juga sih, Ji. Pasalnya, beberapa hari lalu ada hujan, bahkan lumayan lebat dan geledek saling meledek.”

“Nah, ya itu, Noy!”

“Ya sudah. Selamat memanah matahari! Semoga sukses, dan tidak pernah lagi ada masalah kekeringan di kampung kita. Viva Oji! Hidup Oji!”

***

Matahari bergelinjang di puncak langit. Beberapa batang bambu yang telah bersih dari ranting-rantingnya tergeletak di sela semarak ilalang. Oji mengikat pertengahan sebatang bambu berukuran sepuluh meter pada seonggok pohon kelapa yang berbatang miring dan telah digundulinya. Kebetulan batang kelapa yang miring itu menghadap ke timur. Kedua kaki paha Oji memeluk erat pokok kelapa itu. Peluh mengalir deras di sekujur tubuhnya, dan ada yang tergelincir di bibirnya. Disesapnya. Asin. Oji tidak peduli. Ia justru semakin bersemangat seperti mendapat enerji baru, sampai ikatan terakhir rampung.

Selesai. Oji menarik nafasnya dalam-dalam hingga dada legamnya mengembang. Kemudian dihelanya lepas-lepas. Fiuh!

“Aaaaaaargh!!!” Oji berteriak lantang sembari mengangkat kedua tangannya. Kepuasan langsung terbebas dari rongga dadanya setelah tiga hari ia membuatnya.

Selanjutnya dilihatnya kedua ujung batang bambu yang tengahnya terikat erat pada ujung gundul batang kelapa itu. Kedua ujung bambu telah terikat pula tali tambang merentang. Sebuah busur! Lalu ia mengikat pertengahan bentang tali tambang itu.

Tak berapa menit Oji sudah meluncur ke tanah, dan segera mengaitkan tali yang menarik bentang tali tambang. Kaitannya diletakkan pada tunggul batang rambai. Pas. Perhitungannya telah matang benar, sehingga pekerjaan itu tepat sesuai rencana dan rancangan gambarnya.

“Aaaaaaargh!!!” Sekali lagi Oji berteriak lantang sembari mengangkat kedua tangannya. Kau harus mengembalikan jarahanmu, Penghisap!

***

Deru kendaraan bermotor tidak mampu menembus pepohonan di kebun orangtuanya tatkala Oji telah bersiap-siap memanah matahari yang belum lama bangkit di ufuk timur. Kacamata kawat berkaca klise foto menempel di depan matanya. Perlahan-lahan dan dengan sekuat tenaga ditariknya tali pengait busur panah raksasanya, terus, terus, sampai busur melengkung dan pertengahan tali busur membentuk sudut lancip. Sesampainya ia pada jarak langkah berdekatan dengan tunggul rambai, Oji segera mengaitkan tali itu pada tunggul. Klik! Terkunci dalam keadaan siaga tembak.

Oji melirik arlojinya. Jarum jam menunjuk pada angka 06.34. Dada Oji berdebar-debar. Lalu ia memandang langit dalam sudut miring. Matanya menangkap sedikit garis pinggir bulatan matahari. Saat-saat yang dinantikannya telah tiba atasnama kebutuhan.

Kau harus mengembalikan air hasil jarahanmu, Brengsek! Di saat para pengelola air minum itu tertawa ngakak menikmati gaji buta beserta bonus ini-itu, kau malah menari kegirangan di angkasa sembari menghabisi air-air rakyat! Sebentar lagi rasakan!

Sambil menyumpah serapah Oji mulai melakukan bidikan. Anak panah yang lurus memanjang dibidiknya pada sasaran. Perhitungan trigonometrisnya telah matang. Jari-jarinya siap membuka tali pengait. Maka … plas! Melesatlah sebatang anak panah ke angkasa. Sekejap saja ekornya sudah hilang dalam cemerlang matahari. Dan Oji tersenyum.

Tapi sekian menit tetap tidak ada perubahan. Tidak ada tanda-tanda matahari tertusuk anak panah. Tidak ada tanda-tanda kebocoran benda bulat benderang menyilaukan itu. Oji penasaran. Dipasangnya lagi sebatang anak panah. Ditariknya beberapa langkah, lebih jauh dari langkah ancang-ancangnya yang pertama tadi. Lalu… plas!

Ditunggunya lagi. Tetapi belum juga ia menemukan tanda-tanda anak panah menembus dan melubangi matahari. Ia masih penasaran. Dilakukannya lagi pemanahan itu. Lagi, lagi, lagi. Tujuh kali. Ya, terhitung sampai tujuh kali – angka sempurna bagi Oji.

***

Di warung empek-empek Yuk Nina Oji berjumpa lagi dengan Onoy yang sedang minum es parut seusai bertugas menyopiri angkutan merah jurusan Pasar – Udik.

“Beres, Noy! Tadi pagi aku sudah memanahi matahari sialan itu. 7 kali!”

“Wah, hebat kau, Ji. Lantas hasilnya?”

“Sampai sore ini kok tidak ada perubahan ya, Noy? Tidak ada kebocoran di langit.”

“Ji, Oji. Aku sebenarnya sudah sejak kemarin-kemarin hendak bilang ke kau, bahwasannya usaha kau itu ibarat menyurat di atas air.”

“Menyurat di atas air?”

“Ya, usaha yang sangat sangat sia-sia. Percuma sekali.”

“Kok bisa begitu?”

“Dengar baik-baik, ya, Ji. Begini. Kau masih ingat pelajaran sekolah dulu, bahwa kalau siang hari air akan tiarap, dan pada malam hari air akan…”

“Disedot naik oleh bulan? Jadi selama ini si bulan-lah biang keladinya?”

“Ehm…“

“Tapi, bagaimana caranya?”

“Sssssst, jangan kencang-kencang,” ujar Onoy sambil cepat menbekap mulut Oji.

“Oke, sebentar,” kata Oji dengan lagak pemikir. “Ya, aku tahu! Selama ini, saban malam waktu kita tidur pulas, diam-diam bulan telah turun dari kursi empuknya karena kehausan. Lantas perigi, sungai, kolong serta sumber air di kampung ini jadi korban?”

“Tuh kan, Ji, kau bisa mikir sendiri.”

“Bedebah! Bangsat! Betul-betul bulan bajingan!”

Oji segera bergegas menuju kebun orangtuanya. Tiba-tiba bulan ada di matanya.

***

Kelelawar melayang lunglai mencari nyamuk, ditingkahi jeritan jangkrik yang meradang pilu memanggil hujan agar sudi sirami rumahnya yang telah gersang.. Oji terus memanahi bulan. Malam besoknya juga. Malam selanjutnya pula. Terus begitu pada malam-malam berikutnya hingga bambu-bambu, kayu-kayu, besi-besi di kampung mereka habis dipakai Oji sebagai anak panah untuk membocorkan perut bulan agar air tercurah kembali. Ia juga berharap rombongan awan gemawan kelabu sudi berkunjung lagi sambil membawa pundi-pundi berisi air tanpa gentar pada hardikan atau mata melototnya bulan, lalu menyiramkan air dari pundi-pundi itu ke perigi-perigi, sungai-sungai, kolong-kolong, bak-bak penampungan, ember-ember, kolam-kolam, kaleng-kaleng minum ayam-ayam ayahnya, pot-pot kembang emaknya …

*******

sungailiat, juni-agustus 2003

[cerpen ini dimuat di harian Bangka Pos, 14 September 2003]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 7:10 PM.