blog*spot
get rid of this ad
[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]
C
E
R
P
E
N

P
I
L
I
H
A
N

P
R
I
B
A
D
I
B
e
l
u
m

S
e
l
e
s
a
i

L
h
o

i
n
i

!!

MAAF DARURAT
Cerpen-cerpen ini
pernah dimuat
atau juga ikut
lomba/sayembara
(sering kalah aja!)


PERINGATAN
DILARANG
MENJIPLAK /
MEMUAT /
MENYADUR /
MENGGANDAKAN /
MENYIARKAN
TANPA IJIN
DARI PENULIS






















AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka
dan pernah mencicipi bangku
pendidikan Arsitektur di
Universitas Atma Jaya
Yogyagyakarta
[www.calonceritapendekis.
blogspot.com
]


=====================
JALINAN KISAH
=====================

ANTOLOGI PERTAMA
ANTOLOGI KEDUA
ANTOLOGI KETIGA
CERPEN MINI
BEDAH CERPEN
ESAI CERPEN
LOMBA CERPEN


* * * * * * *
ARSIP-ARSIP KASIP
* * * * * * *

=====================
JALINAN KATA
=====================

SAJAK SERIUS
SAJAK SLENGEKAN
SAJAK SAYANG
SAJAK PAMFLET

* * * * * * *

=====================
JALINAN KARYA
=====================

KUMPULAN KARTUN
KUMPULAN ILUSTRASI
GAMBAR OBLONG

* * * * * *

=======================
@2003 onoy budak bangka
[
ID YM : sayawahyono]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Alamat e-mail :
sayawahyono
@yahoo.com

=====================















[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]

===============
:: JALINAN JIWA :: ===============
==> Nanang Suryadi
==> Kunti Hasto Rini
==> Hasan Aspahani
==> Qizink dan Dewi Laras Biru
==> Sihar Ramses Simatupang
==> Meli Indie
==> Ramon Damora
==> Pulung Amoria Kencana
==> Sazano
==> Indah Irianti Putri
==> Arwan dan Yulie
==> SN Mayasari H
==> Dobby dan Wida
==> Cecil Mariani
==> Moyank D.I.
==> Randu Rini
==> Adi Susilo Wibowo
==> Arwan Maulana
==> Idaman Andarmosoko
==> Adhika Ninus Annissa
==> Yulianti
==> wida sireum hideung
==> Bleem (e-nya 2 lho)
==> Edsen Medan
==> Tantry
==> Omprit Abrimanyun
==> Ventri Jatinangor
==> Ida Hongkong
==> ERIA
Masih Kosong, Anda berminat?


=====================
JALINAN LAIN
=====================
CYBERSASTRA
BUMIMANUSIA
SARIKATA
INFO CERPEN KORAN

* * * * * *

Name :
Web URL :
Message :






























| + Sunday, April 18, 2004 + |

Surat Cintamu

Matahari jingga memiring di langit barat kampung kita saat aku turun dari angkutan antarkota yang tepat berhenti di depan rumah kami. Ragaku lelah, jiwaku lega. Ragaku lelah, karena…

Oh iya, maaf, Sayangku, aku belum memberi kabar padamu, bahwa selama nyaris satu bulan ini aku tidak pulang, karena aku bergabung dalam proyek pembangunan hotel burung walet di pesisir selatan bagian barat pulau kita yang jarak tempuhnya sekitar lima-enam jam dari kampung kita. Mungkin kamu tahu, angkutan ke sana hanya terdapat pada jam-jam tertentu. Sekitar jam 11.00 dan jam 14.00. Padahal aku harus mulai bekerja dari jam 08.00 sampai jam 16.00 sejak hari Senin hingga Sabtu. Kalau aku pulang setiap hari Sabtu siang, berarti dalam satu bulan upahku terpotong sekitar empat kali.

Jiwaku lega bahkan menjadi bahagia ketika kudapati dua surat darimu telah menungguku di rak kecil di sebelah almariku. Surat-surat cintamu selalu menyenangkan hatiku dan dirimu selalu kurindu. Saat ini kubaca seraya membayangkan dirimu, Sayangku. Meskipun tidak lebih dari dua lembar, aku lebih suka membaca surat-surat bertulis asli dari liukan jemarimu daripada berlembar-lembar kamu tuliskan isi hatimu dengan mesin ketik atau memakai komputer yang sungguh-sungguh telah menggantikan hasil seni murni alami dan bahasa hatimu.

Aku kuno dan kampungan, ya?

Jelas begitu, Sayang. Aku kan masih tinggal di kampung kita yang telah kamu tinggalkan, merantau ke Kota Mahasiswa selama beberapa tahun ini demi menyelesaikan pendidikanmu di sebuah universitas. Soal ongkos, bukan masalah berat bagi orangtuamu yang mempunyai jabatan penting di kecamatan, juga memiliki kebun sahang berhektar-hektar, dan enam toko kelontong yang selalu ramai pembeli. Apalagi kamu dulu berada pada ranking tiga besar setiap menerima rapot. Sedangkan aku?

Aku hanya lulusan SMP yang harus kembali ke kebun sahang milik ayahku yang luasnya tidak sampai satu hektar itu. Bibit sahang ditanam tidak tiba-tiba berbuah. Ada rentang waktu bertumbuh dan entah kapan berbuah. Usai tanam bibit dan pasang kayu junjung, aku pun boleh pergi, bergabung dengan kawan-kawanku di proyek apa pun.

Sebagai anak laki-laki, kendati bukan anak sulung, aku tetap harus bekerja. Keluarga punya kebutuhan pokok juga. Beras, gula, minyak tanah, dan lain-lain. Kami tidak punya sawah, dan kondisi tanah kampung kita yang kuning dan keras, tidak cocok untuk tanam padi. Sistem irigasi pun tak ada. Beras pasti didatangkan dari pulau lain. Selain itu, minyak tanah hari ini bisa ada, besok tiada, lalu muncul lagi dengan harga yang bertambah sekian ratus rupiah bahkan bisa ribu rupiah. Ditambah lagi harus antri di rumah balai kampung setiap dua bulan sekali dengan jatah 20 liter per keluarga.

Ya, beginilah nasibku, Sayang. Tapi aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa, karena keberadaan dirimu selama ini lebih dari cukup bagiku untuk bersyukur dan memaafkan apa dan siapa pun yang telah andil dalam nasibku. Dan suratmu ini sangat menghibur diriku yang tengah lelah raga, kendati aku belum sempat membalasnya.

Manakala membaca suratmu, aku sering membayangkan alangkah tekunnya kamu melakukannya. Menulis, membaca ulang, mencoreti yang tidak pas di hati, memperbaiki, mengambil lembaran baru, menulis ulang, membacanya lagi dengan mencermati setiap kalimat, membuang lembaran yang keliru, meneliti lagi, menulis ulang, membuang lembar yang keliru lagi, membaca kembali, dan seterusnya hingga betul-betul siap masuk amplop. Huruf-huruf cantik memang sudah mengalir lancar dari jemari lentikmu. Tetapi kata-kata yang padat-akurat tentu tidak sembarangan bagimu yang berpendidikan tinggi.

Kok Abang tahu? Barangkali begitu tanyamu.

Jujur saja, aku pernah diam-diam mengendap di dekat jendela kamarmu waktu kamu sedang asyik menulis surat balasan untukku. Waktu itu sekitar pukul dua siang. Mungkin seusai kamu makan sepulang sekolah. Kebetulan aku baru pulang dari kebun sambil memanggul pacul, melintasi jalan samping rumahmu yang sering kupakai untuk jalan pintas dan memang pekarangan rumahmu selalu terbuka untuk siapa saja, termasuk aku yang bertetangga tepat di samping rumahmu. Begitu aku melihat kamu sedang asyik di meja belajarmu, aku menoleh ke samping dan ke belakang. Setelah itu aku mendekati rumahmu, dan mengintipmu. Rupanya kamu sedang menulis surat.

Kuintip dirimu yang tengah asyik menulis. Kadang berhenti sejenak, dan kamu bersenandung. Lagu cinta. Tiba-tiba tersenyum. Lalu matamu menatap langit-langit kamar. Sesekali aku menoleh ke samping dan ke belakang. Aku kuatir kalau kepergok dan digebuki orang sekampung. Aku hanya ingin melihatmu menulis sebuah surat cinta secara nyata, bukan untuk hal tak senonoh. Akhirnya, sebelum kamu memasukkannya dalam amplop, aku bergegas mundur dan berjalan santai sembari bersiul.

“Bang Oji,” sapamu dari jendela.

Seketika kupasang muka karet. Pura-pura kaget. Sebenarnya aku gugup!

Badanmu menekuk, lehermu menjulur, dan kepalamu keluar jendela untuk memastikan ada siapa lagi selain aku. Setelah keadaan aman, kamu segera menyodorkan surat itu. Surat super kilat! Kamu tersenyum tanpa bicara apa-apa. Senyummu sangat menyejukkan penatku setelah membabati ilalang yang merajalela di kebun kami.

“Makasih ya.”

Kamu hanya mengangguk dan tersenyum lagi. Bibirmu yang berwarna merah muda itu mirip lumeran es tung-tung di belahan roti tawar. Mmm…

Kamu memang teliti pada huruf, kata dan kalimatmu, disamping tulisanmu sangat indah. Ya, sangat indah, dibanding beberapa tulisan perempuan yang selama ini aku lirik dari buku-buku atau tulisan pendek pada daftar belanja orang-orang di pasar. Bahkan, tulisan adik perempuanku pun kalah jauh dari tulisanmu, apalagi tulisanku yang sangat tidak didukung oleh suasana barak-barak darurat para kuli. Tapi aku terhibur atas permaklumanmu pada model tulisanku yang mirip anak SD sedang belajar menulis abjad dan huruf latin. Jemariku tidak akrab dengan pena dan kertas. Berbeda dari jemarimu yang lincah berdansa dengan pena di atas pentas kertas hingga menghasilkan huruf , kata dan kalimat yang terjalin menjadi tulisan yang kurindukan.

Kubayangkan pula ketika kamu melipatnya secara teliti dan hati-hati seolah lembaran kertas itu terbuat dari lepengan emas. Selalu dengan lipatan simetris dan rapi. Tidak ada lipatan aneh-aneh. Tapi, ketika lembar surat telah terlipat, aku yakin, kamu tidak akan terburu-buru menyelipkannya ke dalam amplop. Kamu akan mengambilnya dan membacanya kembali.

Berikutnya, amplop. Kamu tentu sudah menyiapkannya. Warna biru muda. Polos. Tanpa kembang atau gambar hati. Selalu begitu sejak surat cinta pertama kuterima darimu. Kamu pasti punya alasan tersendiri, kenapa senantiasa begitu, bahkan mungkin sebagian dari prinsipmu mencinta. Begitukah?

Lalu, apabila lembar surat sudah terlipat, masuk amplop, dan terekat, kamu akan pergi ke kantor pos atau hanya mencemplungkan dalam bis surat yang terlebih dahulu amplopnya sudah kamu beri perangko. Kalau di daerah kita, kantor pos hanya ada di kecamatan yang berjarak lima kilometer dari kampung kita. Bagaimana dengan kantor pos di daerah perantauanmu kini, Sayang? Dekatkah jarak pondokanmu dengan kantor pos? Atau sama, lima kilometer juga? Transportasinya bagaimana? Seandainya hujan berhari-hari, apakah kamu akan berjuang mengantarkannya ke kantor pos demi aku? Tentang kantor pos ini, kamu belum satu kali pun menyinggungnya.

Mungkin saat ini kamu bertanya, “Untuk apa semua rincian ini?”

Sayangku, seberapa rinci aku membayangkan jerih-payahmu menulis hingga mengirimkan surat itu padaku, tentu saja aku wajib menghargainya. Perbedaan kondisi dan situasi kita sekarang justru membuatku lebih serius lagi dalam menghargai cintamu.

Jujur saja, aku sering bertanya pada diriku sendiri, kenapa cintamu tetap menggebu? Bukankah di sekitarmu bertaburan mahasiswa yang lebih segala-galanya dibanding aku? Gadis secantik dan sepandai kamu pasti mudah mendapat kekasih yang sepadan. Setiap aku membantu mamamu merawat taman, beliau sering cerita bahwa hasil ujianmu selalu bagus, punya banyak kawan, aktif mengikuti organisasi ini-itu…

Sayangku, apakah kamu pengagung cinta pertama itu? Apakah, menurutmu, cinta orang-orang kota sudah terpolusi oleh materi atau birahi? Apakah para mahasiswa itu pernah menunjukkan perilaku yang mengecewakanmu? Apakah kamu sama sekali tidak percaya pada cinta di kota besar yang kini akrab dengan budaya selingkuh itu? Jawablah, Sayangku. Jujurlah.

*******
bumiimaji, ujunghidung 2003

[cerpen dimuat di harian BATAM POS, edisi Minggu, 18 April 2004]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:28 AM.


Maling Itu Boleh ?

Aku berasal dari sebuah kampung di pinggir suatu kota yang tak pernah disambangi salju satu kali pun. Kampungku pun tak pernah dilanda banjir satu kali pun. Yang selalu ada ialah kemarau di hati kami. Serius. Kalau kau hendak menanyakan apa nama kampungku, mudah. Asli! Kalau kau baca ceritaku ini, kau bisa tahu di mana kampungku.

Dibanding kawan-kawanku, aku sebenarnya tidak tertarik bermain keluar-masuk kebun milik entah siapa. Ayahku yang guru sekolah menengah dan ibuku yang guru sekolah dasar swasta pun tak pernah seenaknya keluar-masuk kebun orang di sekitar rumah kami. Kalau pun terpaksa lewat sebuah jalan kecil yang membelah ilalang, ayah-ibuku selalu akan beramah tamah dengan ke rumah si pemilik kebun yang tidak jauh dari kebun itu. Paling tidak, ayah-ibuku akan bilang, “Permisi. Maaf, numpang lewat.”

Kawan-kawanku tidak begitu. Tapi aku coba ikut kawan-kawan kampung. Aku juga belum mengerti apa itu solidaritas dan kompromi. Istilah entah apakah. Ya apa boleh buat. Aku dan kawan-kawanku langsung saja lewat. Aku dan kawan-kawanku tidak peduli kebun punya siapa, siapa pemiliknya, di mana pemiliknya. Kalau ada pemiliknya pun, kawan-kawan tidak hirau. Anggap saja ada patung di kebun untuk menakuti-nakuti anak-anak kampung. Apalagi kalau si pemilik kebun sudah menaikkan tangan yang berujung parang. (Kami selalu menganggap si pemilik kebun itu adalah orang jahat, kejam, tak punya rasa persahabatan dengan kami. Bila orang itu marah, kami akan mengadu ke orangtua. Aku?)

Dan, kami akan datang lagi di hari lain. Kami tidak peduli matahari sudah di mana. Kami hanya peduli pada sebatang pohon jambu air yang buahnya sedang lebat dan putih-putih pulen. Putih-putih yang menyeruak di antara hijau-hijau. Kali ini kami mau menyenangkan hasrat tualang kecil kami, anak laki-laki. Ini laki-laki! Suara kami bergetar.

“Ayo ke kebun Pak Oji si sipit.”

“Ayo.”

Aku pun ikut karena kawan-kawanku tidak ada yang di rumah. Kawan sebayaku tidak ada selain mereka. Kami berjalan seperti berbaris membelah hamparan ilalang. Ada bekas belahan. Belahan yang dihasilkan oleh jejak-jejak kaki beberapa tetua di kampung kami yang membunuhi anak-anak ilalang. Kami ikut melakukannya hampir setiap hari setelah seragam putih-merah kami tanggalkan ke dalam tas atau kami lipat di buku catatan.

Sebatang pohon jambu air sudah menanti. Benar, buahnya lebat. Putih-putih pulen. Rupanya kawan-kawanku tidak bohong (Kawan-kawan selalu bilang “sumpah demi Tuhan” sambil menyodorkan tangan dengan jemari mekar. Bohong itu dosa. Aku pasti percaya). Mata kawan-kawanku berbinar-binar. Aku ngiler. Kepala kami berputar ke segala penjuru kebun. Awas kalau ada lelaki yang mengangkat tangan berujung parang!

Aman. Kami bagi tugas. Sebagian memanjat. Sebagian lagi memunguti tuaian. Adil. Kerja sama siap dijalankan. “Ssst… Jangan bising.” “Sssst…” “Ya, jangan berisik.” Biar si pria bertangan parang tidak mendengar kemudian kemari. Baiklah. Kami sepakat. “Sssst…”

Hup! Beberapa kawan langsung memeluk batang pohon, perlahan naik. Aku dan sisanya sebentar mendongak, sebentar menyapu pandang ke segala penjuru demi bahaya tangan terangkat berujung parang. Berdebar-debar. Senang, khawatir.

Senang dan khawatir terus berjoged duet. Kawan yang di atas menjatuhkan buah. Kami yang di bawah menadah, memunguti, mendongak, menoleh kanan-kiri. “Ssst… yang sebelah sini, banyak.” “Sssst, jangan berisik!” “Iyaaa… Bukan aku!” Kawan yang di atas mengisi kantong sambil mengunyah. Kami yang di bawah juga begitu. Kantong baju dan celana terisi penuh. Mulut kami pun mengunyah tiada henti. Sepasang mata sipit pria yang bertangan parang menyelinap dari balik batang jering ke sela-sela kantong kami.

Kawan yang di atas turun kembali. Kami yang di bawah menanti. Sesudah semua turun, kami pun berlari melewati belahan ilalang yang anak-anaknya mati. “Sssst… Kalau Pak Oji itu mengejar, kita lempari batu ya.” “Iyaaa…” Sepasang mata sipit mengekori kaki kami. Di teras rumah kawanku kami berhenti. Nafas-nafas kami mendaki-menuruni. Ada lega di hati. Aku khawatir jika tiba-tiba ayah-ibuku menemukan aku di rumah itu, sebab aku pasti didera ayahku atau dicambuk ibuku jika ketahuan mengambil tanpa minta ijin.

Di rumah itu ibu kawanku dan kakak kawanku melihat di kantong kami penuh jambu. Kakak kawanku bilang, “Sini bagi.” Maka kami pun berbagi. Kami beri. Kami tidak mau disebut pelit. Kami suka dibilang baik hati. Di dapur kawanku menggerus garam-cabe. Kami menikmati sedapnya jambu air putih pulen. Basah-basah manis pedas asin. Air mata menetes. Ingus meleleh. Bibir-bibir membasah, memerah. Tapi betapa sedap. Sebentar rasa itu telah mengolesi mulut tanpa ada lagi jambunya.

“Besok kita cari lagi.”

“Cari atau curi?”

“Cari. Kalau curi itu maling.”

“O, begitu. Yang kita makan?”

“Jambu air. Tidak masalah.”

O, tidak masalah.

Rupanya ada peraturan lain di luar rumahku. Aku patuh, sebab aku khawatir mereka menjauhiku karena aku membawa peraturan ayah-ibuku. Ada maling yang diperbolehkan?

Maling itu boleh, kalau memang terjepit. Maling itu boleh asalkan memang untuk dimakan. Kalau lapar, kita boleh maling. Itu tidak berdosa. Yang berdosa itu kalau kita maling untuk kita jual. Maling untuk mendapat untung, itu baru dosa namanya.”

Itu kata mereka. Bukan kataku. Sungguh. Asli. Sumpah! Ayah-ibuku pun tak pernah bilang begitu. Aku baru merogoh tas kecil ibuku dan kepergok ayahku, aku sudah kena jewer dan tempeleng. Ayah-ibuku bilang, “Jangan mencuri, mencuri itu dosa.” Ini perintah. Tapi, apakah sebenarnya maling itu boleh? Maling itu boleh? Bolehkah?

Ayah-ibuku payah! Bikin perintah tidak seperti orang lain! Mengekang kebebasan!

“Besok kita cari lagi ya setelah pulang sekolah.”

Kalau aku tidak mau, mereka tidak mau lagi main dengan aku. Kalau mau, kan tinggal bagaimana caranya agar tidak ketahuan si pemilik jambu dan tidak kepergok ayah-ibuku.

Tiga perempat hari kawan-kawanku bermain lagi di kebun itu sambil membawa kantong plastik asoy. Aku tidak ikut, karena ayah-ibuku sudah pulang. Aku harus bermain atau baca-baca komik dulu di rumah sampai ayah-ibuku terlelap dam istirahat siang. Cepatlah tidur, Yah, Bu. Istirahatlah. Ayah, Ibu kan lelah. Ketika kuintip mata-mata beliau terpejam, kakiku pun meloncat seperti kancil lepas kandang. Tra la la tri li li…

Di halaman rumah kawanku kulihat dua sepeda mini tergeletak. Mungkin mereka ada. Lantas kucari mereka. “Wah, lumayan banyak ya. Coba ditimbang.” Nah, itu suara mereka. Sambil duduk di lantai dapur, mereka menaruh kantong asoy di atas timbangan kecil yang biasa untuk menimbang telur, bawang, cabe, gula. Ibunya sedang memarut kelapa di dekat mereka.

“Banyak begini kok dibiarkan saja sampai merah legam rontok banyak.”

“Matanya terlalu sipit sih, jadi sulit melihat yang begini ini.”

“Eh, kira-kira ada berapa kilo?”

“Berapa kilo… Mmm… Satu, dua, tiga… Lima kilo lebih dikit. Anggap lima kilo.”

“Lima kilo? Lima kilo dikali… Bu, satu kilonya di toko Bi Suri berapa harganya?”

“Enam ratus. Kalian mau jual pada Bi Suri? Mudah-mudahan Bi Suri mau beli lebih enam ratus rupiah per kilo.”

“Kata ibuku, harganya enam ratus. Nah, berarti lima dikali enam ratus. Coba hitung.”

“Li-ma di-ka-li e-nam ra-tus sa-ma deeeeeeee-ngan…”

“Lima dikali enam ratus, berapa? Bodoh! Menghitung segitu saja nggak bisa.”

“Sebentar. Sabar. Orang sabar itu disayangi Tuhan. Li-ma ka-li e-nam sa-ma de-ngan ti-ga pu-luh. Tambah dua nol lagi di belakang nol. Ja-di… nol nol nol. Tiga ribu.”

“Tiga ribu rupiah! Cihuuuuuuuy! Bakal dapet tiga ribu…”

Aku melongok. Mereka mau menawarkan apa. O, belinju.

Kawan-kawan membereskan kembali perkakas itu. Selesai. Lalu bergegas ke arah dua sepeda yang tergeletak tadi. ”Kalian tunggu di sini dulu, kami mau ke toko Bi Suri.” Aku dan dua kawanku mengangguk. Kami tidak ikut karena jumlah sepeda kurang.

“Besok kita nggak usah cari jambu. Kita cari rambutan di kebun Apin si mata sipit.”

“Iya, bener. Rambutan gajah di sana sudah berbuah, masak-masak.”

Apa aku harus mengikuti ajakan kawan-kawanku? Kali ini aku tidak bisa mengikuti ajakan kawan-kawanku. Aku pilih pulang ke rumah dengan alasan apa saja. Sebab, dua hari lalu aku diajak ibuku membeli rambutan milik Apin langsung di kebun Apin yang bakal menjadi tempat kejadian perkara itu. Sebagai guru dan tinggal di kampung, ibu dan ayahku sangat dikenal, sehingga ketika membeli itu aku malah disuruh memanjat sendiri, makan sepuasku, dan pulang membawa rambutan yang dibeli ibuku dengan jumlah yang tidak sebanding dengan beberapa lembar ribuan.

Sampai ketika aku sudah memakai seragam putih-abu-abu, aku masih bermain dengan kawan-kawanku, walaupun sudah tidak lagi mengikuti kebiasaan mereka. Karena aku sendiri sibuk dengan kegiatan di sekolah. Latihan voly dua kali seminggu, sepakbola dua kali seminggu, mengurusi majalah sekolah, ada pelajaran tambahan, praktikum, dan lain-lain. Belum lagi ikut bimbingan seni rupa, belajar di bengkel sastra, atau plesir.

Sementara sebagian kawanku sudah bisa membawa pulang besi-besi rongsokan, perlengkapan kamar mandi semisal kran model mutakhir, keramik asli buatan Tiongkok, cermin rias besar, pompa air Sanyo, tegel, kaca nako, pakaian setengah basah, sepatu, sandal, genteng, ember, kompor gas, gelondongan kabel telpon dan entah apa lagi yang mereka temukan entah di mana. “Daripada teronggok bengong, ambil saja,” alasan mereka selalu begitu.

Orangtua mereka sendiri tak pernah menanyakan benda-benda itu milik siapa, ambil dari mana, bagaimana cara mengambilnya, atau asal-muasal apa pun. Yang bertanya justru bapak-bapak polisi yang mengangkuti beberapa kawanku ketika digrebek saat mereka mengambil lempengan besi dan peralatan-peralatan mesin di bengkel kapal keruk. Di kantor bapak-bapak itu beberapa kawanku menginap dengan muka bengap dan bibir bengkak. Entah sampai berapa hari di kampung kami tidak akan terlihat kawan-kawanku yang biasa bersenda gurau sambil mengepulkan asap rokok dari hasil mengambil tanpa ijin saat sang penjual rokok lengah karena sibuk melayani pembeli lainnya.

*******
bumiimaji, november 2003

[cerpen ini dimuat di harian BANGKA POS, 28 Maret 2004]

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 1:21 AM.