blog*spot
get rid of this ad
[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]
C
E
R
P
E
N

P
I
L
I
H
A
N

P
R
I
B
A
D
I
B
e
l
u
m

S
e
l
e
s
a
i

L
h
o

i
n
i

!!

MAAF DARURAT
Cerpen-cerpen ini
pernah dimuat
atau juga ikut
lomba/sayembara
(sering kalah aja!)


PERINGATAN
DILARANG
MENJIPLAK /
MEMUAT /
MENYADUR /
MENGGANDAKAN /
MENYIARKAN
TANPA IJIN
DARI PENULIS






















AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka
dan pernah mencicipi bangku
pendidikan Arsitektur di
Universitas Atma Jaya
Yogyagyakarta
[www.calonceritapendekis.
blogspot.com
]


=====================
JALINAN KISAH
=====================

ANTOLOGI PERTAMA
ANTOLOGI KEDUA
ANTOLOGI KETIGA
CERPEN MINI
BEDAH CERPEN
ESAI CERPEN
LOMBA CERPEN


* * * * * * *
ARSIP-ARSIP KASIP
* * * * * * *

=====================
JALINAN KATA
=====================

SAJAK SERIUS
SAJAK SLENGEKAN
SAJAK SAYANG
SAJAK PAMFLET

* * * * * * *

=====================
JALINAN KARYA
=====================

KUMPULAN KARTUN
KUMPULAN ILUSTRASI
GAMBAR OBLONG

* * * * * *

=======================
@2003 onoy budak bangka
[
ID YM : sayawahyono]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Alamat e-mail :
sayawahyono
@yahoo.com

=====================















[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]

===============
:: JALINAN JIWA :: ===============
==> Nanang Suryadi
==> Kunti Hasto Rini
==> Hasan Aspahani
==> Qizink dan Dewi Laras Biru
==> Sihar Ramses Simatupang
==> Meli Indie
==> Ramon Damora
==> Pulung Amoria Kencana
==> Sazano
==> Indah Irianti Putri
==> Arwan dan Yulie
==> SN Mayasari H
==> Dobby dan Wida
==> Cecil Mariani
==> Moyank D.I.
==> Randu Rini
==> Adi Susilo Wibowo
==> Arwan Maulana
==> Idaman Andarmosoko
==> Adhika Ninus Annissa
==> Yulianti
==> wida sireum hideung
==> Bleem (e-nya 2 lho)
==> Edsen Medan
==> Tantry
==> Omprit Abrimanyun
==> Ventri Jatinangor
==> Ida Hongkong
==> ERIA
Masih Kosong, Anda berminat?


=====================
JALINAN LAIN
=====================
CYBERSASTRA
BUMIMANUSIA
SARIKATA
INFO CERPEN KORAN

* * * * * *

Name :
Web URL :
Message :






























| + Wednesday, June 02, 2004 + |

Cinta Itu Milik Sahabatku 1)

(Cerpen ini dimuat di Majalah Kumpulan Cerpen CINTA, edisi 13, tahun 2004)

Landung Membaca Kayam 2) di Lembaga Indonesia Perancis, Sagan, Yogyakarta. Itulah acara kali pertama aku bersua gadis bernama Rosa. Tentu saja sangat bersejarah bagiku. Tentu saja sangat mengkristal dalam jiwaku. Tentu saja membuat aku tak bisa melupakan suatu pentas sastra dan bayangan diri Rosa. Tentu saja mengingatkanku pada… ah, entahlah. Tentu saja aku agak malu bila mengingatnya.

Ya, aku ingat sekali, ketika jam tujuh malam Oji – kawanku dari kampus lain yang kukenal di sebuah acara bedah buku antologi – menjemputku di kosku setelah aku dan dia berjanji akan berangkat bersama ke acara itu.

“Noy, kita ke kosnya kawanku dulu,” katanya sewaktu motor kami keluar dari pintu gerbang kosku menuju arah jalan raya Babarsari.

“Oke deh. Di mana, Ji?”

“Di Tamansiswa.”

Ooo.. pantesan Oji tidak berbelok menuju jalan tepi Selokan Mataram, pikirku. Biasanya dia memilih lewat jalan tepi Selokan Mataram yang merupakan sebuah jalan pintas yang dapat menuju Gejayan, belok kanan ke jalan Colombo, lalu belok kiri ke jalan Profesor Yohanes, dan akhirnya berhenti sejenak untuk menyeberang ke arah jalan Sagan yang berada di sebelah kanan jalan.

Dan kini harus ke Tamansiswa dulu? Mak, jauhnya! Dari Babarsari ke Tamansiswa dan akan menuju Sagan. Sebuah perjalanan yang, menurutku, tidak cukup ditempuh selama 10 menit berkendaraan sepeda motor dengan menyelinap ke jalan-jalan pintas di Kota Pelajar ini. Kalau ngebut, jelas aku tidak terlalu suka. Selama di dalam kota ini aku lebih suka berkendaraan sepeda motor dengan kecepatan yang tidak melebihi angka 60 km/jam.

Aku memang tidak suka ngebut. Oji tahu itu. Pertama, aku harus menjaga diriku sendiri untuk menunaikan pendidikan sesuai dengan mandat dari kedua orangtuaku, bukannya menggerogoti ekonomi keluarga gara-gara kecelakaan parah dan masuk rumah sakit. Kedua, aku tidak punya sepeda motor. Gaji orangtuaku yang hanya sebagai guru di suatu SMP Negeri, tentu tidak akan sampai 3 juta rupiah per bulan. Belum kebutuhan keluarga kami. Adikku ada dua orang. Kalau suatu waktu aku pinjam kendaraan dan kemudian terjadi kecelakaan yang meremukkan motor pinjaman itu?

Alasan ketigaku, waktu-waktu setelah kecelakaan, opname dan masa pemulihan niscaya menyita waktu kuliah. Keempat, bagaimana kalau aku mengalami kerusakan badan atau cacat tetap? Alamak! Tapi, meski kini Oji harus menjemput kawannya itu, aku cukup merasa aman. Oji pun sudah memberi tahuku bahwa ia tidak pernah menggenjot motornya dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam. Mungkin mahasiswa perantauan dari luar Jawa ini sudah terimbas slogan Jawa, “alon-alon waton kelakon” atau artinya “pelan-pelan, yang penting sampai di tujuan”.

“Dia naik motor sendiri, Ji?”

“Ya.”

Seorang gadis tidak bolehlah kubiarkan naik sepeda motornya sendiri ketika malam begini apabila dua lelaki bergoncengan mendampinginya. Itu prinsipku dalam bergaul dan memperlakukan perempuan. Bukannya tidak memerdekakan perempuan menjadi sosok mandiri, melainkan keluargaku dan kawan-kawanku lainnya selalu mementingkan perlindungan sebaik-baiknya untuk kaum perempuan.

Akan tetapi, mendadak penyakit usangku kembali kambuh; aku gugup. Ya, aku tidak sanggup menjalankan prinsip itu manakala aku berjumpa langsung dengan gadis bernama Rosa atau lengkapnya Angelina Rosani. Betapa tidak. Mahasiswi fakultas Ekonomi semester III itu cantik betul. Tubuh setinggi sedang-sedang saja. Tidak gemuk, tidak ceking. Kulitnya kuning langsat dan rambutnya lurus melintasi bahu. Tapi, gerakan gadis ini cuwek dan lincah sekali. Tatapan matanya lepas. Langkahnya tidak melenggak-lenggok kayak perempuan berkebaya. Apalagi Rosa cuma memakai kaos oblong hitam polos, celana jins biru kusam, dan sepasang sandal jepit bertali oranye.

Kuurungkan saja niat baikku untuk menggoncengnya. Akhirnya gadis itu sendiri mengemudikan motornya. Oji pun cuwek di atas motor GL-100, lantaran Oji berprinsip membebaskan perempuan dari semangat “pahlawan kesiangan”-nya kaum pria. Oji memang tidak sepakat jika perempuan selalu digonceng, dibantu atau dimanjakan. Sebab, menurutnya, sama dengan menganggap mereka makhluk lemah.

***

Landung Membaca Kayam di Lembaga Indonesia Perancis, Sagan, Yogyakarta. Pukul 20.15 WIB. Kami bertiga menonton dengan konsentrasi masing-masing sembari duduk bersila di hamparan karpet seperti penonton lainnya. Oji lebih suka duduk dengan sudut pandangnya sendiri. Awalnya kami berjejer tiga. Namun selanjutnya Oji sudah pindah agak ke depan. Mungkin karena Oji betul-betul ingin menikmati Landung Membaca Kayam. Sedangkan aku tetap bersandingan dengan Rosa.

“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap memaksaku untuk percaya itu?”
“Ya, tentu saja, Kekasih.”


Begitu kudengar Landung Simatupang membaca secuplik cerpen Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan karya mendiang Umar Kayam. (Tapi waktu itu Umar Kayam masih hidup. Beliau sendiri hadir menyaksikan cerpennya dibacakan oleh Landung Simatupang. Beliau duduk di kursi, di dekat pintu masuk, di antara penonton yang duduk di hamparan karpet.)

Aku masih di tempatku, di sebelah Rosa. Sebentar kulirik sikap Rosa. Kelihatannya dia sangat menikmati Landung Membaca Kayam. Tiba-tiba Rosa membalas lirikanku. Bola matanya bergulir di ujung mata indahnya

Alamak!

“Kamu punya permen, Ros?” pintaku pelan untuk membungkus kegugupanku.

“Ada,” jawabnya pelan sambil merogoh sakunya. “Nih.”

Permen Mentos. Ehm. Asyik juga.

“Trims.”

Rosa tersenyum manis. Manis melebihi permen pemberiannya. Manis sekali senyum Rosa. Aku tak menduganya. Terlebih suasana agak remang-remang karena lampu dipusatkan pada posisi panggung mini Landung Membaca Kayam. Tapi aku tak mau kehilangan pesona Landung Membaca Kayam.

Sepulang dari acara Landung Membaca Kayam, aku beranikan diri menggonceng Rosa. Aku merasa diriku bertanggung jawab untuk menggoncengnya, terlebih malam kian larut pada jam sepuluh lewat. Ternyata Rosa bersedia kugonceng. Kuharap Oji juga bisa mengerti kenapa aku mengambil alih kemudi motor Rosa.

***

Landung Membaca Kayam telah sekian hari berlalu. Aku gelisah sendiri di kosku. Kawan-kawan kosku sibuk dengan acara mereka masing-masing. Mungkin menggarap tugas kelompok. Atau, mungkin bermain sepakbola di lapangan dekat kosku. Mendadak sekelebat rindu menyelinap dalam hatiku. Rindu pada Rosa. Astaga!

Ya, betul-betul astaga betul! Kenapa bisa begini? Padahal, sepulang dari acara baca cerpen itu Oji telah memberi lampu merah bahwa gadis itu sudah punya pacar. Lantas? Aku hanya rindu kok, bukan ingin memacarinya. Hanya rindu. Rindu saja. Tidak lebih. Sungguh. Sungguh? Iya!

Sore itu, dengan sebuah motor hasil pinjaman milik kawan kosku yang sedang asyik bermain sepakbola di lapangan bekas petak sawah dekat kosku, aku langsung menggelinding ke kos Rosa di daerah Tamansiswa. Mumpung bukan Sabtu sore, aku punya alasan main ke rumah Rosa. Sebab, kalau Sabtu sore, jelas-jelas merupakan suatu kecenderungan! Rawan prasangka. Aku harus bisa mengelak dari sangkaan sensitif itu. Aku cuma ingin ketemu Rosa dan memandangnya. Ehm.

Sesampainya aku di indekosnya Rosa, seorang kawan kosnya menyambutku.

“Wah, Rosa sudah pindah kos, Mas.”

“Kapan? Di mana?”

“Dua hari kemarin. Kata teman-teman sih begitu. Mendadak sih. Entah pindah ke daerah mana. Soale, aku sendiri baru saja datang dari udik nih. Minggu tenang, libur satu minggu.”

Oh!

Tiba-tiba seorang kawannya lewat.

“Eh, Lyd, kamu tahu Rosa pindah ke mana?” tanya gadis yang barusan ngobrol denganku. “Lydia nih Mas yang ada di kos.”

“Ada apa, Sri?”

“Ini, Lyd, mas ini nyari Rosa.”

“Ooo…”

Aku mengangguk.

“Waaah, Rosa pindah entah ke mana, Mas. Sama pacarnya, kayaknya. Rosa, kan, sudah telat…” ujar Lydia sembari tangannya membuat garis cembung di perutnya lalu tangannya ditekuk dengan menegakkan jari telunjuk dan tengahnya.

Hamil dua bulan? Oh!

“Siapa nama pacarnya, Sri?”

“Mas Oji.”

Mas Oji? Oji? O-ji?

“Ya, begitu, Mas.”

Oh! Oji dan Rosaaaaaaah….

Setelah berpamitan aku mengajak motor pinjamanku itu ke sebuah toko buku yang selalu memberi diskon. Sejujurnya aku jelas kecewa. Tapi biarlah pesona buku-buku nantinya lebih memukauku daripada mengingat si cantik Rosa yang sebentar lagi menjadi istri Oji. Lamat-lamat suara Landung Membaca Kayam kembali mengiang di ingatanku, “Kau lambat hari ini, Charlie3).”

*******

babarsariyogya, desember 2001

Keterangan:
1) cerpen ini semula berjudul “Lambat”, namun kemudian diganti “Cinta Itu Milik Sahabatku” oleh Majalah Kumpulan Cerpen CINTA.
2) Acara pembacaan beberapa cerpen karya Umar Kayam yang dilakukan oleh Landung Simatupang dan diselenggarakan oleh Lembaga Indonesia-Perancis Yogyakarta pada 1-3 November 2001.
3) cuplikan dialog cerpen “Chief Sitting Bull” karya Umar Kayam.

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 2:17 PM.


Di bawah Bayang-Bayang Bulan

(Cerpen ini dimuat di Harian PETA NEWS, edisi Minggu, 23 Mei 2004)

Langit lapang membentang kelambu kelam. Gemintang saling mengerdip. Bulan, sang induk malam, bertengger di singgasana malam. Matanya berbinar menatap kelelapan bumi. Jemarinya bergelora merambah setiap sudut. Sang induk malam itu sedang bergairah memperkosa apa pun yang dijamahnya atau yang dikangkanginya.

Dan malam itu, ada panggilan bertalu-talu, menggema, membahana. Kata-kata diulang-ulang dengan suara gregorian dan irama naik-turun layaknya pemujaan dan sebuah persiapan upacara mempersiapkan persembahan. Suara-suara itu kian membinarkan mata rembulan, meski tanpa pujian para srigala.

Rerimbunan pohon di tepi jalan raya lintas kota itu adalah pengecualian bagi geliat liar sang induk malam. Rerimbunan pohon itu telah menghadang laju kerakusannya. Rerimbunan pohon laksana pagar betis berlaksa-laksa prajurit. Mereka sangat kokoh, tegar dan bersatu-padu menjagai jalan raya lintas kota itu.

“Berilah aku kesempatan untuk bisa meraba jalan itu,” pinta sang bulan.

“Tidak!” jawab pepohonan tegas.

“Ayolah. Bukankah saban malam aku mencumbui bumi?”

“Tidak boleh!”

“Ah, jangan begitu dong. Masak sih kalian lupa siapa aku ini?”

“Justru kau sendiri yang harus menyadari siapa dirimu dan siapa diri kami.”

“Sudahlah, nggak usah ribut soal siapa diri kita, supaya kita tak lupa diri atau bangga diri yang sebetulnya nggak perlu.”

“Kau tadi yang mulai! Pokoknya, tidak bisa! Kami bukan budakmu!”

Bulan tahu bahwa sesungguhnya pepohonan itu memang bukan budak miliknya. Manusialah yang menempatkan barisan pohon itu berdiri kokoh di pinggiran jalan ketika pepohonan itu masih sangat muda. Manusia merawat dan menyiraminya. Manusia menyiangi dedaunan yang tua. Manusia memenggal cabang-cabang yang menyeruak sembarangan.

Manusialah yang menghendaki mereka berjaga-jaga di sekitar jalan itu. Manusia menghendaki mereka bisa memayungi manusia dari cabikan-cabikan mentari tengah hari. Manusia menghendaki mereka bisa meredam keberingasan kendaraan. Manusia menghendaki mereka bisa memenggal kebisingan dan menghasilkan udara bersih untuk dihirup manusia. Paru-paru suatu daerah, begitulah. Manusia menghendaki mereka menyumbangkan daun basah untuk makanan ternak, daun kering untuk makanan tanaman dan dahan sisa untuk memasak makanan manusia. Manusia menghendaki mereka menjadi persinggahan unggas liar yang lepas berkicau riang gembira atau berloncatan di antara ranting-ranting. Manusia menghendaki mereka dapat memberi tumpangan bagi keluarga unggas itu. Dan, manusia menghendaki mereka bisa menjadi bagian dari ornamen situs bersejarah, kendati sekadar seutas jalan sepanjang kenangan dalam senandung manusia.

Sedangkan sang bulan? Siapa yang menempatkan dia berkacak pinggang di angkasa kelam itu? Siapa yang langsung menitahinya untuk menguasai malam? Bahkan, benarkah bulan itu diberi mandat menduduki tahta malam selama berabad-abad?

“Kau teramat angkuh, Nenek tua bangka!” bentak pepohonan. “Mentang-mentang berada di atas, kau merasa dirimu di atas segalanya. Kau selalu mendikte malam beserta alam di mana pun. Kau selalu lapar-haus akan puja-puji. Kau selalu menuntut puja-puji manusia, baik dalam kata, irama, lagu maupun tarian. Kau begitu sombong. Kau selalu memamerkan diri, apalagi tatkala engkau sedang berahi. Matamu melotot, terbakar api gairahmu ketika menikmati kegiatan malam. Kau pun telah merasuki orang-orang untuk melakukan kejahatan. Kejahatan malam!”

“Ah, sudahlah, nggak usahlah kalian memojokkan aku pada keburukanku.”

“Tidak! Sekarang kami akan mengupas selubung kekejian dirimu!”

Sang induk malam tampak tersipu-sipu. Memalukan! Betapa tidak. Saat itu pula para makhluk malam sedang menontonnya, lantaran dia berada di atas panggung malam. Tubuhnya gembrot di antara kemalasan kunang-kunang angkasa yang kehabisan minyak. Ia sendiri tak mengerti, kenapa tiba-tiba hasratnya begitu kuat untuk menyentuh jalan itu. Mungkin lantaran mantera-mantera sekerumunan manusia bertabur aroma kemenyan dan kembang-kembang.

“Kau menyita jatah istirahat manusia. Kau merusak tatanan kerja manusia. Kau kejam, Bulan busuk!” sergah pepohonan.

Barangkali benar begitu. Bulan telah merasuki manusia. Ia membuat manusia menjadi gila kerja. Ia menghasut manusia untuk mengkhianati matahari. Ia menyihir mata manusia menggerayangi gelap hingga menguliti gulita. Ia menggelayuti tubuh lelah manusia yang seharusnya terbaring damai dalam kelegaan guna merajut kesegaran baru Di saat siang manusia tidur pulas, tapi giliran waktu malam manusia kerja keras. Lembur tak terukur. Manusia membuka mata ketika gelap, dan menutup mata ketika terang.

Wajah bulan lamat-lamat pucat. Matanya sayu, layu. Ia memelas, berharap pepohonan itu tidak terus-terusan mengeroyok dan menyerbunya dengan sejuta hinaan. Ia mengerti bahwa dirinya adalah seperti apa yang dibongkar oleh pepohonan itu.

Ia pun sadar diri bahwa dirinya sebatang kara di kebisuan samudera malam. Semenjak ia berusaha mematangkan sebutir khuldi untuk mengelabui sepasang moyang manusia, sang surya pun tak sudi lagi bersanding dengannya. Sang surya yang semarak itu selalu menghindar di saat bulan mencuat malu-malu bak perawan dari dusun terpencil. Bahkan, ketika fajar merekah di ufuk timur, sang surya itu pun selalu acuh tak acuh mengusirnya dari kemanjaannya yang tak puas menciumi bumi semalam suntuk.

“Sudah dong, janganlah kalian bersepakat membuat semesta alam raya berpesta menertawai aku. Kasihanilah aku. Berilah aku kesempatan untuk menyentuh jalan legam di bawah sana,” rengeknya sambil mengusap-usap dedaunan, dedahanan dan bebatangan.

“Tidak, wahai Ratu malam tanpa mahkota!” serempak pepohonan menolaknya. Pepohonan kian merapatkan barisan.

***

Bulan berjuang keras menerobos benteng pepohonan. Jalan raya lintas kota yang dipagari oleh barisan pepohonan itu sebetulnya belum selesai diperbaiki. Tampak peralatan pemulusan jalan ditinggalkan teronggok di pinggir jalan. Tak khawatir kalau-kalau dicuri atau dirusak tangan-tangan jahil. Para pekerja perbaikan jalan itu seakan tak peduli dengan barang-barang itu. Padahal harganya tidaklah murah. Pembeliannya pun masih mengemis-ngemis bantuan utang luar negeri.

Sementara suasana jalan itu benar-benar gelap-gulita. Sedikit kendaraan lalu-lalang. Lampu penerang sepanjang jalan raya itu sudah lama tidak berfungsi, lantaran sering dijadikan sasaran uji kejituan oleh anak-anak kecil yang sering bermain ketapel. Dan, penerang alami yang angkuh di langit itu tengah bersusah-payah membujuk barisan pepohonan yang sangat disiplin dalam tugas.

Jalan raya lintas kota itu belum seutuhnya siap mengemban tugas mulianya. Ada bekas lubang yang masih dibiarkan separuh menganga. Ya, menganga, bagaikan mulut maut yang suatu waktu siap menelan nyawa orang-orang yang menyenggolnya. Seharusnya ditimbun. Seharusnya. Tapi entah kenapa dibiarkan, seolah sengaja.

Sebuah sepeda motor mendekati daerah tersebut, sebab itulah jalan satu-satunya yang menghubungkan antara daerah tinggalnya dengan kota. Pengendaranya adalah sepasang suami-istri yang telah berusia setengah baya. Kedua pasutri pulang dari resepsi pernikahan sanak-saudara di kota.

Malam tenggelam dalam kelam paling dalam. Jalanan didekap kegelapan tak berujung. Pandangan uzur keduanya pun telah kendur. Tidak bisa melihat keadaan jalan secara jelas. Lantas, pada saat kendaraan mereka melaju cukup kencang untuk mengejar waktu yang berpacu, pada saat kendaraan mereka mengoyak kerubutan kelam, roda menggelinding cepat ke arah lubang yang menganga tadi. Memang menganganya tidak terlalu dalam. Tapi, lebih dari cukup untuk menjungkirbalikkan kendaraan roda dua.

Roda kendaraan telah menyerempet bibir lobang. Sang pengemudi terkejut. Sang pengemudi tak mampu berkelit. Kendaraan jadi goyah. Akhirnya, kedua pasutri itu jatuh. Pastilah keduanya terluka parah tak terkira. Pastilah patah-patah dan pecah-pecah.

Namun tak usai sampai patah-patah dan pecah-pecah. Malangnya lagi, dari arah belakang meluncurlah bis antarkota yang melaju kencang. Menghantam, … Akhirnya ….

***

Teriakan puluhan penduduk kampung memenggal kegiatan bulan yang masih saja memohon-mohon pada pepohonan. Jeritan penumpang bis yang ketakutan pun semakin merobek selaput sunyi. Teriakan berbaur jeritan mereka sampai menggugah kelicikan bulan. Dan, sewaktu api yang melumat tubuh bis itu telah menyemburat ke udara, tercenganglah pepohonan dan sang induk malam.

“Tepat sekali doa-doa itu!” seru batin sang induk malam teringat sesuatu. Hasratnya yang menggebu tadi lantaran pawai mantera roh-roh di sekitar jalan itu beberapa magrib lalu sewaktu mereka mengadakan pemujaan pada bulan. Mantera mereka menyebut-nyebut anggur dan madu. Mantera mereka menggemakan pesta pora. Mantera mereka mengungkapkan kesetiaan dan ketaatan mereka kepada sang induk malam, junjungan mereka. Mantera mereka adalah nyanyian maut kesukaannya. Para pemuja rembulan bersuka ria tak terkira.

Tinggal menerobos kekuatan pepohonan itu, batin bulan.

Oleh karena itu, kali ini ia semakin bersemangat hendak menerobos benteng-benteng tepi jalan yang rimbun itu. Ia makin bergelora. Ia menggali lagi akalnya untuk segera bisa mengangkat kelicikan, lalu bersiap-siap menyelinap diantara kempitan dedahanan, dedaunan serta bebatangan. Ia sudah dilanda dahaga itu.

Entah dari mana, tiba-tiba angin berhembus. Lambat-laun menerpa dan menggoyang. Pepohonan jadi sempoyongan. Dedahanan goyah. Dedaunan panik.

“Berjaga-jaga!” peringatan dedaunan.

“Eratkan ikatan kalian!” komando pokok pohon.

“Ya, ya! Tapi kami kekuatan kami terbatas!” sahut dedahanan.

Mereka bersusah payah mempertahankan rangkulan dedahanan mereka. Sayang sekali rangkulan mereka terlepas. Dedaunan tercerai-berai. Alhasil, bulan memanfaatkan peluang ini.

“Aku berhasil! Aku berhasil! Aku berhasiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil!” teriak lantang sang bulan mencekam malam setelah ia meraupi dirinya dengan darah beserta serpihan kemalangan pasutri itu. Ia tertawa terbahak-bahak di singgasananya. Ia mabuk tak terkata. Sebab, tadi-tadinya ia tak mengerti kenapa harus merengek-rengek.

Sementara keping demi keping daun berguguran di sekeliling pepohonan yang bungkam dalam duka sekaligus penyesalan paling dalam. Orang-orang masih melantunkan lagu pujian bagi sang ratu malam yang tengah berenang riang di genangan darah pasutri itu.

*******
babarsarijokja, 2002-2003

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 2:13 PM.