blog*spot
get rid of this ad
[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]
C
E
R
P
E
N

P
I
L
I
H
A
N

P
R
I
B
A
D
I
B
e
l
u
m

S
e
l
e
s
a
i

L
h
o

i
n
i

!!

MAAF DARURAT
Cerpen-cerpen ini
pernah dimuat
atau juga ikut
lomba/sayembara
(sering kalah aja!)


PERINGATAN
DILARANG
MENJIPLAK /
MEMUAT /
MENYADUR /
MENGGANDAKAN /
MENYIARKAN
TANPA IJIN
DARI PENULIS






















AGUSTINUS WAHYONO
berasal dari kampung
Sri Pemandang Pucuk
Sungailiat, Bangka
dan pernah mencicipi bangku
pendidikan Arsitektur di
Universitas Atma Jaya
Yogyagyakarta
[www.calonceritapendekis.
blogspot.com
]


=====================
JALINAN KISAH
=====================

ANTOLOGI PERTAMA
ANTOLOGI KEDUA
ANTOLOGI KETIGA
CERPEN MINI
BEDAH CERPEN
ESAI CERPEN
LOMBA CERPEN


* * * * * * *
ARSIP-ARSIP KASIP
* * * * * * *

=====================
JALINAN KATA
=====================

SAJAK SERIUS
SAJAK SLENGEKAN
SAJAK SAYANG
SAJAK PAMFLET

* * * * * * *

=====================
JALINAN KARYA
=====================

KUMPULAN KARTUN
KUMPULAN ILUSTRASI
GAMBAR OBLONG

* * * * * *

=======================
@2003 onoy budak bangka
[
ID YM : sayawahyono]
Jl. Batintikal 174
Sungailiat 33214
Bangka
[Bangka Belitung]
INDONESIA

Alamat e-mail :
sayawahyono
@yahoo.com

=====================















[Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Pribadi Agustinus Wahyono]

===============
:: JALINAN JIWA :: ===============
==> Nanang Suryadi
==> Kunti Hasto Rini
==> Hasan Aspahani
==> Qizink dan Dewi Laras Biru
==> Sihar Ramses Simatupang
==> Meli Indie
==> Ramon Damora
==> Pulung Amoria Kencana
==> Sazano
==> Indah Irianti Putri
==> Arwan dan Yulie
==> SN Mayasari H
==> Dobby dan Wida
==> Cecil Mariani
==> Moyank D.I.
==> Randu Rini
==> Adi Susilo Wibowo
==> Arwan Maulana
==> Idaman Andarmosoko
==> Adhika Ninus Annissa
==> Yulianti
==> wida sireum hideung
==> Bleem (e-nya 2 lho)
==> Edsen Medan
==> Tantry
==> Omprit Abrimanyun
==> Ventri Jatinangor
==> Ida Hongkong
==> ERIA
Masih Kosong, Anda berminat?


=====================
JALINAN LAIN
=====================
CYBERSASTRA
BUMIMANUSIA
SARIKATA
INFO CERPEN KORAN

* * * * * *

Name :
Web URL :
Message :






























| + Tuesday, December 19, 2006 + |

Debu-debu Bangunan
[dimuat di harian BATAM POS, 10 Desember 2006]

Matahari sudah tidak lagi melukisi bayang pepohonan liar memanjang hingga di tengah jalan baypass yang sedang saya lewati menuju proyek. Jalan selebar 8 meter masih tanah merah dengan dua jejak roda-roda yang mengeras. Seringkali sepeda motor, sedan, mobil kapsul berplat merah hingga truk-truk besar berkecepatan lebih dari 60 km/jam lalu-lalang, membuyarkan debu-debu yang lantas membungkus saya dan motor saya. Apa boleh buat. Sebab lokasi proyek berada di pertengahan jalan tersebut yang berjarak kira-kira 3 km dari indekos saya.

Saya ingin segera tiba di proyek, meski motor bebek 2 tak keluaran tahun 1975 saya menggelinding tertatih-tatih. Saya khawatir beberapa tamu dari pemerintah daerah bahkan direktur saya mendadak muncul di lokasi untuk meninjau proyek yang saya awasi sejak empat bulan ini. Jangan sampai orang-orang penting itu datang lebih dulu, lantas melihat saya sedang tidak berada di tempat. Bisa berakibat jera mempercayakan saya sebagai pengawas di proyek berikutnya. Bisa-bisa mempengaruhi perjalanan karier saya di saat usia saya baru kepala dua.

Ini proyek uji coba pertama saya. Selama bekerja di konsultan bangunan itu, saya berurusan dengan administrasi, kurir dokumen perencanaan, dan menagih uang kontrak melulu. Karena kekurangan tenaga pengawas lapangan, akhirnya saya yang ditugaskan.

Setiba saya di jalan masuk proyek, tidak terlihat mobil siapa-siapa. Aman, pikir saya. Kecuali sepeda motor bebek 4 tak baru, entah milik siapa. Kemudian saya parkirkan motor di kolong direksi keet, berdekatan dengan tumpukan semen. Tempat paling teduh sebab pepohonan telah disingkirkan oleh buldoser sewaktu pembersihan lokasi proyek, kendati kalau ada pekerja mengambil semen maka motor saya jadi berbedak debu semen.

Di pinggir halaman bangunan yang permukaan tanahnya masih telanjang dan tidak rata tampak Mandor Suryadi tengah bicara dengan seorang pemuda berjaket kulit. Keduanya berdiri dengan sikap kaku. Siapa pula pemuda itu, pikir saya. Tas saya geletakkan begitu saja di atas jok motor, saya bergegas menuju mereka.

Dari jarak 10 meter terlihat air muka Mandor Suryadi tidak menyuguhkan senyum khasnya. Sementara lawan bicaranya menampilkan kening berkerut dan bibir berkerucut. Saya mempercepat langkah hingga setengah berlari. Matahari menjilati kepala dan jaket saya.
“Ada apa, Bos?” tanya saya setelah berjarak kira-kira dua meter dari keduanya.
“Ini lho, Pak Oji. Mas ini minta aku tunjukkan gambar kerja. Padahal sudah aku bilang, gambar kerjanya dibawa bos pemborong tadi malam. Lagian bangunan kita ini kan tinggal dua puluh lima persen lagi rampung. Mas ini nggak percaya. Disangkanya aku bohong. Mau sumpah pocong, aku nggak takut!” jawabnya sambil menoleh ke arah saya. Posisi badannya tetap menghadap pemuda itu. Kicauan burung-burung liar terdengar sayup-sayup.

Saya percaya Mandor Suryadi tidak bohong karena semalam Mandor Suryadi mengirim SMS ke saya. Isinya, mau pinjam gambar kerja yang ada di tempat saya untuk menempatkan setiap titik kuda-kuda. Soalnya tadi malam bos pemborong berencana datang, mengambil gambar kerja untuk menghitung jumlah kayu gording, kayu usuk, reng, dan genteng. Tapi hari ini saya lupa membawanya gara-gara tergesa-gesa datang setelah rampung mencuci sekeranjang pakaian saya sendiri.

Saya berhenti di antara keduanya. Saya menatap pemuda itu. Kebetulan dia sedang menatap saya. Nyala matanya belum reda. Bibirnya menyeringai.
“Mas siapa dan dari mana?”
“Aku dari LSM. Abang siapa?”
“Aku pengawas pembangunan gedung ini.”
“Ooo… gitu.”
“Ya begitu. Mas dari LSM mana?”
“Abang tahunya LSM mana saja?”
“Lho, Anda ini payah. Ditanya kok malah balik nanya.”
“Pokoknya aku mau lihat gambar kerjanya. Apakah terjadi penyimpangan atau tidak. Titik!” tandasnya lantang sembari mengarahkan telunjuk ke tanah, dan melotot ke arah saya. Kuli-kuli yang sedang bekerja spontan berhenti. Mereka menoleh ke arah kami. Mata mereka mengarah ke kami satu persatu. Beberapa dari mereka segera bekerja lagi.
“Misal penyimpangannya apa, Mas?”
“Misalnya … bangunan mengalami retak-retak setelah beberapa bulan diresmikan. Padahal ini, kan, bangunan milik pemerintah daerah. Dananya dari duit rakyat. Itu pasti dampak penyimpangan ketika tahap pengerjaan.”
“Kenapa retak-retak?” tanya saya lirih sambil memutar kepala dan menyodorkan telinga ke arahnya. Sedangkan kedua tangan saya berada dalam saku depan jaket.
“Ya jelas akibat menyimpang!”
“Mas menguasai masalah mekanika bahan dan mekanika teknik, nggak?”
“Mmmm…” Mulutnya mengatup. Mata pun meredup. Dada mundur sepuluh derajat. “Lhooo… jangan cuma menjawab ‘mmmm’ kayak anak kecil mogok makan begitu dong. Menguasai, nggak? Kalau menguasai, kan kebetulan. Barangkali saja ada kesalahan pemakaian jenis atau ukuran bahan untuk struktur bangunan dalam gambar kerja. Kan bisa saja justru gambarnya yang salah, karena arsitek perencanaan memang bukan ahli struktur.”

Dia diam saja. Matanya mengarah ke mana-mana. Sikap kakinya sudah lentur bahkan bergerak-gerak tak menentu. Sikap berdiri Mandor Suryadi pun berubah. Kedua kakinya berposisi santai. Kedua tangannya bertekuk di dada. Air mukanya pun tidak tegang lagi.
“Kalau nggak menguasai, mending belajar berhitung dulu. Buka buku-buku teknik sipil, dan mulailah menghitung struktur. Kalau sudah yakin bisa, kembalilah ke sini. Pembicaraan kita pasti bakal bermutu. Di kantor kami banyak insinyur sipil. Mau belajar di sana, silakan. Baru kelak Mas datang ke sini lagi.”
“Pokoknya…” Nadanya menanjak.
“Ya pokoknya Anda harus nguasai itung-itungan dulu,” serobot saya dengan nada datar dan mengganti sebutan namanya. Nggak usah pakai “mas-masan” lagi, pikir saya.
Dadanya bergerak. Mulutnya menganga. Tapi kata-katanya tersangkut di leher.
“Oh ya, Anda dulu kuliah di jurusan apa? Sarjana apa?”
“Komunikasi. Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.”
“Oooo… cocok sekali Anda bekerja di LSM. Tapi di sini Anda salah jurusan. Coba dulu Anda kuliah di jurusan teknik sipil, kita bisa berdiskusi di sini. Saling belajar.”
“Emangnya Abang dulu kuliah jurusan apa?”
“Seni Tari di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.”
“Lho?”
“Hehehehe… Logikanya dipakai dong, Bung,” kata saya sambil tangan kanan menunjuk-nunjukkan pelipis saya sendiri. Mandor Suryadi tersenyum simpul.
“Sialan.”
Kali ini dia bisa tersenyum. Matahari kian membara di atas kami.

“Sudahlah. Mending Anda pulang dulu.”
“Okelah, Bang. Tapi aku mau ngambil beberapa foto dulu, ya?”
“O, silakan. Asal jangan ngambil sisa genteng atau semen di gudang sana.”
Dia menanggapi dengan senyum lebar seraya merogoh saku jaketnya. Sebuah kamera keluar tapi seutas pita tersangkut di situ. Ada nama sebuah koran lokal.
“Sialan! Anda rupanya wartawan ya!”
“Hehehehe… iya, Bang,” jawabnya dengan cengar-cengir seperti maling kepergok sedang mengangkuti jemuran orang, lantas mengeluarkan kartu persnya.
“Sialan. Mau main tipu-tipuan rupanya. Baru jumpa pertama sudah main tipu.”
“Sorry, Bang.”
“Sorry, sorry, sorry!” sergah saya dengan nada agak tinggi. “Aku kira Anda betul-betul dari LSM seperti dua orang yang kemari dua minggu lalu. Lagaknya ya macam Anda ini. Datang-datang minta diperlihatkan gambar proyek. Soal struktur saja nggak ngerti.”

Dia masih cengar-cengir. Mandor Suryadi ikut cengar-cengir.

“Lain kali hati-hati. Suhu di sini bisa mencapai 40 derajat celsius menjelang tengah hari. Kalau Anda nggak pandai-pandai bawa diri, jangan salahkan kawan-kawan kuli yang akan menjadikan diri Anda sebagai campuran bahan untuk pondasi pagar di ujung sana! Atau dikubur hidup-hidup di lubang bekas galian tambang rakyat di semak belukar itu. Daerah ini masih dikepung hutan belantara. Anda hilang, kawan-kawan koran Anda nggak tahu!”
“Sorry, Bang, sorry.” Wajahnya cengengesan.
“Jangan nipu lagi ya! Aku kenal bos koran Anda. Juga beberapa redakturnya. Aku bisa saja menghubungi bos Anda sekarang juga. Aku akan bilang bahwa anak buahnya di wilayah ini berbuat begini-begitu yang buntut-buntutnya minta duit. Aku bisa tulis surat pembaca dan kusebarkan ke koran-koran lokal. Tamatlah karier kewartawanan Anda!”

Badannya sedikit tersentak lagi ke belakang. Matanya melurus ke arah saya. Mungkin dia berusaha mengamati dan mengingat-ingat sesuatu. Mungkin dia merasa kami pernah bertemu di kantornya. Atau pernah melihat wajah saya muncul di korannya. Tapi mana mungkin. Saya tidak suka diri saya difoto oleh wartawan mana saja. Saya pun tidak pernah tampil di acara-acara besar. Entahlah. Yang jelas, matanya berusaha membedahku.

“Abang ini siapa ya sebenarnya?”
“Nah! Nah! Nah! Ini dia!” jawab saya sambil mengacungkan telunjuk lalu menggoyang-goyangkannya, dan kepala saya mengangguk-angguk. “Ternyata Anda tidak mengenal siapa aku. Gawat Anda ini. Padahal tulisan-tulisanku tentang bangunan dan pembangunan daerah selalu dimuat di koran Anda. Bahkan kantor pusat koran Anda di Pangkalpinang itu, siapa arsiteknya. Rumah bos Anda yang megah di dekat bandara Depati Amir juga. Rumah perempuan simpanannya yang di kawasan wisata Pasir Padi juga.”
“Wah! Wah! Wah! Abang ini ternyata tahu banyak luar-dalam bos kami. Padahal aku sendiri tidak tahu apa-apa. Hebat nian bos kami nyimpan rahasia.”
“Tentu saja, Dul. Anak buahnya hanya mau tahu beres. Apa-apa terjamin.”
Dia tersenyum lebar hingga memamerkan gigi depannya yang tidak lengkap lagi. Mandor Suryadi ikut tersenyum. Barangkali burung punai di persembunyiannya pun tersenyum. Kecuali matahari yang semakin beringas membakar kami.
“Kalau aku butuh gadis penghangat ranjang malamku, bos Anda segera menyediakan. Seketika itu juga! Gadis-gadis dari kantor Anda sendiri. Cantik-cantik, seksi-seksi, dan permainan mereka, waow!” seru saya sambil menyapukan lidah di bibir kering saya, dan mengacungkan jempol. “Hot! Bikin ketagihan!”

Dia tidak menimpali, tapi berpaling sejenak ke arah bangunan yang menunggu pengerjaan struktur atap itu. Lalu menghadap saya lagi, dan menanyakan nama saya.
“Namaku Saroji. Ingat ya. Sa-ro-ji! Bos Anda mengenal nama pendekku, Oji!”
“Oooo… ini rupanya Bang Oji itu! Waduh, baru kali ini aku bisa ketemu langsung dengan penulis yang sangat digandrungi staf-staf wanita di kantor kami, termasuk wanita setengah baya di bagian dapur.”
Sialan, maki saya dalam hati. Maaf-maaf saja. Biar tampang saya serampangan begini, saya masih gampang memilih. Tidak sembarangan!
“Namaku Aleksander, Bang. Cukup panggil Alek. Biar jelek tapi intelek, kata orang,” ujarnya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.
Segera saya sambut jabat tangannya. Saya mengerti betapa pentingnya arti persahabatan dengan media massa, khususnya koran lokal. Jika ada wartawan yang dianggap cuma menyebarkan gosip murahan, terutama oleh kalangan selebritis lokal atau public figure, sebenarnya konsekuensi logis bagi ‘korban gosip’. Perilaku yang baik dan bersahabat, mana mungkin menjadi bahan berita gosip buruk. Itu menurut prasangka saya saja.
Beberapa kuli melihat adegan jabat tangan kami. Ada yang tersenyum. Ada yang saling menatap sambil cekikikan. Ada yang sama sekali tidak berekspresi. Yang lainnya tidak peduli, kecuali tetap sibuk melakukan pekerjaan mereka.
“Sorry lagi, Bang. Aku mau motret proyek Abang. Sebentar saja. Dua-tiga jepretan,” sela wartawan itu, lantas tergesa-gesa melangkah ke tempat yang diperkirakannya memiliki sudut pandang yang bagus. Mungkin lumayan jadi berita, kendati gagal mendulang duit.

Mandor Suryadi menatap saya. Kedua tangannya telah dimasukkan ke saku depan celananya. Senyum khas kembali melaburi wajahnya.
“Terima kasih, Pak Oji. Untung ada Bapak. Kalau tidak, kami bakal tambah tekor. Minggu lalu harus bongkar dinding yang kurang rapi. Juga ganti kusen depan yang ukurannya lebih kecil lima centi. Bisa-bisa tadi duit bos kami melayang dua juta.”
“Ya, sama-samalah, Bos. Kita, kan, harus bekerja sama di proyek ini. Saling bantu. Tahu sama tahu. He he he he… Yang penting bagaimana lancarnyalah, Bos.”
Kemudian kami berjalan menuju tempat wartawan yang tengah sibuk mengambil obyek. Jarak antara kami dan wartawan itu sekitar 30 meter. Kami harus tetap mengawasi gerak-geriknya. Jangan sampai justru dia yang melakukan penyimpangan.

Selama perjalanan jarak pendek Mandor Suryadi mengungkapkan bahwasannya semalam bos pemborong tidak jadi datang. Kabarnya, bos pemborong sedang sakit gigi. Mungkin giginya harus dicabut lagi. Mungkin kini giginya menyisakan dua geraham belakang. Jadi, gambar kerja masih di ruang Mandor Suryadi, kesimpulan saya. Berarti sumpah pocong tadi cuma trik tradisional untuk menggertak lawan bicara. Sialan!

“Oh ya, ini untuk Bapak. Sekedar mempererat kerja sama kita,” katanya sembari merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu, lalu menyelipkannya di saku depan celana saya. Ini kali ke-18 saya menerima ‘bonus’ di proyek.
“Terima kasih banyak, Bos.”
“Sama-samalah, Pak Oji. Sama rata, sama rasa. Ha ha ha ha…”
“Ha ha ha ha ha…”

Saya dan Mandor Suryadi terus melangkah menuju wartawan muda yang sedang sibuk memotret. Satu-dua perkutut liar melintas di atas kepala kami. Sesekali angin kencang menerpa, menghamburkan debu-debu dari tanah telanjang di sekeliling kami. Tak pelak kami harus menutup mata dan hidung dengan telapak tangan. Resiko yang sering kami alami.

“Tadi nama Bapak kok berubah jadi Saroji? Seingatku, Bapak bernama Maroji seperti yang pernah kutengok di kartu nama Bapak dulu. Gelar Bapak Sarjana Muda Pariwisata, kan?” bisik Mandor Suryadi manakala kami kian mendekati wartawan itu.
“Sssstt, nama Saroji dan Maroji beda-beda tipis, Bos. Sama-sama Oji,” balas bisik saya. “Aku tahu nama Saroji dari pergunjingan kawan-kawan insinyur di kantor.”***

Kobatin, awal Oktober 2005

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 10:35 AM.


Cinta itu Coitus ?
dimuat di Harian Batam Pos, 13 Agustus 2006

Aku berasal dari sebuah kampung temaram yang sedikit agak tersingkir dari kemeriahan kota yang berkubang sinar pelangi malam hari. Setiap melihat atau mendengar secuil saja hal yang baru bagiku, sontak mataku terbelalak, mulutku menganga. Aku sering digelari kawan-kawan baruku, "Orang udik yang heran melihat peradaban mutakhir". Ada yang menyingkat, "Orang heran". Disusul tawa terpingkal-pingkal. Tentu saja aku hanya bisa merespon dengan pipi sewarna tomat matang. Apa daya, mungkin mereka benar.

Belum sampai lima kali kalender berganti aku berada di daerah yang agak bermandi pelangi elektrik ini. Dibanding kampung asalku, daerah yang baru kutinggali ini lebih sering diocehi orang-orang, klakson, knalpot, mesin kendaraan dan sirine. Bahkan omelan itu berhamburan setiap hari, terlebih saat jarum jam hinggap di angka 7, 8, 11, 1, 2, 7, 8. Pada awal aku tinggal di situ, aku sering terbangun. Dadaku berdetak lebih kencang beberapa detik dari biasa. Tanpa ada apa-apa, alam bawah sadarku merekam ocehan-ocehan itu hingga sekonyong-konyong membuncah pada saat rembulan tiga perempat baya.

Setiap kejadian seperti itu, seketika kantukku melesat tanpa alamat. Kucari di lipatan diktat, kusingkap di balik selimut, kusibak di kelopak mataku, tetap saja kantuk itu sudah tak berbekas. Terpaksa aku seperti kera kehilangan ekor. Efeknya, kawan-kawanku cekikikan di kamar mereka. Cekikikan? Ya, dari sebelah kamar kosku pada suatu malam.

"Makanya, Ji, jadi laki-laki musti punya perempuan. Contohnya kami ini."
"Untuk?"
“Ya untuk kalau tiba-tiba kau terjaga semacam itu?”
“Lantas?”
“Ah, kau ini udik betul, Ji Oji. Memalukan pergaulan. “
"Iya tuh, dasar udik kawanmu! Mana bisa hidup di kawasan berkelimpahan lampu!”
“Sssst.., jangan heran, my sweetheart, si Oji memang orang udik, orang heran!”

Aku tersipu oleh sapuan kata-kata itu. Gadis di sebelah kawanku tersenyum terus. Entah sudah terhitung berapa malam gadis itu mengungsi ke kamar kawanku (Mungkin kamar kos gadis itu tiba-tiba diterjang tanah longsor, angin topan, banjir bandang, badai besar, angin bahorok). Entah sudah terhitung berapa kali pakaian dalamnya dijemur di jemuran kami (Aku yakin itu punya dia, karena warnanya merah muda, berenda-renda dan bordir bergambar Desy bebek sedang tertawa ngakak). Entah sudah atau belum kawanku melapor ibu kos kami yang rumahnya di belakang kos kami. (Apa gunanya melapor?)

“Oji, kau sudah pernah pacaran?”
“Sudah. Tapi pacarku ada di kampung." (Aku memang punya pacar. Sungguh).
“Sudah pernah bercinta?"
“Ya jelas. Kami kan saling mencinta.” (Suaraku mantap!)
“Wah, ini dia! Suit suiiiiiiit!”
“Rupanya boleh juga kawan udik Mas ini. Agak sedikit lumayan modern deh.”
“Bercinta begini? Make love?" Kawanku menyelipkan jempolnya di sela pangkal jari telunjuk dan jari tengah. Aku mengerti apa arti simbol itu sejak dari kampungku.
“Bukan. Orangtuaku bilang, sebelum nikah resmi, begituan itu zinah, zinah itu dosa, dosa bakal dihadiahi belerang membara abadi. Masuk neraka." (Seperti juga kata guru agama dan budi pekerti di sekolah dasarku dulu. Ajaran guruku mirip kata-kata orangtuaku)
"Tertipuuuuuuuu!”
“Idiot sekali!”
“Ru-gi, you know!” (Pacar kawanku ikut-ikutan menimpali sambil tersenyum lagi)
“Betul-betul udik! Heran. Engkau tergolong orang-orang merugi, wahai myfriend.”

Aku tersipu lagi. Aku orang merugi? Apakah akibat orangtuaku dan guru agamaku yang membuat perintah keliru, kadaluarsa, kuno, tidak up to date? Perintah ngawur? Apakah juga suatu perintah moral harus dikeluarkan setelah melalui proses studi lapangan di lingkungan anak-anak muda lainnya? Aku tidak habis mengerti atas perbedaan ini.

“Eh, Oji orang heran. Camkan, baik-baik ya. Jaman kini cinta itu coitus.”
“Coitus? Cinta itu coitus?”
“Iya. Coitus itu cinta. Cinta tanpa coitus, itu bukan cinta. Cuma kawan bersapa.”
“Coitus itu apa?" (Kata coitus tidak pernah ada dalam perbincangan orang-orang kampung kami, tidak diajarkan di sekolah hingga kini aku berkuliah di fakultas Ekonomi)
“Ya seperti ini.” (Pacar kawanku memperlihatkan dua jarinya bertemu ujung membentuk lingkaran lalu jari telunjuk satunya masuk di tengah lingkaran kosong itu. Aku tahu apa arti simbol itu dari kawan-kawan kampungku).
“Kamu tahu artinya? Ihik lho.”

Oh! Aku terperanjat. Setahuku, di kampung kami, para perempuan tidak seenaknya seperti pacar kawanku itu. Tidak senonoh. Saru. Tabu. Porno. Bejat. Cabul. Pokoknya bisa disebut perempuan nakal. Bahkan kakak perempuanku, adik perempuanku, anak tanteku dan keponakan perempuanku tidak satu kali pun kulihat berbuat seperti itu. Apa mungkin keluargaku dan kampungku termasuk salah mengamalkan perintah? Aha! Mudik hari raya nanti aku akan bilang ke keluarga dan orang-orang kampung kami, bahwa ada perintah baru di tempat lain yang sesuai peradaban masa kini. (Mereka pernah bilang aku ini pembaharu).***

bumiimajibabarsari, 6 november 2003

>> dipajang oleh:agustinus pada pukul 9:06 AM.